Refleksi Atas Buku MIYSKAT Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi, Dan Islam

Refleksi Atas Buku MIYSKAT Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi, Dan Islam

Ratna Dwi Ambarwati

Ditulis oleh Dr.Hamid Fahmy Zarkasyi

Diterbitkan oleh INSIST-MIUMI, Jakarta Selatan,2012

 

Buku “MIYSKAT Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi, dan Islam” merupakan kumpulan artikel yang ditulis oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam Jurnal Islam Republika pada 2009–2012. Sebuah buku yang sangat menarik bagi para intelektual muslim yang kritis. Judul Misykat sendiri berasal dari Al-Qur’an (lihat Q.S AnNur Ayat 35) yang berarti tempat berkumpulnya cahaya yang di dalamnya terdapat lampu atau lainnya yang memiliki cahaya.

Persoalan mendasar umat saat ini adalah kekeliruan dalam memandang kehidupan. Massifnya hegemoni westernisasi telah berdampak pada krisis eskatologis umat. Bekal ukhrawi tidak lagi diacuhkan dan semata-semata demi kehidupan duniawi. Krisis kepercayaan terhadap identitas juga turut mengikuti. Hegemoni westernisasi berhasil membuat muslim menjadi terbaratkan. Barat merasuk menjadi alam pikiran dan pandangan hidup. Suatu kondisi sosial yang membahayakan umat Islam saat ini.

 

Sosok Dr.Hamid Fahmy Zarkasyi

Dr.Hamid Fahmy Zarkasyi atau biasa dipanggil sebagai Gus Hamid  lahir dari keluarga ulama, ayahandanya seorang dari Tri Murti pesantren Gontor KH Imam Zarkasyi Rohimahullah. Terlahir dari keluarga islami, sehingga membentuk pribadi dan kejiwaan juga pendidikannya tidak terlepas dari lingkungan keilmuan dan keagamaan. Gus Hamid menamatkan pendidikan menengahnya di Kulliyatul Mualimin Al-islamiyah Pondok Modern Darussalam Gontor PonorogoJjawa Timur dan S1nya di institute studi Darussalam (ISID) di pondok yang sama. Pendidikan S2 (M. Ed) dalam bidang pendidikan di peroleh di The University of Punjab, Lahore, Pakistan (1986). Pendidikan S2 selanjutnya (M.Phil) dalam studi islam diselesaikan di University of Birmingham United Kingdom (1998). Sedangkan studi S3 (Ph.D) bidang pemikiran islam di selesaikan di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) IIUM Malaysia (2006). Kini ia menjadi Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Direktur Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS), UNIDA Gontor. Baru baru ini, Ia dipilih menjadi pimpinan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).

Gus Hamid adalah murid Prof. Mohammad Naquib Al Attas. Beliau pernah menjadi wakil umat Islam Indonesia dalam simposium tentang masa depan politik Islam di JIIA Tokyo 2008. Dalam bidang pendidikan ia adalah salah satu anggota dari tujuh Advisory Panel for International Academy of Islamic Education (IAME) yang berpusat di Malaysia (2010-sekarang). Sekarang selain aktif menulis di berbagai media massa dan beberapa jurnal, kesehariannya ia habiskan waktu untuk mengajar dan memimpin Program Kaderisasi Ulama (PKU) dan Pascasarjana Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Ponorogo Jawa Timur.

 

Isi Buku MIYSKAT Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi, dan Islam

Buku tersebut terdiri dari dua bab yang dalam masing-masing bab terdiri dari beberapa artikel yakni:

Bab pertama “Dewesternisasi” berisi sekumpulan artikel yang berkaitan tentang  westernisasi. Artikel pertama “Barat” menjelaskan tentang pengertian ‘Barat’ yang harus dipahami sebagai alam pikiran dan pandangan hidup, Gus Hamid menjelaskan tentang Barat berawal dari sejarah pencarian “kebenaran”, dimana mencari kebenaran di Barat lebih penting daripada kebenaran itu sendiri. Di Barat pula, awal mula teriakan “God is dead” terdengar lantang hingga saat ini. Kematian Tuhan di Barat merupakan fenomena yang tidak terbantahkan lagi, ditandai dengan penutupan diskursus metafisika tempat teologi bersemayam. Tuhan bukan lagi supreme being. Tidak ada lagi yang absolute, semua relatif. Seperti itulah Barat, kebenaran itu relative dan menjadi hak dan milik semua. Baik dan buruk tidak perlu berasal dari apa kata Tuhan. Tidak puas “membunuh Tuhan” Barat mengangkat Tuhan baru yakni logocentrisme atau rasionalisme  yang nantinya akan melahirkan paham-paham baru seperti liberalisme, humanisme, dan sejenisnya.

Artikel kedua berjudul “Timur”, Gus Hamid menjelaskan makna timur atau “orient”dapat dipahami dalam konteks Barat “occident” bukan klasifikasi geografis dan nama dua mata angin. Beliau menyatakan, memang tidak jelas siapa yang memulai mengolok-olok “kamu orang Timur! Kamu orang barat!”. Namun, yang jelas orientalisme mendahului occidentalisme. Kini Siapa yang disebut “orang Timur” dan “orang Barat” sudah jelas. beliau mengutip pernyataan Edward said yang menyatakan bahwa Timur adalah masyarakat dan bahkan spirit yang menakutkan Barat.

Artikel ketiga yakni “Tuhan”, Gus Hamid menjelaskan bahwa di Barat, diskursus tentang Tuhan sedang marak namun terkadang mirip guyonan. Presedennya karena teologi bukan bagian dari tsawabit (permanen) tapi mutaghayirat (berubah), ijtihad tentang Tuhan terbuka lebar untuk semua kalangan. Sosiolog, psikolog, sejarawan, filosof, saintis, bahkan orang awampun berhak bicara tentang Tuhan. Konsep Tuhan dicari dengan hermeneutik dan kritik terhadap teks bible. Akibatnya para teologpun kewalahan dengan pertanyaan-pertanyaan rasional dan protes-protes teologis telah gagal dijawab. Problematika seputar teologis ini akan mencapai puncaknya  ditandai dengan lahirnya ateisme-ateisme modern. Ateisme modern bukan mengkufuri Tuhan, tapi Tuhan para teolog agama-agama.Tuhan dalam perhelatan peradaban Barat memang problematik. Filsafat dan sains di Barat memang area non-teologis alias bebas Tuhan. beliau memaparkan,di Barat, Tuhan tidak lagi berkaitan dengan ilmu, dunia empiris.Tuhan menjadi mitologi dalam khayalan, dan Barat saat ini dalam bahasa Nietstzsche sedang “Menempuh ketiadaan tanpa batas”.

Artikel keempat yakni “Agama”, Hamid Fahmy Zarkasyi mengawali tulisannya dengan tulisan “it’s like religion” yang terdapat di papan iklan besar pinggir jalan kota Manchester Inggris. Beliau menjelaskan bahwa di Barat agama bisa dipahami sebagai fanatisme. Pun pada dataran diskursus akademik, makna religion di Barat memang problematik. Bertahun-tahun mereka mencoba mendefiniskan religion dan gagal. Sejatinya, akar kebingungan Barat mendefiniskan religion dikarenakan konsep Tuhan mereka yang bermasalah. Gus Hamid mengutip kesimpulan Profesor al-Attas sebagai perbandingan, Islam, sebagai agama telah sempurna sejak diturunkan. Konsep Tuhan, agama, Ibadah, manusia dan lain-lain dalam Islam telah jelas sejak awal. Para Ulama kemudian hanya menjelaskan konsep-konsep tersebut tanpa mengubah konsep awalnya. Sedang di Barat konsep Tuhan sejak awal telah bermasalah sehingga perlu direkayasa agar bisa diterima akal manusia.

Artikel kelima yakni, ”kecerdasan dan keimanan” kali ini, Gus Hamid menyoroti hasil riset 137 negara di dunia termasuk Indonesia yang diterbitkan oleh tiga professor bernama Richard Lynn dari Ulster University (Irlandia Utara), Helmuth Nyborgh dari Universitas Aarhus (Denmark) dan John Harvey dari University of Sussex (Inggris). Riset yang mengkaji sebuah hyphothesis adanya korelasi negatif antara IQ dan iman atau antara kecerdasan dan keimanan. Sekurang-kurangnya ketiga Profesor tersebut telah menelurkan empat temuan. Pertama, ada hubungan korelasi negatif antara kecerdasan keimanan. Kedua,orang elit yang cerdas semakin kurang religious dibanding penduduk secara umum.  Ketiga, di kalangan pelajar, semakin berumur dan semakin berilmu semakin turun keimanan mereka. Keempat, sepanjang abad dua puluh,meningkatnya masyarakat yang cerdas diikuti menurunnya keimanan. Ketiga profesor tersebut mengukur kecerdasan menggunakan variable tes IQ, sedangkan untuk keimanan atau religiusitas diukur dari presentase penganut ateisme. Data yang diambil dari 137 negara itu semua mendukung hyphothesisnya,Negara yang IQ penduduknya tinggi jumlah penganut ateismenya juga tinggi. Hamid Fahmy Zarkasyi mempertanyakan ulang terkait hiphothesis tersebut,apakah korelasi itu betul-betul menunjukkan kausalitas? Beliau menggaris bawahi, penelitian ini  mengandung dua masalah penting yaitu konsep dan metodologi. Worldview apapun sebenarnya berperan dalam cara berfikir seseorang,termasuk dalam kegiatan keilmuan atau menyusun desain penelitian. Worldview di Barat pada umumnya adalah saintifik sekularistik atau melihat segala sesuatu secara dikotomik. Itulah setting sosial yang melahirkan hyphothesis dan juga variable penelitian tersebut. Jika para peneliti berangkat dari situasi seperti ini, maka konsep religiusitas dan keimanan dalam penelitian itu bermasalah.artinya, variable-nya juga bermasalah.

Artikel keenam yakni “Filsafat agama” Gus Hamid menerangkan tentang kekaburan wacana keagamaan di Barat yang sudah tidak bisa lagi disebut dengan teologi, kini telah bertransformasi menjadi philosophy of religion. Filsafat agama adalah suatu disiplin ilmu yang metode dan basis teorinya adalah filsafat barat. Obyeknya adalah semua agama.maka ketika filsafat membahas agama-agama itu, worldview barat berada pada posisi bird-eye. Doktrin filsafat berada diatas doktrin agama-agama.agama hanya dianggap sebagai produk kreatifitas manusia dan akan terus berubah sebagaimana makhluk hidup (living organism). Namanya pun diubah menjadi sekedar penumpukan tradisi (cumulative tradition). Beliau menerangkan sebagai titik kulminasi dari wacana ini adalah pluralism agama.

Artikel selanjutnya adalah “Iconoclasme” Gus Hamid menjelaskan tentang Iconoclastic adalah watak postmodernism. Iconoclasticsm adalah istilah keagamaan yang diambil dari kata eikon atau klaein yang artinya menghancurkan, dan yang dihancurkan disini adalah logocentrisme barat modern, dogma dan doktrin keagamaan, kebenaran, nilai-nilai moralitas,tatanan social bahkan makna-makna mapan dalam bahasa. Postmodernisme hanya akan berujung pada kenihilan dari kebenaran dan nilai.

Artikel selanjutnya yakni “mendudukan orientalis” Gus Hamid menjelaskan tentang orientalis dan wacana implementasinya terhadap kajian-kajian keislaman. Beliau menerangkan bahwa bagaimanapun ilmiahnya,para orientalis tetap berpijak pada presupposisi barat, dan terkadang Kristen. Prinsip dasar bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan Al-Qur’an adalah firman Allah tidak menjadi asas bagi kajian mereka. mereka tidak mau mengakui bahwa pandangan hidup Islam adalah unsur utama berkembangnya peradaban Islam. Artinya, terdapat pengingkaran terhadap tradisi intelektual islam yang berbasis pada wahyu. Transmisi ilmu pengetahuan sebagai khabar mutawatir tidak diakui oleh mereka sebagai valid.

Artikel selanjutnya yakni “Humanisme”, kali ini Gus Hamid menjelaskan tentang eksistensi Humanisme yang  telah berhasil menggeser agama pada sebagian orang. Istilah humanisme dimulai tahun 1808. Dari bahasa italia umanista yang berarti guru atau murid sastra klasik. Dan keberadaanya dapat dilacak sejak dari Yunani Kuno, Romawi dan Renaissance abad ke-14. Yang terkenal dengan keyakinan mereka pada kekuatan individu dan kemampuan manusia untuk menentukan kebenaran cukup kuat. Agama telah kalah dari Humanisme. Humanisme telah memiliki ruang tak terelakan lagi dan kini hadir dengan dalihnya, bahwa manusia tidak lagi untuk Tuhan, tapi Tuhan untuk manusia. Moralis tidak harus religious. Artinya “kemanusiaan lebih penting dari syariat”.

Artikel selanjutnya yakni “Religious-Humanis” dalam artikel ini, Gus Hamid menegaskan bahwa pemberian tempat pada agama tidak berarti menistakan manusia. Sebab syariat adalah sumber segala perlakuan terhadap manusia. Yang dalam pemaparannya beliau melibatkan DUHAM (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia ) dengan CDHRI (Cairo Declaration  on Human Rights in Islam) sebagai perbandingan. Beliau menerangkan, dalam syariat terdapat maslahat yang telah didesain oleh Tuhan melalui wahyu. Tapi tidak semua yang dianggap maslahat manusia dapat dibenarkan syariat.

Artikel selanjutnya yakni “Ateis” Gus Hamid menjelaskan tentang kelahiran Ateisme yang berawal dari Deisme. Deist percaya pada Tuhan dengan akal,bukan lewat bible. Ateisme dipicu oleh kebencian terhadap agama dan bebas (Liberalisme) darinya. Beliau menyebutkan banyak cara menjadi kafir. Ada yang ingkar Tuhan saja (ateis), ada yang ingkar agama saja (infidel) dan ada yang menolak pengetahuan tentang Tuhan serta eksistensi-Nya sekaligus (Agnostic). Beliau menjelaskan pula bahwa “Tuhan” di Barat ternyata tidak hanya dihabisi di gereja-gereja tapi juga dikampus-kampus. Diduga karena tidak ada ilmu dalam teologi akhirnya tidak ada Tuhan dalam ilmu (godless). Sehingga  ateis di zaman modern adalah ateis epistemology. Yakni orang menjadi ateis bukan hanya karena lemah ilmu tapi juga salah ilmu.

Artikel selanjutnya yakni “Deprivatization” Gus Hamid menjelaskan tentang privatisasi agama yang telah terjadi di berbagai Negara. Privatisasi agama adalah sekulerisasi yang telah  menjadi tren sosial politik di Barat Eropa sejak abad pencerahan (1720-1880).

Selanjutnya tentang “Dualisme” Gus Hamid telah memaparkan tentang dualisme, menurut beliau, paham dualisme ini telah lama mengakar di dalam pemikiran Barat. pendapat yang mensinyalir bahwa Barat sendiri telah mengadopsi paham ini dari kepercayaan Zoroaster di Timur, sekitar 1000 tahun sebelum Masehi silam. Selanjutnya paham ini semakin berkembang di zaman Yunani melalui berbagai pemikiran filsafat, seperti Platoisme dan Aristotle. Dan perkembangan itu terus berlanjut hingga sekarang. Seperti apa paham dualisme ini adalah paham yang menggabungkan antara kebajikan dengan kejahatan dalam satu wadah. Paham yang membenarkan percampuran antara keduanya. Orang yang berpikiran dualis akan melihat sesuatu itu secara mendua. Dia akan memisahkan peranan antara jiwa dan raga, antara perbuatan dan hati. Dan akhirnya dia akan berpendapat, perbuatan boleh melakukan kesalahan tetapi hati selalu dalam kebenaran.

Artikel terakhir dari bab ini adalah “Aveorisme” Hamid Fahmy Zarkasyi menjelaskan tentang adanya kesalahpahaman terkait peran Ibnu Rusyd yang menjadi tokoh berpengaruh dalam pemikiran Barat. Pemikiran Ibn Rusyd memang populer di Barat karena gagasan integrasi filsafat dan agamanya. Sejak diterjemahkan (1230), pemikirannya tersebar luas di Eropa dan diterapkan di gereja-gereja, sehingga menjadi gerakan Averroisme. Namun, Averroisme ternyata adalah tidak murni mengikuti Ibn Rusyd, tapi telah bercampur dengan Aristotelianisme radikal dan heterodok. Ide utamanya adalah dua jalan menuju kebenaran: filsafat dan wahyu, dikenal dengan “Teori kebenaran ganda” (double truth) keabadian alam, kesatuan akal semua manusia (monopsychism), dan kebangkitan orang  mati.

Bab kedua adalah “Deliberalisasi” pada bab ini diawali dengan artikel yang berjudul “ideology dan teologi liberal”, Gus Hamid menjelaskan tentang kemunculan liberalisme intelektual yang mencoba untuk bebas dari agama dan dari Tuhan. dan dari sanalah telah lahir dan tumbuh liberalisme pemikiran keagamaan yang disebut juga theological liberalism. Perkembangan liberalisme pemikiran keagamaan telah beliau klasifikasikan menjadi tiga fase perkembangan sebagai berikut:

Fase pertama, Dari abad ke 17 yang dimotori oleh filosof Perancis Rene Descartes yang mempromosikan doktrin rasionalisme atau Enlightenment yang berakhir pada pertengahan abad ke 18. Doktrin utamanya adalah a) Percaya pada akal manusia b) Keutamaan individu c) Imanensi Tuhan dan d) Meliorisme (percaya bahwa manusia itu berkembang dan dapat dikembangkan).

Fase kedua, Bermula pada akhir abad ke 18 dengan doktrin Romantisisme yang menekankan pada individualisme, artinya individu dapat menjadi sumber nilai. Kesadaran-diri (self-consciousness) itu dalam pengertian religious dapat menjadi Kesadaran-Tuhan (god-consciousness). Tokohnya adalah Jean-Jacques, Immanuel Kant, dan Friedrich Schleiermacher dan sebagainya.

Fase terakhir, Bermula pada pertengahan abad ke 19 hingga abad ke 20 ditandai dengan semangat modernisme dan postmodernisme yang menekankan pada ide tentang perkembangan (notion of progress). Agama kemudian diletakkan sebagai sesuatu yang berkembang progressif dan disesuaikan dengan ilmu pengetahuan modern serta diharapkan dapat merespon isu-isu yang diangkat oleh kultur modern.

Artikel selanjutnya yakni “Dari WTC ke liberalisasi” diawali dengan gambaran runtuhnya menara kembar WTC di New York yang menelurkan berbagai analisa. Gus hamid sampai pada pemaparannya tentang proyek liberalisasi pemikiran yang sedang diterapkan di dunia Islam semakin beragam dan lahir melalui strategi yang berlapis-lapis, pun telah sampai pada tokoh cendekiawan Muslim sendiri seperti Nasr Hamid Abu Zayd, Muhammad Syahrur, Muhammad Arkoun dan lain-lain. Di antara proyek liberalisasi pemikiran Islam yang dilakukan oleh tokoh-tokoh cendekiawan Muslim adalah merubah penafsiran terhadap al-Qur’an. Proyek liberalisasi pemikiran Islam yang lain adalah pluralisme agama. Paham ini juga dipengaruhi oleh doktrin nihilisme, relativisme dan equality postmodern. Beliau menambahkan, selain pluralisme adalah feminisme dan kesetaraan gender sebagai proyek liberalisasi. Diantara strateginya adalah dengan menyebarluaskan wacana ini dari media massa hingga wacana akademik. Jika dianalisis secara teoritis kita dapat kaitkan penyebaran konsep, teori dan sistem dalam bentuk wacana itu dengan teori Michel Fucoult tentang ilmu dan kekuasaan.Yang menyebutkan bahwa, ilmu selalu merupakan kekuasaan dan ketika digunakan ia akan mengatur perilaku orang lain, mengikat dan menjadi aturan yang mendisiplin. kini perilaku dan pemikiran Muslim seakan telah diikat oleh wacana-wacana itu dan seperti tidak bisa menolak. Wacana-wacana itu sudah seperti keharusan sosial.

Artikel selanjutnya yakni, “The Evil of Liberalism” Gus Hamid menjelaskan tentang adanya kesesuaian kondisi umat saat ini dengan misi yang disampaikan dalam artikel “The Evil of Liberalism”. The Evil of Liberalism adalah judul artikel dalam sebuah situs Katholik di Amerika, yang ditulis oleh Judson Taylor, tokoh besar Misionaris. Artikel itu ditulis pada awal abad ke 19 (1850an), dalam sebuah buku kumpulan essai berjudul An Old Landmark Re-Set diterbitkan ulang tahun 1856 dengan editor Elder Taylor. Di dalam pengantarnya editor situs itu menulis bahwa misi yang disampaikan artikel itu lebih cocok untuk kita pada hari ini. Sebab perkembangan liberalisme keagamaan, akhir-akhir ini benar-benar menakjubkan orang tapi seluruhnya destruktif bagi kitab suci Kristen. Makalah itu dimulai dengan pernyataan tegas “Liberalisme telah menggantikan Persecutiton”. Persecution artinya penganiayaan atau pembunuhan. Dalam tradisi Kristen penganiayaan terjadi karena adanya keyakinan yang menyimpang (heresy) dalam teologi. Artinya liberalisme sama dengan penganiayaan. Hanya saja, jika Persecution membunuh orang, tapi menyuburkan penyebabnya, maka liberalisme membunuh sebabnya dan menyuburkan pikiran orang. Dalam artian liberalisme memenangkan akal manusia daripada firman atau ajaran Tuhan.

Artikel selanjutnya yakni “Kebenaran”Gus Hamid menjelaskan tentang Slogan relativisme, “Semua adalah relatif” sebenarnya lahir dari kebencian. Kebencian Pemikir Barat modern terhadap agama. Benci terhadap sesuatu yang mutlak dan mengikat.  Tidak puas dengan sekedar membenci, selanjutnya postmodernisme ingin menguasai agama-agama. Agama diadu dengan ideologi. Doktrin “teologi” pluralisme agama berada diatas agama-agama. “Global Theology” dan Transcendent Unity of Religions mulai dijual bebas. Tapi karena asalnya adalah kebencian maka ia menjadi tidak logis. Beliau mengibaratkan, jika anda mengatakan “Tidak ada kebenaran mutlak” maka kata-kata anda itu sendiri sudah mutlak, padahal anda mengatakan semua relatif. Kalau anda mengatakan “Semua adalah relatif” atau “Semua kebenaran adalah relatif” maka pernyataan anda itu juga relatif alias tidak absolute. Slogan “Semua adalah relatif” pun menemukan alasan baru “Yang absolute hanyalah Tuhan”. Aromanya seperti Islami, tapi sejatinya malah menjebak. Mulanya seperti berkaitan dengan masalah ontologi. Selain Tuhan adalah relatif (mumkin al-wujud). Tapi ternyata dibawa kepada persoalan epistemologi.

Artikel selanjutnya adalah “Problem moderat”, istilah moderat menurut Gus Hamid bisa diplesetkan menjadi sama arti dengan liberal. Atau bahkan bisa menjadi anti Islam dan pro-Barat. Inilah alat untuk mengalahkan apa yang mereka sebut radikalisme. Padahal untuk mengalahkan bayang-bayang fundamentalisme tidak perlu liberalism. Dan agar menang melawan hegemoni kolonialisme Barat tidak perlu ekstremisme. Kebajikanlah yang akan mengalahkan kejahatan atau kekerasan, vincit vim virtus.

“Pluralisme dan Islam” Gus Hamid menjelaskan tentang Doktrin pluralisme agama ini kini disebarkan kedalam wacana pemikiran Islam. Pengikut pertama doktrin teologi global dari Islam adalah Hasan Askari, sedangkan pengikut doktrin kesatuan transenden agama-agama adalah S.H. Nasr, namun pencetusnya sendiri Schuon yang dulunya Yahudi konon telah masuk Islam dan tetap pluralis. Beliau menerangkan bahwa para cendekiawan Muslim yang mengadopsi paham ini sekurangnya ada tiga kelompok. Pertama, Mereka yang memahami doktrin dan mempunyai agenda tersendiri. Kedua, Mereka yang tidak memahami doktrin ini karena pemikirannya terbaratkan. Ketiga, Mereka yang tidak memahami doktrin ini dan terbawa oleh wacana umum. Dari kelompok pertama dan kedua inilah muncul istilah-istilah asing seperti Islam inklusif, Islam pluralis, pluralisme dalam Islam dan sebagainya. Selain itu mereka juga mencari-cari justifikasi dari al-Qur’an dan Hadis. Cara yang mereka gunakan adalah dengan mendekonstruksi makna ayat dan hadis untuk disesuaikan dengan tujuan mereka.

Jadi prinsip pluralisme ala Peter L. Berger, Diana L. Eck atau lainnya atau doktrin pluralisme agama ala John Hick dan Schuon tidak berbeda. Pluralisme bukan prinsip mengenai toleransi, tapi relativisme kebenaran yang mengajarkan bahwa “Semua agama adalah sama”.  Di Barat pluralisme telah meresahkan dan merugikan pihak gereja, seperti yang akan dibahas sebentar lagi. Tapi di negeri ini para aktifis LSM menganggapnya “berkah” melimpah. Para cendekiawan dan beberapa ulama menerimanya dalam domain “ijtihad”, karena dianggap “baru” dan berdimensi universal meski asing bagi umat.

“Pluralisme dan Gereja” Gus Hamid menjelaskan tentang pengaruh Pluralisme terhadap semangat beragama yang menimbulkan kekhawatiran para petinggi gereja. Beliau memaparkan beberapa riset dari Para peneliti sosiologi agama. Para peneliti menemukan bahwa pluralism agama melemahkan keterlibatan masyarakat dalam agama. Bagi Finke and Stark (1988) dengan pluralisme monopoli keagamaan menjadi “malas” alias tidak semangat dan diganti dengan meningkatnya kompetisi antar agama agar sesuai dengan kebutuhan. Ketika Negara atau lembaga publik tidak lagi mengobarkan kebaikan suatu agama, maka pemeluk agama-agama itu akan kehilangan kualitas atau intensitas keimanan atau kepercayaan pada agamanya. Disitu keterlibatan masyarakat pada agama menjadi turun.maka, Semakin pluralis seseorang semakin rendah semangatnya pergi ke gereja.

“Perihal toleransi” Gus Hamid menjelaskan tentang sebab timbulnya kesenjangan dalam hal toleransi yang dianggap sebagai konflik antar agama itu sebenarnya bukan karena agama itu. Konflik yang sebenarnya, justru antara agama karena dibenturkan dengan sekularisme. Beliau menguatkan pernyataannya dengan mengutip pemaparan Peter Berger, sekularisme gagal dan diganti dengan pluralisme. Sikap eksklusif itu diganti menjadi sikap inklusif dan pluralis.

“Toleransi tanpa Pluralis” Gus hamid menjelaskan tentang bahaya pluralisme terhadap akidah umat islam. Pluralism adalah doktrin peradaban Barat postmodern yang mencoba membangun persamaan dari perbedaan dan bahkan cenderung menghilangkannya. Doktrin pluralisme agama melarang menganggap agama orang lain salah, dan agama sendiri paling benar, karena itu dianggap benih terorisme dan fundamentalisme. Jika cara berpikir seperti itu diterapkan kedalam sejarah pemikiran dan peradaban Islam, tentu Islam bertentangan dengan makna pluralisme seperti itu. Surat-surat Nabi mengajak raja Romawi, Persia, Ethiopia dan lain-lain untuk masuk Islam bertentangan dengan doktrin Pluralisme. Jika doktrin Pluralisme agama harus mengakui kebenaran agama lain, Islam hanya mengakui Islam yang paling benar disisi Allah (Sesungguhnya al-Din (yang diterima) disisi Allah adalah Islam). Jadi Islam adalah agama yang eksklusif dan tidak pluralis. Islam tidak datang ke suatu Negara untuk menjajah dan menguras kekayaan alam Negara itu, seperti yang dilakukan bangsa Barat ke negara-negara Islam.serangan Islam adalah al-fath, pembukaan dan bukan penjajahan. Seperti itulah cara Islam dalam bertoleransi.

Selanjutnya, “Eksklusif dan inklusif” Gus Hamid menjelaskan tentang Islam yang bersifat eksklusif. beriman kepada Allah dan hari akhir saja tidak cukup. Konsekuensi menerima konsep itu yang terpenting adalah masuk Islam. Artinya menerima enam rukun Iman dan lima rukun Islam. Tapi untuk mereka yang hidup sebelum kedatangan Nabi Muhammad, adalah beriman kepada Allah dan akhir seperti yang diajarkan oleh Nabi-nabi yang diutus kepada mereka. Menolak Islam manjadi tidak seperti tidak logis. Sebab jika agama-agama yang dibawa oleh Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad itu beriman pada Tuhan yang sama, mengapa ketika Tuhan yang sama berfirman tidak mereka indahkan. Malah Nabi Muhammad yang dimaki-maki. Kalau kita harus merespon wacana keagamaan di Barat yang berkembang dari eksklusif menuju inklusif dan pluralis, maka Islam mempunyai jawabannya. Islam adalah agama eksklusif. Sebab selain jalan Islam tidak dianggap selamat.

——

Buku yang diulas ini merupakan buku yang disusun dari sekumpulan artikel karya Dr.Hamid Fahmy Zarkasyi atau biasa dipanggil  Gus Hamid. Buku ini diterbitkan oleh INSIST dan MIUMI  pada tahun 2012. Buku ini sangat informatif  dan sangat dianjurkan terkhusus untuk intelektual muslim yang kritis.

Buku ini semakin menarik dilengkapi dengan pengalaman Gus Hamid di berbagai negara (sekuleristik) yang dapat menambah wawasan terutama terkait diskursus westernisasi dan dewesternisasi yang dibahas di beberapa sub-bab.

Disatu sisi, karena sifatnya yang parsial, buku ini cukup ringkas dan padat. Maka akan terdapat kesulitan tersendiri bagi pembaca yang belum akrab dengan bacaan buku-buku lain dengan tema sejarah pemikiran Islam,peradaban Islam dan Sejarah pemikiran Barat dan sejenisnya. Karena terdapat beberapa istilah yang harus dipahami secara khusus dan tidak instan.

 

*Ratna Dwi Ambarwati merupakan Penggiat Studi Wawasan Islam, Ia masih menempuh Studi S1 Kriya Tekstil di Universitas Sebelas Maret Surakarta

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: