Refleksi Atas Buku Islam dan Sekularisme

Refleksi Atas Buku Islam dan Sekularisme

Agfa Adityo S. K

 

Ditulis oleh Syed Muhammad Naquib Al Attas

Diterbitkan oleh ABIM, Kuala Lumpur, 1978

Diterjemahkan oleh Penerbit Pustaka, Perpustakaan Salman ITB Bandung, 1981

 

Buku “Islam dan Sekularisme” merupakan salah satu karya yang ditulis oleh seorang tokoh besar yang bernama Syed Muhammad Naquib Al Attas. Beliau merupakan salah satu tokoh kunci pada diskursus Islamisasi ilmu. Dialah orang pertama yang secara eksplisit menyatakan dan meresmikan proyek Islamisasi ilmu ketika diadakan Konferensi Pendidikan Islamisasi Internasional di Mekkah, tahun 1977. Ide ini kemudian disempurnakannya sendiri lewat beberapa buku yang ditulis diterbitkan tahun 1978. Menurutnya, Islamisasi ilmu bukan sekedar mempertemukan atau menyandingkan ilmu umum dan ilmu keislaman, melainkan lebih merupakan rekonstruksi ontologis dan epistemologis ilmu umum yang tidak sesuai dengan nilai Islam agar sesuai dengan nilai-nilai Islam. Sebab, dari sisi inilah lahir sebuah disiplin ilmu.

 

Sosok Syed Naquib Al Attas

Nama lengkap al-Attas adalah Syed Muhammad Naquib ibn Ali ibn Abdullah ibn Muhsin Al-Attas. Beliau lahir pada 5 September 1931 di Bogor, Jawa Barat. Ayahnya, Syed Ali ibn Abdullah al-Attas adalah orang yang terkemuka dikalangan syed. Ibunya bernama Syarifah Raquan Al-‘Aydarus adalah keturunan raja-raja Sunda. Al-Attas adalah keturunan ke-37 dari Hussein bin Ali, cucu Nabi Muhammad saw. Silsilah yang dapat dilacak secara pasti hingga seribu tahun kebelakang, melalui silsilah keluarga sayyid Ba’Alawi di Hadramaut.

Di antara leluhur al-Attas ada yang menjadi wali, ulama dan ilmuan. Salah seorang dari mereka ialah Syed Muhammad Al-‘Aydarus (dari pihak ibu). Beliau merupakan guru dan pembimbing Syed Abu Hafs ‘Umar bin Syaiban dari Hadramaut, yang kemudian membawa Nur Al-Din Al-Raniri menjadi seorang ulama terkemuka di tanah Melayu. Selain itu, Syed Abdullah ibn Muhsin ibn Muhammad Al-Attas (dari pihak ayah) adalah seorang wali dari tanah Jawa. Ia sangat berpengaruh sampai di dunia Arab. Salah seorang muridnya, Syed Hasan Fad’ak adalah seorang penasehat agama kepada Amir Faisal (saudara Raja Abdullah dari Yordania). Leluhurnya juga ada yang berdarah aristokrat, yaitu, Ruqayah Hanum (dari pihak ayah). Ruqayah menikah dengan Syed Abdulllah Al- Attas dan dikaruniakan seorang anak, Syed Ali al-Attas (Bapak dari al-Attas).

Ketika Syed Naquib al-Attas berusia 5 tahun, ia diajak orang tuanya bermigrasi ke Malaysia. Melihat perkembangan yang kurang menguntungkan yakni ketika Jepang menguasai Malaysia, maka al-Attas dan keluarga pindah lagi ke Indonesia, Sukabumi (Jawa Barat). Di tempat ini al-Attas mulai mendalami dan mendapatkan pemahaman tradisi Islam yang kuat, terutama tarekat. Hal ini bisa difahami, karena saat itu, di Sukabumi telah berkembang perkumpulan tarekat Naqsabandiyah.

Latar belakang keluarga telah memberikan pengaruh yang sangat signifikan bagi pendidikan al-Attas, baik pendidikan ilmu-ilmu keislaman maupun pendidikan bahasa, sastra dan kebudayaan Melayu. Pada usia lima tahun, al-Attas dididik di Sekolah Dasar Ngee Heng (1936-1941) di Johor, Malaysia. Kemudian diteruskan di Madrasah al-‘Urwatu al-Wutsqa di Sukabumi (1942-1945), belajar bahasa Arab dan agama Islam. Empat tahun kemudian, tahun 1946, ia masuk dan bersentuhan dengan pendidikan modern di English College, Johor, Malaysia (1946-1951). Kemudian pada tahun 1951, ia masuk dinas militer, dan berkat prestasi dan kedisiplinannya, ia dipilih untuk mengikuti pendidikan militer di Easton Hall dan kemudian di Royal Military Academy di Sandhurst, Inggris, pada tahun 1952-1955. Selama pendidikan militer di Inggris inilah, ia mengenal dan memahami semangat dan gaya hidup kebudayaan Barat.

Setelah menyelesaikan pendidikan militer di Inggris, al-Attas kemudian ditugaskan sebagai pegawai kantor di Resimen Tentara Kerajaan Malaysia, yang waktu itu sibuk menghadapi serangan komunis. Namun, tugas ini tidak begitu lama dijalaninya. Karena ia lebih tertarik kepada ilmu pengetahuan dibanding militer, sehingga ia keluar dari dinas militer dengan pangkat terakhir Letnan. Kemudian, ia masuk di University of Malaya, Malaysia (1957-1959).

Berkat kecerdasan dan kesungguhannya ia dianugerahi oleh pemerintah Kanada beasiswa belajar di Universitas McGill, Montreal, pada tahun 1960. Di Universitas McGill inilah, kemudian ia berkenalan dengan beberapa sarjana terkenal, seperti Sir Hamilton Gibb (Inggris), Fazlur Rahman (Pakistan), Toshihiko Izutsu (Jepang), dan Seyyed Hossein Nasr (Iran). Pendidikannya ini selesai pada 1962, dengan hasil nilai yang sangat memuaskan dan mendapatkan gelar MA dengan tesis berjudul Raniry and the Wujudiyah of 17 Century Aceh. Pada tahun 1963, atas dorongan beberapa pemikir barat yang terkenal, seperti A.J. Arberry (Cambridge), Sir Mortimer Wheeler (Inggris), Sir Richard Winstedt (Inggris) dan pimpinan Royal Asiatic Society, al-Attas kemudian melanjutkan pendidikan doktoralnya di School of Oriental and African Studies (SOAS) University London, Inggris. Di universitas ini, ia dibimbing oleh Prof. A.J. Arberry dan Dr. Martin Lings, dengan dua jilid disertasi berjudul The Mysticisme of Hamzah Fansuri, ia berhasil memperoleh gelar Ph. D dengan nilai yang sangat memuaskan, pada tahun 1965.

Sekembalinya dari Inggris, al-Attas mengabdikan diri di almamaternya dulu, yaitu Universitas Malaya, sebagai dosen tetap. Maka, sejak itulah ia mulai menunujukkan kehebatan dan kecemerlangannya. Pada tahun 1968-1970 ia menjabat sebagai Ketua Departemen Kesusastraan dalam pengkajian Melayu, saat itu ia sempat merancang dasar-dasar bahasa Malaysia untuk Fakultas Sastra. Ia termasuk salah seorang pendiri Universitas Kebangsaan Malaysia pada tahun 1970. Kemudian pada tahun 1970-1973 ia menjabat Dekan Fakultas Sastra, dan pada tanggal 24 Januari 1972 dikukuhkan sebagai guru besar Bahasa dan Kesusastraan Melayu, dengan membacakan pidato ilmiah yang berjudul: “Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu”.

Kecerdasannya dalam mengakaji khazanah keilmuan dan kebudayaan, terutama sikap kritisnya terhadap peradaban Barat, telah menarik banyak perhatian di kalangan sarjana dan cendikiawan Muslim maupun non-Muslim. Sikap kritis al-Attas terhadap peradaban Barat, terutama mengenai sekularisme, telah dimulai pada awal 1950-an. Namun, sikap kritisnya ini baru tampak pada tahun 1970 -an dengan tampilnya sebuah buku yang mengkritik gagasan sekularisme, yaitu Risalah Untuk Kaum Muslimin. Kemudian ia semakin dikenal sebagai cendikiawan Muslim yang sangat kritis terhadap peradaban Barat, terutama faham sekular, setelah menerbitkan satu karyanya yang sangat terkenal di dunia internasional, yaitu “Islam and Sekularisme”, pada tahun 1978.

Al-Attas telah menulis lebih dari 30 buku dan berbagai artikel, menyangkut masalah filsafat Islam, teologi, metafisika, sastra, sejarah, agama dan kebudayaan. Beberapa bukunya yang ditulis dalam bahasa Melayu dan Inggris tersebut, telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Arab, Persia,Turki, Urdu, Jerman, Italia, Rusia, Bosnia, Jepang, Korea, India, Indonesia, Prancis, Albania. Di antara karyanya yang terpenting mengenai kajian sekularisme adalah Risalah Untuk Kaum Muslimin, diterbitkan di Kuala Lumpur oleh ISTAC, 2001; Islam and Secularism, Kuala Lumpur: ABIM, 1978. (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Malaya, India, Persia, Urdu, Turki,Arab dan Rusia); The Concept of Education in Islam, Kuala Lumpur: ABIM,1980. (telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, Turki dan Arab); Islam,Secularism, and The Philosophy of the Future, London dan New York: Mansell,1985; Islam and the Philosophy of Science, Kuala Lumpur: ISTAC, 1989. (telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, Bosnia, Persia dan Turki); Prolegomena: to the Mataphysics of Islam, Kuala Lumpur; ISTAC, 2001. (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia); Tinjauan Ringkasan Peri Ilmu dan Pandangan Alam, Pulau Pinang: USM, 2007.

 

Isi Buku Islam dan Sekularisme

Buku tersebut terdiri dari lima bab yakni :

Pertama “Latar Belakang Kristen Barat Masa Kini” yang menjelaskan perjalanan sejarah agama Kristen terbangun menjadi sebuah ajaran yang mapan. Beliau menjelaskan sejarah perkembangan “Kristen Barat” yang sangat problematik. Kristen yang mulanya hanya menyediakan ajaran-ajaran etika dan moralitas harus melakukan dialog panjang dengan pemikiran filsafat Yunani dan Romawi untuk mampu merumuskan “Theologi” dan “Hukum”nya. Dalam perkembangannya sebagai agama yang mewujud sebagai otoritas yang sangat kuat dan kemudian berkembang menjadi tiran yang mengekang kehidupan orang Barat Eropa pada masa itu. Masa ini kemudian diratapi dan dinilai sebagai masa kegelapan yang telah mengekang akal budi merdeka manusia. Di masa selanjutnya “kegelapan” ini lantas di dobrak oleh “semangat pencerahan” yang dibawa oleh pemikir-pemikir baru yang menggugat kuasa otoritas agama yang berlaku pada waktu itu. Gugatan-gugatan pemikir tersebut melahirkan konsep-konsep baru yang memiliki pijakan dan metodologi yang problematik sebab ia berpijak dari relativisme dan skeptisisme yang membawa manusia pada perjalanan yang tidak berujung.

Bab yang kedua yakni “Sekular-Sekularisasi-Sekularisme”. Syed Naquib menjelaskan pengertian ketiga kata tersebut yakni sekular sebagai kata benda, sekularisasi sebagai proses sejarah yang tak terbantahkan, dan sekularisme sebagai faham yang telah mewujud sebagai sebuah ideologi. Ketiganya merujuk pada satu fenomena pemisahan unsur-unsur alam yang dapat difahami secara positiv-empiris dengan masalah-masalah metafisis, mendesakralisasi setiap fenomena yang ada di dunia, dan membersihkan segala yang ada dari nada agama dan pemahaman mitis. Proses ini didorong oleh kekuatan akal budi yang beranjak dewasa (tercerahkan) yang disemangati oleh tradisi Grecco-Roman menuju suatu hasil akhir yakni relativisme historis. Di sinilah kemudian semangat asli Kristen telah banyak teredusir sehingga mengalami banyak penyimpangan dan tidak dapat ditemukan lagi sumber awalnya. Di sini terlihat bahwa Kristen yang sekarang ini yakni Kristen Barat merupakan agama sejarah atau agama budaya yang tidak lagi asli, berbeda dengan Islam yang merupakan agama wahyu yang telah dijamin terjaga keasliannya hingga akhir zaman. Dari sini kemudian lahir suatu masalah baru yakni pengertian, penilaian, dan sikap terhadap agama (religion) yang tumbuh dari fenomena historis Kristen Barat ini dipaksakan pada agama-agama yang lain termasuk Islam.

Bab ketiga yakni “Islam: Konsep Agama Serta Dasar Etika dan Moralitas”. Dalam bab ini Syed Naquib menjelaskan bahwa pengertian dan konsep agama terutama agama Islam, berbeda dengan pengertian agama dan konsep agama pada agama-agama lain. Islam merupakan din dalam bahasa Arab yang sering diartikan sebagai agama atau religion. Padahal kata din yang berasal dari akar kata bahasa Arab dyn lebih luas dan menyeluruh. Din paling tidak memiliki empat arti pokok, (1) keberhutangan; (2) kepatuhan; (3) kekuasaan bijaksana; (4) kecenderungan alami atau tendensi. Kata-kata tersebut merujuk pada iman, kepercayaan-kepercayaan, praktek-praktek sebagai seorang muslim perorangan atau kolektif sebagai keseluruhan yang obyektif sebagai agama yang disebut Islam.

 Kata dien kemudian dapat berkembang membentuk kata-kata baru yang muncul seiring dengan lahirnya konsep-konsep baru pada berbagai unsur peradaban. Kata dana dari kata din menunjukkan arti berhutang, da’in merupakan orang yang menundukkan dirinya atau menyerah dan patuh pada hukum peraturan yang mengatur hutang. Keadaan ini sudah tentu melibatkan pertimbangan (dayunah) dan keputusan (idanah). Semua hal di atas merupakan kemungkinan-kemungkinan yang hanya dapat dipraktekkan dalam masyarakat terorganisir yang terlibat hubungan niaga pada kota-kota kecil atau kota-kota besar yang ditunjuk dengan mudun atau mada’in. Suatu kota, kecil atau besar, madinah, memiliki hakim atau gubernur – seorang dayyan. Dalam penerapan berbagai kata kerja saja, kita telah melihat suatu kehidupan yang berperadaban, kehidupan kemasyarakatan yang berhukum, bertatatertib, berkeadilan dan berotoritas yang menghasilkan sebuah peradaban – tamaddun. Dari sini kita bisa melihat meski pada dasarnya Islam bermula dari kepercayaan dan kepatuhan individu atau pribadi pada suatu prinsip-prinsip, ia juga memiliki visi untuk menuju menjadi suatu tata kehidupan yang tertib teratur, dan berotoritas dan memiliki untuk mengatur segala aspek kehidupan yang mewujud menjadi sebuah peradaban yang lengkap dan melahirkan berbagai macam institusi kehidupan yang menopang jalannya peradaban tersebut. Dalam memenuhi jalannya peradaban tersebut, segala unsur kehidupan berkaitan secara menyeluruh baik fisik maupun non fisik, baik raga, fikiran, maupun jiwa. Segala urusan kehidupan diatur baik individu maupun kelompok, baik urusan privat maupun urusan publik.

Bab yang keempat adalah “Dilemma Muslim”. Dalam bab ini dijelaskan mengenai sejarah panjang mengapa umat Islam mengalami kondisinya di dunia pada masa sekarang ini. Hal ini bermula dari konfrontasi antara Barat dengan Islam sejak perang salib abad pertengahan. Perang ini memunculkan perebutan dominasi dari segi kebudayaan, ekonomi, dan kekuatan militer. Islam sebagai agama yang unik yakni agama dakwah atau agama yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia memiliki karakter yang tidak dimiliki agama lain sebagai agama bangsa atau untuk ras tertentu. Penyebaran Islam ini tentu tidak lepas dari dinamika politik, kebudayaan dan intelektual. Masuknya unsur-unsur asing pemikiran hellenisme di Barat dan mistisisme di Timur turut mencemari pengamalan keIslaman umat pada masa itu. Hal ini menjadi semakin parah ketika bangsa-bangsa muslim mulai mundur dan dirundung penjajahan Barat mulai abad 17. Dari sini fikiran umat Islam yang mulai rusak kemudian merembet pada aspek-aspek lainnya.

Meski kita telah mengalami tragedi seperti yang telah disebutkan di atas namun kita jumpai juga sebab-sebab internal dilemma pada umat Islam sekarang ini. Di sini Syed Naquib menunjuk pada hilangnya disiplin badan, disiplin pikiran, dan disiplin jiwa atau yand sering disebut sebagai adab. Disiplin ini sebenarnya menjamin pengakuan atas tempat seseorang yang semestinya dalam hubungan diri, masyarakat, dan umatnya. Hilangnya adab menyiratkan hilangnya keadilan. Jadi bisa kita lukiskan permasalahan umat ini bermula dari (1) Kebingungan dan kekeliruan dalam pengetahuan, yang menyebabkan; (2) Hilangnya adab dalam ummat dan mengakibatkan; (3) Munculnya pemimpin-pemimpin yang tidak cakap, tidak memiliki standar moral, intelektual dan spiritual dan melestarikan kondisi semacam ini.

Hilangnya adab telah menyebabkan umat memperlakukan ilmu dan agama sekehendak nafsunya. Dalam tahap berikutnya setelah muncul pemimpin-pemimpin atau otoritas-otoritas palsu yang merusak agama, muncul ilmuwan-ilmuwan Islam yang terpengaruh oleh cara berfikir Barat dalam memahami, bersikap dan berbicara menggenai masalah agama. Syed Naquib merujuk pada kaum modernis atau reformis didikan Barat pada waktu itu yang telah berani mencela sahabat nabi dan ulama-ulama terdahulu diantaranya ulama tasawuf yang dinilai sebagai klenik. Menurut Syed Naquib, tasawwuf bukanlah klenik tetapi merupakan usaha atau jalan untuk mendisiplinkan pikiran, jiwa, dan raga dalam rangka beribadah memperoleh ridha Ilahi. Selain mencela ulama dan menggugat otoritas keilmuan Islam tradisonal mereka kaum reformis ini juga meletakkan sahabat Rasul dan para ulama ini hanya sejajar dengan manusia biasa dan menganggap agama hanya sebagai obyek yang dapat dibedah sekehendak hati. Hal ini diperparah oleh perilaku kaum tradisionis yang telah banya melakukan hal-hal yang kontraproduktif. Hilangnya adab terhadap ilmu dan pelecehan terhadap otoritas keilmuan Islam yang sah telah merusakkan peradaban Islam.

Sistem keilmuan Islam menurut Syed Naquib tidak dapat disandingkan dengan konsep-konsep Barat semacam kapitalisme, sosialisme, liberalisme dan lain-lain. Konsep-konsep Barat tersebut bahkan istilah-istilah dari konsep tersebut sangat tidak kompatibel untuk digunakan dalam Islam yang telah memiliki konsep dan sistematika yang mapan dan menghendaki istilah-istilah yang lahir dari bahasa Islam sendiri yakni bahasa Al Qur’an. Konsep tambal sulam yang diusung oleh kaum reformis telah membawa racun-racun pemikiran yang telah melekat atau inheren dengan konsep Barat. Sebab konsep-konsep Barat memiliki proses lahir yang secara spiritual tidak bersih. Akhirnya Syed Naquib menjelaskan bahwa Islamisasi ilmu bukan sekedar pelabelan istilah-istilah Islam pada konsep Barat atau mengambil yang sesuai dengan Islam dan membuang yang tidak sesuai dengan Islam. Islamisasi ilmu adalah Islamisasi Worldview dan adab terhadap ilmu sehingga lahirlah disiplin ilmu yang memiliki goal sesuai dengan kehendak spirit Islam.

Bab terakhir adalah “Dewesternisasi Pengetahuan”. Di sini pertama Syed Naquib menjelaskan sifat manusia yang ganda yaitu ia sebagai jiwa dan raga sekaligus, ia adalah wujud fisik dan roh sekaligus. Allah telah menjadikan manusia sebagai ciptaan yang sempurna yang memiliki akal dan jiwa. Potensi ini merupakan fasilitas dari Allah untuk manusia beribadah kepada-Nya dan menjadi khalifah di muka bumi. Kemudian dijelaskan pula hakikat pengetahuan. Pengetahuan bukanlah sekedar cara atau kemampuan untuk memahami fenomena dalam rangka memanipulasinya. Akan tetapi pengetahuan adalah kemampuan untuk menyingkap tabir baik dari peristiwa yang nampak maupun tidak nampak yang nyata maupun yang ghaib. Pengetahuan memiliki berbagai sumber yakni wahyu, penyelidikan ilmiah maupun sumber informasi lain yang tidak bertentangan dengan Islam. Pengetahuan hendaknya membawa manusia pada kearifan atau kebijaksanaan dalam berkehidupan dan mengatur kehidupan di bumi dalam rangka mengabdi pada Allah SWT. Selanjutnya diterangkan bahwa definisi dan tujuan pendidikan Islam menurut Syed Naquib adalah meresapkan dan menanamkan adab kepada manusia – ini adalah ta’dib bukan sekedar pengajaran. Kesalahan pendidikan masa kini adalah hanya sekedar mengajarkan orang untuk tahu sementara adab tidak dibentuk sehingga yang lahir kemudian adalah kaum biadab yang cerdas sehingga melakukan perbuatan merusak dengan memperturutkan hawa nafsunya dengan cara yang lebih canggih. Akhirnya Syed Naquib, menekankan pentingnya membentuk disiplin fikiran, raga, dan jiwa sebagai suatu kesatuan yang tidak terpisah antara satu dengan yang lain.

Buku yang diulas ini merupakan buku yang diterjemahkan dari buku aslinya yang berbahasa Inggris dan Malaysia. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka – perpustakaan Salman ITB pada tahun 1981. Buku ini telah diterjemahkan dengan cukup baik meski ditemukan banyak kata yang tidak sinkron secara konteks sehingga diperkirakan masih banyak terjadi pemilihan diksi dan frasa yang tidak tepat. Meski begitu kesalahan tersebut tidak merusak makna terlalu jauh. Buku ini sangat informatif, lengkap, dan kronologis namun cukup ringkas dan padat. Bagi pembaca yang sudah terbiasa membaca buku lain dengan tema yang relevan buku ini cukup mudah dipahami, namun untuk pembaca pemula memang harus dilengkapi dengan bacaan buku-buku lain dengan tema Islam dan ilmu, sejarah pemikiran dan peradaban Islam, dan sejarah peradaban Barat, atau sejarah perkembangan agama Kristen.

Buku ini dilengkapi dengan endnote yang memberikan keretangan lebih lanjut mengenai masalah-masalah yang diulas pada buku ini. Di satu sisi ini melengkapi penjelasan isi buku namun hal ini kurang praktis dalam membaca karena harus membolak-balik buku dari halaman tengah ke halaman belakang. Syed Naquib cukup banyak mengutip ayat Al Qur’an dan hadits sebagai rujukan bagi konsep-konsep Islam yang beliau tawarkan pada buku ini. Gaya bahasa yang digunakan cukup filosofis. Buku ini hanya akan lebih dimengerti oleh kalangan akademisi atau orang-orang yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi atau kelompok komunitas dan institusi yang secara khusus mengkaji bidang keilmuan semacam ini. Akhirnya buku ini membawa wacana alternatif yang mengkritisi wacana keilmuan Islam kontemporer yang banyak terpengaruh oleh pemikiran dan cara Barat dalam memperoleh ilmu pengetahuan sehingga mengidap kanker sekularisme yang secara inheren merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keilmuan Barat.

 

*Agfa Adityo S. K merupakan Penggiat Studi Wawasan Islam, Ia masih menempuh Studi S1 Ilmu Sejarah di Universitas Sebelas Maret Surakarta

 

Catatan Kaki :

1. https://jirhanuddin.wordpress.com/2016/09/02/islam-dan-sekularisme-telaah-atas-pemikiran-naquib-al-attas/  di akses 10 Januari 2018 pukul 21.09

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: