“ICMI Kembali Ke Kampus”, Arah ICMI Dibawah Kepemimpinan Prof Dr. Jimly Asshiddiqie

Esok hari Rabu, 10 Februari 2016 / 29 Rabiul Akhir 1437 H, adalah bertepatan dengan momen perhelatan akbar   pengukuhan Pengurus Pusat ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia), yang kemudian akan   dilanjutkan dengan  Rapat Kerja Nasional ICMI, maka penting  kiranya  bagi redaksi Studi Wawasan Islam (SWI) menyuguhkan artikel “Visi ICMI kembali ke Kampus” dengan  nahkoda  Prof.Jimly Asshiddqie kedepan  mengutip wawancara Republika dengan beliau, saat baru terpilih  sebagai Ketua  Umum yang dimuat dalam Koran Republika ‘Islam Digest’, edisi Ahad (03/01/2016).

Penjabaran beliau selaku Ketua Umum ICMI periode 2015-2020 selayaknya perlu diperhatikan oleh para aktivis mahasiswa Islam, menyoal bagaimana entitas kampus beserta dunia aktivisme intelektual menyambut gaung spirit ICMI kembali ke kampus


Muktamar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) usai digelar awal Desember 2015 lalu. Banyak pembaruan yang akan dimunculkan di tubuh ICMI pascamuktamar, baik struktur internal maupun program ke depan. Di bawah kepengurusan baru ini, ICMI hadir dengan gagasan kembali ke kampus.

“ICMI adalah organisasi intelektual. Karena itu, dia harus dekat dengan kampus atau universitas,” kata Ketua Umum ICMI Prof Jimly Asshiddiqie.

Upaya ini dimaksudkan untuk mengembalikan wibawa kampus sebagai rumah kaum cendekiawan.

Kampus harus memiliki kontribusi nyata dalam proses pembangunan dan kemajuan bangsa. Adapun yang tidak kalah penting, ICMI juga menggagas ‘gerakan kewirausahaan Muslim, ‘pemberdayaan daerah, serta ‘dialog antarperadaban. Berikut petikan wawancara Republika dengan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini selepas acara Refleksi Akhir Tahun ICMI di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, pada Rabu (30/12/2015).

Apa saja pembaruan yang akan dilakukan oleh kepengurusan ICMI yang baru?

Kita akan ada program baru. Pertama, lebih kembali ke kampus. Kembali ke kampus itu tercermin dalam Orsat (organisasi satuan). Orsat harus ada di kampus, harus ada di Masjid Kampus. Di mana ada Masjid Kampus di situ kita bikin Orsat. Tentu dengan syarat-syarat tertentu. Kita bicara dengan Rektornya dan sebagainya. Karena itu, koordinasi kampus ini salah satu core-nya di orsat itu. Orsat jangan di RT/RW, jangan di kecamatan, pokoknya di Kampus. Harus ada kegiatan rutin, ngaji, circle QS (Quran dan sains). Semua Guru Besar dari berbagai bidang ilmu mengkaji itu. Partisipasi.

Mendiskusikan Quran dan sains. Terus, itu juga nanti, kalau ICMI-nya aktif, dia juga bisa mendiskusikan konsep-konsep pembangunan nasional. Dari Kampus masing-masing itu menyuarakan usul-usul alternatif kebijakan untuk pemerintah. Alternatif pemerintahan untuk Kabupaten-Kota. Universitas tidak semuanya di pusat.

Di daerah-daerah ada Universitas, yang nanti bisa menyumbang bagi konsep-konsep pembangunan di daerah. Itu dikoordinasi nanti oleh Majelis Pembangunan Daerah.

Mereka bersama-sama mengusulkan konsep-konsep pembangunan daerah. Dengan begitu, kita mau mengembalikan wibawa Kampus itu. Kampus sebagai pusat unggulan, bukan hanya sumber daya manusia, melainkan juga pemikiran.

Kita ingin menjadikan ICMI itu jadi integrator bagi kemajuan daerah. Karena itu, Majelis Pembangunan Daerah itu mau kita efektifkan. Gubernur, Walikota, dan Bupati yang afiliasinya ke anggota ICMI kan banyak. Nah, itu nanti kita dorong mereka mengkomunikasikan ide-ide, kebijakan, dan pilot project, termasuk tadi proyek pembangunan ‘Desa Madani.

Nah, itu yang mau kita gerakkan sehingga ICMI itu bukan hanya pemikiran, melainkan juga ada program aksi. Salah satu  contohnya, Desa Madani.

Kedua, kita mau membangun ‘gerakan kewiraswastaan’. Sebab, jangan sampai kita hanya selesai dengan instrumen keuangan syariah, tapi tidak ada yang memanfaatkannya menjadi pengusaha-pengusaha di lingkungan dunia Islam. Itu tidak komprehensif pembangunannya.

Sebab, kemajuan ekonomi rakyat itu tidak bergantung hanya faktor uang. Kalau bank syariah itu kan hanya faktor uang, faktor manusianya? Faktor penguasaan sumber dayanya? Jadi, memang kita perlukan juga kaderisasi entrepreneurship, kewiraswastaan, kewirausahaan.

Ketiga, kita mau membangun komunikasi antaragama dan komunikasi antarperadaban.

Akhir-akhir ini dunia Islam sedang dihadapkan pada tantangan yang sangat berat dan turut berimbas ke Indonesia yang memicu potensi konflik internal umat. Itu pasti nanti berakibat juga ke antarumat.

Karena itu, Indonesia harus mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan semacam itu.

Termasuk di Asia Tenggara. Kemarin sudah datang sama saya beberapa tokoh dari Malaysia. Saya perkenalkan, kita harus membuat juga ICMI Asia Tenggara.

Kaum intelektual di Malaysia juga perlu kita ajak  karena  kawasan Asia Tenggara ini akan menjadi pusat peradaban Islam pada masanya. Nah, jadi kita memulai kegiatan regional juga untuk mengembangkan kegiatan cendekiawan di Serantau. Itu hal-hal yang ingin kita gerakkan sambil memperbaiki struktur organisasi. Karena selama ini tidak ada ketua Umum, sekarang ada Ketua Umum.

Dan tentu ini tercermin di seluruh Indonesia.

(ICMI di) seluruh Indonesia juga harus tercermin dengan program yang berubah.

Milad ICMI

Apa yang menyebabkan adanya perubahan struktur internal dari Presidium ke Ketua umum?

Ini sistem kepengurusan kembali ke sistem lama. Ketika Pak Habibie dilanjutkan Pak Adi Sasono menjadi Ketum pada periode-periode awal. Ya karena selama ini … saya tidak tahu, peserta muktamar itu yang mengusulkan supaya ada Ketua Umum dan Pak Habibie juga sudah tidak keberatan seperti dulu. Sekarang dia setuju ada Ketua Umum dan kemudian saya mendukung Pak Sugiharto ini (mantan Presidium ICMI 2010- 2015), tapi ternyata dia, dukungan kepada dia tidak masuk tujuh. Malah saya, padahal saya dukung dia. Dia nomor 10.

Nah, jadi ya sudahlah kita ambil tanggung jawab. Lho, saya kan banyak kegiatan, tapi oke kita gerakkan.

Dan Pak Habibie saya tanya, Pak Habibie puas, dia senang. Dia punya harapan bahwa ICMI bangkit lagi. Dan kita juga akan kolaborasi, Pak Habibie itu nanti mengembangkan yang internasional. Nanti kalau tambah satu lagi nanti Asia Tenggara. Saya sudah bicara dengan beberapa Guru Besar di Malaysia. Kita bikin Ikatan Cendekiawan Muslim Asia Tenggara. Jadi, kita punya gerakan bukan hanya nasional, melainkan juga regional. Itu yang kita mau gerakkan.

Era 1990-an, ICMI bergerak di ranah politik. Sekarang mulai masuk ke sosial kemasyarakatan. Mengapa, apa harapannya?

Ya. Karena saya sejak awal ikut di dalam gerakan ICMI ini, saya tahu, ketika organisasi-organisasi Islam tidak bisa mengambil peran politik pada akhir Orde Baru, ICMI yang memainkan peran itu. Ya, kan?

Tapi, sesudah reformasi kan partai sudah banyak. Dulu partai kan cuma ada tiga, orang kalau mau masuk ya harus ke Golkar. Kalau PPP sama PDIP itu kan “mainan” saja.

Sebenarnya partai cuma satu. Itu cuma sayap kanan sayap kiri. Nah itu, sesudah Reformasi partai politik sudah bebas. Maka semua orang yang punya aspirasi politik, termasuk orang Islam, ada partai Islam. Malah sekarang ini yang Islam sosiologis ada PAN, PBB, PKB, PKS, jadi ICMI tidak usah lagi main peran politik. Apalagi, di ICMI itu bukan hanya partai Islam. Kan ada juga orang PDIP di ICMI sekarang.

Malah kita akan minta itu Ketua Umum alumni GMNI, tokoh PDIP, juga jadi pengurus. Banyak intelektual ICMI dari PDIP juga. Sehingga, kita tidak lagi memilah-milah nasional dan Islam. Dua-duanya nasionalis.

Selama dia beragama Islam, dua-duanya Islam juga. Nah, jadi Islam dan nasionalisme itu, Islam dan  kebangsaan, jangan lagi dipertentangkan.

Apalagi, kalau awal Orde Baru dulu, Islam dan Pancasila dipertentangkan. Sehingga, kalau orang itu di kantor dia shalat dibilang tidak Pancasilais. Jadi, orang takut shalat di kantor. Kalau orang itu salam dan makhraj-nya bagus sekali, Islam sekali, orang takut juga. Assalamualaikum dipletet-pletetin, assalamualaikum warohmatulohi. Sebab, kalau makhraj-nya terlalu ini, wah itu terlalu Islam, itu pasti anti-Pancasila. Itu tahun 1970-an itu begitu.

Bagaimana dengan jilbab? Pertama kali ada anak SMA pakai jilbab dikeluarkan dari SMA oleh Kepala Kanwil DKI. Dipecat, yang pakai jilbab tahun itu. Jadi, ada perubahan, Islam dan kebangsaan jangan lagi dipertentangkan. Tidak relevan lagi. Maka, orang PDIP itu banyak juga di sini. Gitu lho sehingga ICMI tidak boleh lagi, tidak dapat boleh serta mengambil peran politik. Kita ke Kampus. Kita urusan kita di kampus.

Mengelaborasi gagasan kembali ke Kampus, strategi apa yang akan dilakukan ICMI?

Kita punya Majelis Pendidikan Tinggi.

Majelis ini kita bentuk, nanti dibawah koordinasi Waketum Prof Herry Suhardiyanto (Rektor IPB 2012-2017), dimaksudkan untuk memfasilitasi upaya ICMI kembali ke Kampus.

ICMI adalah organisasi intelektual. Karena itu, dia harus dekat dengan Kampus atau Universitas.

Termasuk, orsat tidak boleh kita sebar di RT/RW kayak Partai. Nanti menjelang Muktamar orang mendirikan orsat di mana-mana. Nanti kita akan tertibkan. Basis kegiatan ICMI ya di Kampus. Ada sekitar 4.000 Universitas Negeri dan Swasta. Itulah lahan dari kegiatan kaum cendekiawan. Setidaknya di Masjid Kampus-Kampus harus ada orsat, yang di sana nanti bikin pengajian atau circle QS (Al-Quran dan sains), di situ tempat ngaji.

Ngaji Al-Quran dan ngaji sains.

Jadi, kaum intelektual Muslim itu harus menghubungkan antara ‘IPTEK’ (Ilmu Pengetahuan & Teknologi) dan ‘IMTAQ’ (Iman & Takwa)

Itu tema ICMI sejak 1990-an. Sekarang, tema Iptek sudah dilupakan orang, Imtak pun sudah dilupakan orang. Semua orang sibuk berdemokrasi, berpilkada, sibuk berebut kekayaan dan berebut jabatan dalam demokrasi sehingga lupa dengan isu-isu yang digerakkan untuk menjadi awal mula bangkitnya kesadaran reformasi. (Yaitu), Imtak dan Iptek. Itu tema kita.

Mana pidato-pidato pejabat bicara soal Imtak? Nggak ada lagi, apalagi Iptek. Kata Iptek itu sudah dilupakan orang. Kampus pun sekarang sudah dilupakan orang. Rektor dan mantan Rektor zaman Orba, wah, punya harganya secara politik tinggi. Sekarang tidak lagi, kecuali yang punya afiliasi ke Partai politik. Jadi, semua pertimbangan kemuliaan sekarang ini didominasi politik.

Nah, kembali lagi kita mau  membangkitkan ini  kesadaran kaum intelektual Indonesia.

Perguruan tinggi itu sumber pencerahan moral dan intelektual.

Ketum ICMI

Seperti apa identitas keislaman ICMI?

Jadi, soal kita kan keislaman, kecendekiawanan, dan keindonesiaan. Lalu, tema program kita Iptek dan Imtak. Long march 5-K. Nah, itulah program-program kita. Jadi, kualitas Imtak, kualitas Iptek, kualitas kerja, kualitas karya, dan kualitas hidup. Inilah orientasi program-program ICMI. Maka, semua relevan dengan organisasi Islam manapun. Ya Muhammadiyah, ya NU, Sarekat Islam, Persis (Persatuan Islam), semua relevan dengan tema-tema yang dikembangkan oleh ICMI. Ya, dan mengenai identitas-identitas Islam, tidak usah kita terlalu risau.

Mengapa muncul ide Islam Nusantara, ada tekanan globalisasi gerakan-gerakan Islam. Gerakan-gerakan, yang kalau dulu pan-Islamisme, internasionalisme Islam, ini direaksi dengan munculnya nasionalisme keagamaan. Ini soal aksi reaksi saja. Ndak usah dianggap terlampau serius. Itu cara orang Indonesia ingin mengekspresikan identitas yang berbeda dengan apa yang terjadi di Timur Tengah. Gitu kira-kira. Maka istilah `Islam Nusantara’ maksudnya demikian.

Kalau Muhammadiyah, Islam berkemajuan.

Kalau NU dan Muhammadiyah kumpul, Islam Nusantara-berkemajuan.

Saya waktu kemarin ceramah di Malaysia dalam Festival Masjid Asia Tenggara, saya katakan Asia Tenggara ini Nusantara, Islam Nusantara juga. Tapi, ini bukan dalam konteks identitas budaya, melainkan konteksnya teritorial. Jadi, kita tidak usah terpaku pada istilah-istilah itu. Tapi, yang jelas, Islam adalah Islam. Islam agama damai. Islam agama universal. Universalisme Islam tercermin dalam ajaran rahmatan lil alamin. Kita harus tampilkan wajah rahmatan lil alamin  dengan  semangat Iptek dan Imtak. Nah, itu tema kita.

Seperti apa nilai strategis ICMI di tengah kondisi bangsa sekarang?

Punya. Karena di sini berkumpul kaum cendekiawan bebas semua aliran. Kalau  partai itu kan hanya  ngerumpi sesama mereka, dia tidak punya tempat bertemu dengan bebas membicarakan hal yang lebih luas. Kalau di sini semua partai kita ajak. Lupakan partai Anda, kita bicara pembangunan bangsa dan negara. Strategis sekali.

Apa gagasan-gagasan utama Prof Jimly yang mungkin akan dielaborasi di ICMI?

Sambil jalan saja. Ide itu banyak sekali.

Problem kita ini bukan soal ide. Ya, ide-ide besar itu sudah bertebar, ya dikemukakan dalam banyak buku, dikemukakan dalam banyak seminar. Yang kita ini tidak punya ialah kemampuan mengintegrasikan dan mengoordinasikan semua ide yang bagus- bagus itu menjadi aksi.

Nah, menjadi aksi nyata itu yang menjadi problem yang utama. Kalau ide banyak sekali.

Buku saya sudah 47 jumlahnya. Semua buku saya kaya dengan ide-ide, yang menurut saya sebagian besar itu baru-baru, jadi problem kita ini bagaimana implementasinya. Nah itu. Jadi, nanti sambil jalan, kita lihat ICMI berkembang, pasti nanti ide dari semua ahli- ahli dari seluruh Indonesia ini banyak sekali.

Saya tidak ingin memonopoli sendiri dengan ide saya. Pak Sugiharto ini banyak sekali idenya, tapi kan belum terlampiaskan dan belum terimplementasikan. Nanti sambil jalan saja. Sekarang kita rujuk saja apa yang sudah diputuskan di Muktamar kemarin.

 

(Ed : Tori  Nuariza)

*** Dimuat dalam  Koran  Republika Edisi ‘Islam Digest’  Ahad, 03 Januari 2016

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/koran/islam-digest-koran/16/01/03/o0dtps1-icmi-kembali-ke-kampus

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: