Fenomena Sastra Islam: Perkembangan Sastra Islam dan Perannya Dalam Pusaran Arus Zaman

Muhammad Reza Santirta. [Pegiat Studi Wawasan Islam]

Sastra dan kehidupan sosial merupakan dua tarik ulur yang tidak dapat dipisahkan. Mereka bagaikan ‘saudara kandung’ karena dalam karya sastra, terdapat aspek sosial sebagai objek penulisannya. Kehidupan masyarakat dan problem sosial yang melingkupinya dapat dituliskan dalam berbagai bentuk seperti penokohan yang merupakan simbol kehidupan masyarakat atau sosial yang melingkupi diri pengarang, seting tempat yang mempunyai hubungan dengan lokasi di mana masyarakat dan segala problem kehidupannya bertopang, seting suasana di mana masyarakatnya memberikan warna kehidupan terhadap kehidupan sosial sehari-hari mereka, seting waktu di mana suatu peristiwa kehidupan sosial terjadi, tema yang menyangkut segala aspek kehidupan sosial, dan lain-lain. Semua itu dapat tergambarkan dalam karya sastra.

Sebagaimana dikatakan oleh Ali Hasjmy (Helvy Tiana Rosa 2010: 7), karya sastra menggambarkan suatu keadaan masyarakat, juga melukiskan jiwa dan pribadi sastrawan atau pencipta karya itu. Apa yang dilukiskan dalam karya sastra merupakan gambaran tentang kehidupan masyarakat. Sastra mengkonkretkan apa yang ada di sekitar diri pengarang dan apa yang ia pikirkan, rasakan, serta renungkan. Pengarang tidak dapat lepas dari pengaruh problem sosial di kehidupan masyarakat. Berdasarkan pemaparan tersebut, sastra dapat berpotensi membangun, memberi kritik, sekaligus menjelaskan. Hal itu dapat dilakukan oleh pengarang berdasarkan tujuan penciptaan dan pola kepengarangan. Pengarang perlu memberikan gambaran konkret tentang kehidupan sosial.

Selama kurun waktu yang telah dilalui bangsa Indonesia, bangsa ini telah melalui masa-masa yang penuh dengan konflik dan kedamaian. Setiap permasalahan terjadi karena peran masyarakat yang melingkupinya. Masa-masa tersebut di antaranya: masa penjajahan (abad ke-15-1945), masa Agresi Militer Belanda I dan II (1947 dan 1949), pembentukan RIS (1949-1950), masa parlementer (1950-1959), Demokrasi Terpimpin (1959-1966), Orde Baru (1966-1998), hingga Orde Reformasi (1998-sekarang). Masyarakat diyakini sebagai aktor intelektual dalam membangun sejarah Indonesia. Peran mereka dibangun dengan pemikiran dan kesadaran akan kondisi Indonesia yang mengalami pasang surut cobaan kehidupan.

Peran mereka di antaranya adalah para sastrawan. Menurut Damhuri Muhammad (2010: 15), penciptaan karya sastra dihasilkan oleh ekspresi imajiner yang bersifat muktasabah. Hal tersebut dapat dikembangkan dari eksplorasi dan kepekaan ‘mata intuisi’ sehingga mampu memberi respon seperti mendobrak, meruntuhkan, atau melahirkan etos perlawanan terhadap kondisi zaman. Peran para pengarang tersebut dapat dilihat dalam beberapa karya yang di antaranya Donyane Wong Culika (Suparto Brata), Pengakuan Pariyem (Linus Suryadi AG), Siti Nurbaya (Marah Rusli), Drama di Boven Digoel (Kwee Tek Hoai), dan lain-lain merupakan beberapa karya sastra yang dapat mendobrak zaman karena persebaran nilai-nilai perjuangan mereka. Hal tersebut dapat dijelaskan melalui proses kreatif untuk dapat menjelaskan ide-ide yang melatarbelakangi kepenulisan mereka. Proses kreatif ini bukan hanya sekedar eksplorasi estetik yang memberikan suatu eforia atau kesenangan, melainkan etos perjuangan untuk menyebarkan nilai-nilai kebenaran.

Hal tersebut dapat dilihat dari peran karya sastra yang mengusung nilai-nilai Islami. Sastra Islami diciptakan sebagai langkah untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat akan kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman. Maka, tujuan ‘amar ma’ruf nahi munkar merupakan suatu hal yang penting sebagai bagian dari kesadaran berfikir. Menurut Rahmadiyanti (redaktur majalah Annida), perkembangan sastra Islami bermula dari penerbitan buku karya Helvy Tiana Rosa yang berjudul Ketika Mas Gagah Pergi (Annida, 1997). Majalah Annida menjadi barometer perkembangan sastra Islami yang paling awal sejak masa reformasi yang mana di masa itu sastra yang bernilai islami sangat terbatas jumlahnya. Perkembangan selanjutnya diikuti oleh Penerbit Syamil (Bandung), Mizan (Bandung), Hikmah (Jakarta), Senayan Abadi (Jakarta), dan lain-lain.

Sebagai kritik, menurut Damhuri Muhammad, sastra yang mengusung nilai Islami hanya menjadi jalan (wasilah) untuk meraih tujuan (ghaayah). Hal ini menyebabkan munculnya orientasi sastra bagi pengarang tersebut sebagai medium untuk meraih tendensi dakwah. Eksistensi sastra bermutu sebagai sastra yang dapat membangun karakter pembaca melalui nilai-nilai yang diusung, dimanfaatkan oleh para pengarang sastra ‘islami’ untuk menunjukkan nilai-nilai Islam kepada pembaca. Hal ini dapat dilihat dari aspek sastra sebagai bermanfaat atau memberi pengetahuan. Namun, pola penyampaian yang cenderung pada dogma atau penanaman keyakinan secara saklek terhadap nilai Islam kepada pembaca, menyebabkan karya tersebut menjadi terkesan kaku dan normatif daripada galian eksplorasi estetik dan daya jelajah tematiknya (Damhuri Muhammad, 2010: 17).

Fenomena tersebut tampak pada beberapa novel karya sebagian besar pengarang jebolan Komunitas Kuas Pena. Salah satunya Habibburahman El-Shirazy yang telah memunculkan novel-novel seperti Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih I dan II, Bumi Cinta, Cinta Suci Zahrana, dan lain-lain. Penciptaan tokoh secara karakter memberikan daya tarik tersendiri terhadap pelukisan atau gambaran kehidupan dan perjuangan mahasiswa Muslim Indonesia di Kairo (sebagaimana penggambaran yang dilakukan oleh Kang Abik). Tokoh ini digambarkan sebagai manusia yang sempurna seperti tanpa cela dan menunjukkan keimanan sebagaimana keinginan pengarang. Namun, penggambaran yang cenderung utopis tersebut dimaksudkan sebagai dakwah kepada pembaca. Meskipun menyampaikan nilai-nilai Islam seperti kebaikan, keshalehan, kemandirian/keistiqamahan, dan lain-lain tetapi pola penceritaannya cenderung menggurui, penanaman keyakinan kepada pembaca, dan populis. Disebut populis karena mengikuti selera pasar di mana novel-novel tersebut selalu mengusung kisah romantis antara tokoh pria dengan tokoh wanita. Hal tersebut tidak lepas dari beberapa novel bertema cinta yang memfokuskan target pembaca pada para remaja.

Novel-novel tersebut di antaranya pada karya seperti Cintaku di Kampus Biru, Pupus, Perahu Kertas, Refrain, Eiffel I’m in Love, Lost in Love, dan lain-lain. Semua itu tidak lepas dari keinginan pengarang untuk memuskan hasrat ‘seksual’ pribadi mereka. Namun, kelanjutannya menyebabkan ceritanya cenderung ‘lebai’ karena kisah percintaan yang hanya bersifat romantis tanpa ada kedalaman rasa dan citraan estetis. Bahkan kisah-kisah di dalam novel tersebut mampu menyedot minat pembaca akan kisah romantis sehingga penerbit buku menargetkan para pengarang atau calon pengarang agar menulis cerita romantis dalam karya sastra mereka. Bahkan, karena masyarakat yang dianggap paling meminati buku adalah remaja, maka penciptaan novel perlu mengusung nuansa percintaan. Hal ini dilakukan oleh pembaca sastra ‘islami’ agar dapat menarik pembaca yang kebanyakan remaja sebagaimana novel romantis tersebut.

Bahkan, novel Islami karya Kang Abik (sapaan akrab Habibburahman El-Shirazy) menjadi tren setelah novel Ayat-Ayat Cinta. Novel ini dianggap paling banyak peminatnya sekaligus kontroversial karena novel Islami ini paling banyak peminatnya. Kisah cinta yang dapat dilukiskan secara dramatik ini mampu menyedot minat pembaca. Bahkan, para sineas pun melirik fenomena ini sehingga tidak mau ketinggalan, mereka menciptakan film dengan melakukan ekranisasi pada novel Ayat-Ayat Cinta tersebut. Terlepas dari kontroversi yang ada, novel Islami tersebut tetap menjadi tren. Namun, kemunculan novel Islami yang nomatif dan romantis tersebut digantikan oleh peran novel Islami yang benar-benar merangsang daya intelektual. Kemunculan tersebut digantikan oleh novel 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum Salsabiela Rais.

Novel Islami ini tidak banyak menggurui karena benar-benar memberikan pemahaman kepada pembaca akan gambaran kehidupan dunia Islam di masa lalu. Pengarang mampu memberikan tinjauan historis terhadap tempat-tempat yang dikunjunginya sewaktu berada di Eropa. Hal ini dapat diketahui dalam novel tersebut sebagai kisah perjalanan. Selain mengenai tempat-tempat yang mempunyai hubungan historis dengan dunia Islam, pengarang juga ingin menyadarkan kepada pembaca tentang fenomena islamfobia untuk menunjukkan Islam yang sebenarnya. Islam yang ingin ditunjukinya adalah ajaran yang benar-benar menunjukkan kepada nilai-nilai kebaikan sebagai cermin keimanan dan ketakwaan kepada Sang Pencipta. Pengarang ingin memberikan ‘umpan balik’ kepada masyarakat yang membenci Islam di mana mereka selalu menyatakan bahwa Islam mengajarkan kekerasan seperti terorisme tanpa memahami makna jihad.

Novel seperti ini termasuk yang pertama sebagai novel yang memberikan nuansa intelektual kepada pembaca. Novel ini tidak memberikan sesuatu yang populis dan utopis, melainkan sebagai gambaran olah intelektual dan eksplorasi imajinasi dalam diri pengarang. Meskipun disampaikan dengan daya intelektual yang mampu memberikan daya kritik dan keluasan pengetahuan, pengarang mampu mengolah kemampuan tulis berkat pengalamannya di bidang jurnalistik. Novel ini juga menjadi kontroversial sebagaimana novel Ayat-Ayat Cinta karya Kang Abik yang menjadi semacam ‘oase’ terhadap dunia kesusastraan yang kering dari sisi keimanan Islam.

Novel 99 Cahaya di Langit Eropa menjadi yang pertama bagi kemunculan karya sastra Islami yang memberikan daya kritis bagi pembaca sekaligus bersifat sastrawi karena olahan bahasa dan unsur naratif yang dikembangkannya. Walaupun demikian, novel tersebut tidak lepas juga dari kritik. Kritik tersebut dapat ditinjau dari segi narasi maupun aspek historis. Secara naratif, ada sebagian orang yang mengatakan bahwa novel tersebut lebih mirip sebagai catatan perjalanan karena sebagian besar isinya adalah perjalanan di beberapa negara Eropa. Selain naratif, aspek historis juga tidak ketinggalan, mendapat kritik. Kritik terhadap aspek historis tempat-tempat yang dikunjungi Hanum perlu diperdalam kembali dari segi sejarah. Namun, kritik tersebut membutuhkan pendalaman wacana tentang hubungan Islam dengan Eropa sehingga perlu mengkritisi semua aspek seperti pemikiran pengarang akan sejarah, politik, ekonomi, arsitektur, dan lain-lain.

Meskipun begitu, wacana yang disampaikan Hanum dalam novel tersebut hanya murni kisah perjalanan ia bersama Rangga, sang suami, saat berada di Eropa. Jadi, kisah yang didituliskan kembali tersebut hanya refleksi atau pengulangan kisah pengalaman mereka. Namun, kritik tersebut dapat menjadi pembangun bagi novel-novel islami selanjutnya apabila pengarang ingin memberikan nuansa Islam dalam karya sastra secara mendalam.

Referensi

Muhammad, Damhuri. 2010. Darah Daging Sastra Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra.

Tim Penyusun. 2010. Sastra dan Perubahan Sosial. Surakarta: FSSR Publishing.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: