IKHTISAR BUKU WAJAH PERADABAN BARAT

IKHTISAR BUKU

WAJAH PERADABAN BARAT

Dari Hegemoni Kristen Ke Dominasi Sekuler-Liberal

Dr. Adian Husaini, M.A

 

Peradaban Barat Dari Transenden Menjadi Sekuler-Liberal

Episode-episode, narasi-narasi, dan artis-artis kebudayaan Barat telah membius dunia melalui pengaruh, pemikiran, maupun produk-produk budayanya. Barat selalu menjadi tolok ukur untuk istilah-istilah seperti modernitas, kemakmuran, perdamaian, kesetaraan, dan penghargaan terhadap hak asasi manusia. Narasi-narasi itulah yang menggambarkan seolah peradaban Barat adalah peradaban yang unggul dan seperti peradaban nirmala (tanpa cacat, tanpa cela). Hingga akhirnya, peradaban Barat, khususnya direpresentasikan oleh Amerika Serikat (AS) menasbihkan diri sebagai world guardian (penjaga dunia).

Narasi-narasi tentang Barat sebagai penjaga dunia bisa dilihat dari produk-produk kebudayaan popular yang sengaja didoktrinkan kepada seluruh penduduk dunia. Karakter-karakter fantasi dari dua perusahaan komik terbesar di Amerika Serikat yaitu DC Comics dan Marvel Studios secara tidak langsung telah meracuni pemikiran penduduk dunia, khususnya anak-anak bahwa Barat adalah penjaga dunia. Karakter-karakter fantasi seperti Superman, Batman, Wonder Woman, Spiderman, Iron Man, Captain America dan sebagainya telah memberikan sebuah pemahaman bahwa apabila terdapat kekacauan dunia maka karakter-karakter yang dibuat oleh peradaban Barat tersebut adalah penyelamat dan sekaligus solusinya. Dalam film fantasi The Avengers yang diproduksi oleh Marvel Studios pada tahun 2012 menggambarkan bagaimana apabila dunia mengalami kehancuran dan mendapatkan serangan dari dunia lain telah terdapat karakter-karakter Superhero yang bisa menjadi penyelamat dunia. Adapun menariknya adalah ukuran dari kehancuran dunia dilihat dari kehancuran dari kota yang dijuluki The Big Apple, New York City. Siapapun musuhnya dan siapapun pahlawan supernya, New York selalu menjadi latar tempatnya. Sebagai informasi New York adalah sebuah kota yang pernah menjadi ibukota Negara Amerika Serikat sebelum dipindahkan ke Washington DC dan di kota ini pula markas PBB bernaung. Secara langsung proses indoktrinasi melalui budaya popular ini sangat sukses membius hampir seluruh penduduk dunia.

Peradaban Barat adalah peradaban yang terbentuk tidak karena faktor tunggal tetapi banyak faktor yang membentuk peradabannya atau bahkan tidak memiliki sisi keaslian. Roger Garaudy mengatakan “Barat adalah suatu kebetulan. Kebudayaannya adalah suatu hal yang tidak wajar, karena tidak mempunyai dimensi asli”[1]. Semenjak beberapa abad silam, kebudayaan Barat mengaku sebagai kebudayaan yang diwariskan dari dua kebudayaan yaitu kebudayaan Yunani Romawi dan Yahudi Kristen. Sampai dengan taraf ini perlu adanya penjelasan-penjelasan lanjut mengenai peradaban Barat. Dalam teori Melting Pot peradaban Barat ini adalah layaknya semangkuk bubur yang mau menerima semua peradaban yang lain. Namun demikian kenyataannya ada satu peradaban yang ditolak sumbangsihnya oleh peradaban Barat, yaitu peradaban Islam. Sejarah menunjukkan peradaban Barat mestinya berterima kasih kepada peradaban Islam yang memberikan sumbangsih yang besar kepada peradaban Barat, yaitu ketika sumbangsih terhadap sains yang dikembangkan oleh Kekhalifahan Andalusia.

Pada mulanya peradaban Barat adalah peradaban yang bersifat transenden. Cara hidup masyarakat berdasarkan pada iman Kristiani dan pandangan dari 10 perintah Tuhan dalam Perjanjian lama. Sebagai contoh adalah masyarakat imigran pertama yang menetap di Amerika Serikat adalah kaum Puritan. Kaum Puritan adalah pada mulanya adalah masyarakat peziarah yang menetap di New England. Masyarakat bermigrasi karena kondisi dan kedudukan mereka terancam oleh Gereja Anglikan. Mereka juga menolak konsep Monarki Kristen yang dikembangkan di Inggris Raya. Kaum Puritan berencana mendirikan sebuah Negara bukan berbentuk monarki dan Negara ini didasari atas semangat dari iman Kristen. Dari Inggris Francis Higgison mengatakan kepada segenap kaum Puritan sebelum berlayar menuju Amerika, yaitu

“We do not go to New England as Separatist from Church of England: though we cannot but separate from corruptions in it, but we go to practice the positive part of church reformation and propagate the gospel in America.”[2]

Adapun yang dimaksudkan dengan “positive part of church reformation” adalah tidak mengakui adanya toleransi. Masyarakat Puritan menolak orang-orang yang tidak sejalan dengan iman Kristen mereka, sehingga orang yang berbeda aliran bahkan gereja tidak termasuk ke dalam koloni mereka. Meskipun koloni bertujuan untuk mendirikan sebuah Negara Kristen, pemerintahannya tidak terdiri dari pendeta. Untuk mengelola pemerintahan sederhana mereka ditunjuklah orang-orang dari koloni dengan kualifikasi orang-orang itu dikategorikan sebagai orang-orang jujur dan baik. Mereka ditunjuk untuk pengembangan koloni, akan tetapi mereka hanya dapat memberikan nasehat dan himbauan saja. Mereka tidak memiliki jabatan penting di pemerintahan. Segala keputusan berdasarkan atas suara terbanyak di koloni. Doktrin teologi yang dikembangkan oleh masyarakat Ne England adalah kewenangan untuk menyusun oligarki yang dikuasai oleh para Kudus, dan doktrin itu mengikat individualism, doktrin pertaubatan pertobatan Protestan. Lalu konsep demokrasi liberal yang berdasarkan suara terbanyak digunakan di masyarakat koloni  Puritan ini. Dengan memiliki alkitab sebagai panduan, kaum Puritan ini mendirikan sebuah konsep tatanan masyarakat berdasarkan Bibel mereka. Sekarang hasilnya adalah  corak karakter bangsa Amerika selalu didasari pada kebudayaan orang kulit putih yang tergolong sebagai WASP (White Anglo Saxon Protestan) yang sangat dominan dalam kehidupan masyarakat Amerika.

Racun Penyakit LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender)

Seiring bertambahnya waktu peradaban Barat yang dibangun dengan semangat iman Kristiani mengalami hambatan karena pada asalnya konsep iman Kristen menolak adanya perkembangan ilmu pengetahuan yang juga bertentangan dengan Bibel. Adanya kebingunan terhadap konsep Ketuhanan dan dukungan kepada ilmu pengetahuan yang lemah telah memicu ambiguitas dalam iman Kristiani masyarakat. Setidaknya perkembangan paham liberalisme menambah kekacauan itu semakin parah. Salah satunya adalah adanya permasalahan moral dalam masyarakat Barat, yaitu homoseksulitas. Dalam Bibel, Kitab Kejadian 19: 4-11, diceritakan tentang hukuman Tuhan terhadap kaum Sodom dan Gomorah. Pada umumnya, kaum Kristen memahami, bahwa praktik homoseksual adalah penyebab kaum itu dihancurkan oleh Tuhan.

Akan tetapi sebagian teolog Kristen, pendukung homoseksual memberikan penafsiran berbeda. Ada sekelompok kaum Katolik mendirikan perkumpulan gay yang dinamakan “Dignity” yang mengajarkan bahwa praktik homoseksual tidak bertentangan dengan ajaran Kristus. Hal ini diperkuat dengan pendapat Teolog lain, Gregory Baum, yang mengatakan bahwa jika kaum homoseksual tidak bertentangan dengan naluri manusia. Pada tahun 1976 dalam sebuah pertemuan tokoh-tokoh gereja di Minneapolis, AS dideklarasikan bahwa kaum homoseks adalah anak-anak Tuhan. Apa yang diungkapkan oleh para teolog dan tokoh gereja tersebut sangat bertentangan dengan apa yang dituliskan di Bibel tentang kisah kaum Luth, Sodom dan Gomorah.

Puncak prahara tentang gerakan LGBT yang telah menyusupi kalangan gereja yaitu diangkatnya Gene Robinson, seorang homoseks, menjadi uskup gereja Anglikan di New Hampshire pada November 2003. Keputusan ini mengakibatkan gerakan LGBT mendapatkan legitimasi dari kalangan gereja. Dalam mengungkapkan ekspresi homoseksualnya, Gene Robinson tidak melakukannya secara diam-diam dan bahkan dia menunjukkannya kepada publik. Sewaktu menjadi tokoh gereja, Robinson sudah diketahui oleh masyarakat bahwa dirinya adalah seorang homoseks dan pasangannya adalah Mark Andrew. Jadi masyarakat pun mengetahui hal tersebut dan seperti mendukung perbuatan itu.

Majalah The Economist edisi 6 Januari 1996 menulis suatu essay dengan judul “Let them wed” yang intinya adalah ajakan untuk membiarkan kaum lesbian dan gay diberi hak hukum untuk melangsungkan perkawinan. Alasan yang dibangun adalah mengapa orang yang mau melakukan tindakan yang tidak merugikan orang lain harus dilarang? Bukankah itu adalah hak individualnya. Dasar logika yang digunakan adalah “hak dan kebebasan individu” dan “tidak merugikan orang lain”. Lalu awal tahun 2004, negara bagian AS, Massachusetts menegaskan bahwa melarang perkawinan sejenis adalah melarang hak asasi dan bertentangan dengan hukum negara bagian serta hukum federal. Adanya yurisprudensi ini pasangan homoseks berlomba-lomba mendaftarkan diri dan akhirnya beribu-ribu lisensi perkawinan telah dikeluarkan pemerintah untuk pasangan homoseks di San Francisco. Bahkan Presiden George W. Bush dalam pidato politiknya menekankan bahwa larangan terhadap larangan perkawinan sejenis harus dihapus dan mengupayakan mengamandemen konstitusi. Akhirnya gerakan LGBT mendapatkan pengakuan dari pemerintah AS. Sejak 9 Juli 2015 perkawinan sejenis mendapatkan pengakuan di hampir seluruh negara bagian di Amerika Serikat. Sejak itu gerakan LGBT yang sukses di Amerika Serikat ini juga ingin disebarluaskan ke seluruh dunia, bahkan apabila tidak mendukung maka bantuan terhadap negaranya akan diberhentikan.

Perselingkuhan dengan Zionisme

Perseteruan antara Kristen dan Yahudi sepertinya tidak berlangsung lagi di era millennium. Sejak dahulu doktrin yang dibangun gereja yaitu kaum Yahudi adalah kaum yang telah membunuh Yesus dan mereka harus dimusuhi. Namun masalah Israel dan Palestina mengubah semua itu. Persekutuan antara Zionis Yahudi, Kristen Fundamentalis, dan intelektual neo-konservatif yang berupaya untuk membela kepentingan Israel telah mengubah pandangan tentang hubungan Kristen dan Yahudi di masa lalu. Ini merupakan sukses dari gerakan Zionis Yahudi dengan paham Zionisme.

Apa itu “Zionisme”?

Zionisme adalah satu ideologi sekuler yang mungkin sangat kuat dan masif di abad ke-20. Ideologi ini sangat sukses mencapai tujuan. Berawal dari peristiwa anti-semitism (meskipun sebenarnya antiJews) di Eropa, ideologi ini disusun untuk membentuk sebuah negara Yahudi. Hanya dalam tempo waktu 50 tahun sebuah negara Yahudi bisa dibentuk melalui gerakan zionisme ini. Kongres Zionis Pertama pada tahun1897 dan negara Yahudi pertama yang diberi nama Israel berdiri pada 14 Mei 1948.

Istilah zionisme diambil dari sebuah bukit bernama Zion di Jerusalem. Kata zion diambil dari alkitab yaitu Mazmur 9:12 menyebutkan “Bermazmurlah bagi Tuhan yang bersemayam di Sion”. Sejak Raja David (Daud) menaklukan Jerusalem dan menjadikannya sebagai ibukota kerajaan. Jerusalem menjadi sebuah pusat penting bagi Yahudi dan segala peribadatannya. Kemudian kota itu identik dengan seluruh wilayah yang disebut sebagai Eretz Yisrael (Israel Raya). Meskipun Zionisme diartikan sebuah gerakan yang identic dengan Yahudi akan tetapi ada beberapa kelompok organisasi Yahudi yang menentang gerakan ini. Mereka adalah the Heredim Movement dan Naturei Karta. Kelompok Haredim memandang bahwa memang memang tanah Israel sudah dijanjikan kepada Yahudi. Lalu Tuhan mencabut tanah ini dari mereka karena kaum Yahudi mengkhianati perjanjian dengan Tuhan. Mereka menganggap dengan menjalankan ajaran agama Yahudi mereka percaya bahwa tanah yang dijanjikan akan diberikan kepada mereka kembali. Mereka juga memandang usaha yang sangat revolusioner yang dilakukan Zionis adalah bentuk ketidaksabaran atas janji Tuhan kepada Yahudi.

Naturei Karta menjadi kelompok yang sangat menentang Zionisme dan mereka menganggap Zionis itu tidak bertuhan. Mereka menentang Zionis yang mempergunakan kekerasan untuk mendirikan Israel. Naturei Karta adalah salah satu kelompok Yahudi yang turut membela perjuangan Palestina dan menyerukan internasionalisasi kota Jerusalem. Ideologi yang dibangun oleh kelompok Naturei Karta ini disandarkan atas ajaran Talmud yang menyebutkan perintah Tuhan agar tidak (1) menggunakan kekerasan untuk mengembalikan “Tanah Israel”, (2) memberontak kepada negara dimana kaum Yahudi tersebar, dan (3) mempercepat datangnya messiah secara prematur (dimana kepercayaan mereka menganggap messiah akan muncul ketika seluruh kaum Yahudi bisa datang ke tanah yang dijanjikan). Meskipun demikian kelompok yang menentang gerakan Zionisme tidak lebih banyak daripada kelompok yang membela gerakan ini, bahkan sangat banyak yang membela kelompok ini.

Siapakah tokoh pelopor Zionisme?

Theodore Herzl adalah tokoh yang sangat penting bagi gerakan Zionime. Dialah “Bapak Gerakan Zionis Modern”.  Herzl lahir pada 2 Mei 1860 di Pesta (1872 berubah menjadi Budapest), Hungaria. Sebenarnya Herzl mempercayai teori asimilasi yang menjelaskan bahwa kaum Yahudi bisa berbaur dengan masyarakat Eropa (karena pada saat itu kaum Yahudi dipandang sebelah mata oleh masyarakat Eropa). Namun peristiwa pengadilan Kapten Alfred Dreyfus, seorang Yahudi yang dituduh melakukan gerakan spionase, mengubah pemikirannya dan menganggap ada semangat anti-Yahudi disini. Tahun 1896 dia menulis sebuah pamphlet berjudul “Der Judenstaat” (A Jewish State) “Negara Israel”. Tulisannya ditentang oleh tokoh dan rabi Yahudi. Herzl yang dibantu oleh para bankir Yahudi melobi tokoh-tokoh penting hingga akhirnya dia bisa menginisiasi munculnya Kongres Zionis Pertama. Meskipun rencananya untuk menyelenggarakan Kongres Zionis Pertama di Munich digagalkan tetapi dia berhasil memindahkan kongres itu ke Basel, Swiss.

Herzl sangat aktif mempropagandakan konsep Negara Israel. Dia sangat aktif melobi tokoh-tokoh penting saat itu, seperti Kaisar Jerman Wilhem II, Paus Pius X, menteri-menteri Rusia seperti Count Sergei Yulievich dan Vyacheslav Pleve, menteri-menteri Inggris, seperti Neville Chamberlain, David Lyord George, Arthur Balfour, Raja Italia Victor Emanuel II, dan bahkan Khalifah Utsmani Sultan Abdulhamid II. Infiltrasi dari gerakan Zionisme dari Herzl ini jugalah yang menjadi salah satu sebab musabab kejatuhan Kekhalifahan Turki Utsmani. Meskipun Sultan Abdulhamid II sudah bisa mengendus gerakan ini akan tetapi sudah terlambat karena gerakan Zionisme ini sudah mengakar di kalangan kaum muda.

Tahun 1899, dua tahun setelah Kongres Pertama Zionis, Herzl membuka organsasi sayap di Salonika yang dinamakan sebagai Kadimah. Organisasi ini diikuti oleh intelektual, wartawan, pedagang, dan sebagainya. Awalnya organisasi ini bertujuan untuk menyebarkan pelajaran bahasa Ibrani, mencerahkan dan memperkuat kepercayaan agama dengan memajukan studi Yahudi. Aktivitasnya adalah perpustakaan, peminjaman buku, diskusi, seminar, dan kursus bahasa Ibrani. Tidak disangka Kadimah juga melakukan gerakan politik bawah tanah. Bekerja sama dengan Committee and Union Progress (CUP) – organisasi yang dibentuk Gerakan Turki Muda. Mereka melakukan infiltrasi dan fitnah kepada pemerintahan Sultan Abdulhamid II. Akhirnya tahun 1908 meletus Revolusi Turki yang ingin mengubah Turki dari sistem kekhalifahan menjadi nation state. Setelah Revolusi 1908, penguasa sebenarnya Turki adalah CUP. Di tahun ini juga World Zionist Organization didirikan di Istambul dibawah selubung organisasi perbankan, The Anglo Levantine Banking Company”. Sultan Abdulhamid II mencium adanya gerakan bawah tanah dan dia memerintahkan untuk menangkap dan memberangus gerakan Zionis. Karena sikap dan kebijakan Sultan Abdulhamid II ini asosiasi Zionis membentuk gerakan klandestein (gerakan diam-diam/spionase) dengan menggunakan berbagai selubung. Gerakan Zionis, CUP, dan ditambah intelektual yang aktif di loji Freemason di Salonika menyusun gerakan untuk menjatuhkan Sultan Abdulhamid II. Akhirnya 3 Maret 1924 jatuhlah Kekhalifan Turki Utsmani karena sebab salah satunya adanya konspirasi yang dibentuk gerakan Zionis, CUP, dan freemasonry. Kiprah Zionis ini disebut sebagai “Smart Rebellion”, karena tidak menggunakan senjata tetapi melalui infiltrasi pemikiran.

Gerakan Zionis yang ingin mendirikan Negara Israel Raya ini diamini dan didukung oleh kelompok Kristen Fundamentalis yang menggunakan legitimasi ayat-ayat Bibel dalam mendukung Israel tentang hak Palestina kepada Israel pada Kitab Kejadian  12:3, yaitu:

“Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat”.

Puncak gerakan Zionis ini adalah diundangkannya Undang-Undang Amerika Serikat Kedutaan Besar Jerusalem tahun 1995 (Jerusalem Embasy Act 1995) masa pemerintahan Presiden Bill Clinton yang disahkan oleh Kongres ke 104 pada tanggal 23 Oktober 1995. Hingga akhirnya kini pada tanggal 6 Desember 2017, pemerintahan Presiden Donald Trump mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel, dan memulai pemindahan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Jerusalem.

 

Skenario Penghancuran Islam Abad ke-20 Hingga Sekarang: Samuel P. Huntington dan Bernard Lewis

Begitu komunisme jatuh yang ditandai dengan runtuhnya tembok Berlin yang memisahkan antara Jerman Timur dan Jerman Barat pada tahun 1989 dan bubarnya Uni Soviet 1991 yang ditandai dengan  deklarasi Perestroika (restruturisasi) dan Glasnost (keterbukaan) oleh Michael Gorbachev, pemimpin Uni Soviet saat itu, dengan cepat diskusi-diskusi dan wacana-wacana yang dikembangkan tentang “ancaman Islam” muncul di media masa Barat dan para intelektual. Samuel P. Huntington, salah satu ilmuwan politik dari Universitas Harvad mengemukakan tentang bahaya Islam dan Barat harus memberikan perhatian khusus terhadap Islam. Dia mempopulerkan tentang wacana “clash of civilization” melalui bukunya yang sangat terkenal “The Clash of Civilization and the Remaking of World Order” pada tahun 1996. Huntington berpendapat bahwa peradaban besar yang berpotensi bisa melemahkan dan menghancurkan peradaban Barat adalah peradaban Islam.

Pasca Tragedi WTC 11 September 2001 dia menulis di Majalah Newsweek Special Davos Edition (2001) yang berjudul “The Age of Muslim Wars” dan dia mencatat bahwa terjadinya kemungkinan benturan peradaban kini telah hadir dan politik global masa kini adalah perang terhadap muslim. Dia juga menekankan benturan peradaban ini dilandasi konflik lama yang sudah berumur ribuan tahun antara Islam dan Kristen—baik itu Kristen Ortodoks maupun Kristen Barat. Dalam sebuah dialog dengan Anthony Giddens, Huntington mengambil data dari majalah The Economist yang memaparkan bahwa 32 konflik besar yang terjadi mulai tahun 2000 adalah konflik antara muslim dan non-muslim. Maka dari itu Huntington menyarankan kepada otoritas pemerintahan Barat untuk melakukan preemptive-strike (serangan dini) terhadap ancaman dari kaum militan Islam. Ya, melalui Hungtinton penyebutan untuk gerakan-gerakan Islam menjadi beragam. Dia menyebut bahwa “Islam Militan” atau “Islam Radikal” adalah kelompok-kelompok yang patut diwaspadai oleh otoritas Barat. Dia memadang kelompok-kelompok Islam yang memandang Islam yang turut serta berpolitik dan Islam yang melaksanakan hukum syariatnya adalah kelompok Islam militant yang harus diawasi bahkan perlu dikendalikan atau dihentikan.

Huntington menulis ada beberapa faktor yang menyebabkan meningkatnya konflik antara Islam dan Barat dalam bukunya The Clash of Civilization, yaitu (1) pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk negara yang mayoritas muslim yang pesat dapat menyebabkan jumlah pengangguran yang meningkat sehingga memunculkan ketidakpuasan dikalangan kaum muda; (2) adanya rasa Kebangkitan Islam (Islamic Resurgence) yang membangkitkan romantisme akan kejayaan peradaban Islam masa lalu; (3) Upaya Barat menglobalkan nilai dan institusinya–yang sesungguhnya hanya  untuk memperkuat superioritas dalam hal ekonomi dan militer dengan turut ikut campur dalam permasalahan negara Islam–, telah mengakibatkan resistensi dari kaum muslim; (4) runtuhnya Uni Soviet mengakibatkan musuh bersama antara Islam dan Barat menjadi tidak ada, sehingga ada timbul kecurigaan dan masing-masing menganggap sebagai ancaman. Sejarah pernah mencatat bahwa antara kaum Islam dan Barat pernah bekerja sama memerangi komunisme (Uni Soviet) yaitu salah satunya adalah peperangan di Afghanistan; (5) peningkatan interaksi antara Islam dan Barat menimbulkan kesadaran diri akan identitas bahwa mereka berbeda satu dengan yang lain. [3] Huntington juga menambahkan bahwa sikap toleransi antara Barat dan Islam telah merosot tajam yang telah dimulai pada decade 1980-an dan 1990-an.[4]

Dengan cara pandang seperti itu sensitivitas antara Barat dan Islam sangat rentan. Oleh karena itu Huntington berpendapat bahwa promosi dan penyebaran akan nilai-nilai dan institusi-intitusi Barat perlu dilakukan di dunia Islam, yaitu seperti demokrasi, HAM, model ekonomi, pluralisme, dan sekularisme. Penyebarluasan nilai-nilai dan institusi-institusi peradaban Barat ini dapat mengurangi potensi konflik antara Barat dan Islam.

Sebelum Samuel P. Huntington, ilmuwan Barat yang terlebih dulu mempopulerkan wacana the clash of civilization adalah Bernard Lewis. Dia adalah seorang ilmuwan politik yang merupakan guru besar keturunan Yahudi dari Princeton University. Para cendekiawan merumuskan bahwa unsur pokok suatu peradaban (civilization) adalah agama. Agama merupakan faktor penting menentukan karakteristik suatu peradaban. Bernar Lewis juga menjelaskan bahwa peradaban Barat adalah “Christian Civilization”, dengan unsur utamanya adalah agama Kristen. Maka dapat dikatakan bahwa benturan peradaban pun tidak akan dapat dielakan karena konflik ini sudah berjalan ribuan tahun yang lalu.

Lewis juga berpendapat bahwa paham-paham yang anti-Barat (anti-Westernism), khususnya anti-Amerika (anti-Americanism) adalah derivasi gabungan antara unsur-unsur ‘penghinaan’, ‘kecemburuan’, dan ketakutan. Aliran Lewis ini berbeda dengan cendekiawan dengan aliran Third World bahwa munculnya semangat anti-barat adalah dampak kebijakan politik Barat. Sebagai contoh kebijakan Barat dengan dukungan kepada rezim-rezim represif otoriter dunia Islam dan dukungan sepihak terhadap Israel. Dia juga sependapat dengan Huntington bahwa muslim fundamentalis yang anti-Barat adalah musuh peradaban Barat. Lewis mengkarakteristikan muslim fundamentalis yang merupakan musuh Barat itu antara lain, (1) menganggap masalah yang dihadapi Muslim sebagai dampak modernisasi yang berlebihan dan mengkhianati nilai-nilai Islam yang murni; (2) menganggap obat dari semua itu adalah kembali kepada Islam sejati dan sekaligus menghapuskan semua hukum dan aspek sosial yang dipinjamkan dari Barat, serta menggantikannya dengan syariat; (3) menganggap bahwa perjuangan tertinggi melawan pengkhianat di dunia Islam yang melakukan Westernisasi.[5] Lewis juga menggolongkan muslim dalam relasinya dengan Barat, yaitu (1) yang melihat secara Barat secara umum dan menganggap Barat sebagai penghalang keimanan dan hukum Tuhan dan satu-satunya jalan adalah perang dengan Barat; (2) kalangan muslim yang berpegang dengan kepercayaannya dan budayanya, tetapi mau bergabung dengan Barat untuk menciptakan perdamaian dan dunia yang lebih baik; (3) Muslim yang melihat Barat sebagai musuh utama. Tapi, karena sadar besarnya kekuatan Barat, mereka melakukan akomodasi sesaat, untuk mempersiapkan perjuangan akhir.[6]

Sebenarnya apa yang dilakukan orang-orang seperti Samuel Huntington dan Bernard Lewis ini tentang relasi antara Islam dan Barat merupakan bagian dari skenario neo-konservatif. Hal ini dilakukan untuk menggelorakan pertentangan peradaban setelah kehancuran komunis. Scenario konservatif ini untuk menciptakan ‘Tatanan Dunia Baru’ “New World Order” dan pemerintahan dunia dengan sistem yang satu “El Pluribus Unum”. Siapakah neo-konserfvatif itu? Mereka adalah Yahudi-Zionis, Kristen Fundamentalis dan ilmuwan neo-orientalist.

Invasi Barat dalam Pemikiran Islam

Berbagai upaya Barat untuk menekan Islam telah memenuhi kegagalan mengubah kompas kebudayaan Islam menuju kebudayaan Barat. Semenjak tembok Berlin runtuh dan Uni Soviet bubar, kekuatan Islam menjadi momok tersendiri bagi peradaban Barat. Kekuatan Islam yang pernah berjaya dengan peradaban Turki Utsmaniyah dianggap sebagai ancaman serius bagi peradaban Barat. Setelah Kristen di Barat-kan kini giliran Islam. Tentu saja untuk mem-Barat-kan Islam tidak dengan kekuatan senjata karena seperti diketahui persatuan Islam dalam hal memperjuangkan agama sangatlah kuat. Raymond Lull salah satu misionaris ternama mengatakan “Islam tidak dapat ditaklukkan dengan ‘darah dan air mata’, tetapi dengan ‘cinta kasih’ dan doa.”  Itulah upaya-upaya yang dilakukan para pemikir Barat dengan jalan menginfiltrasi pemikiran Barat terhadap pemikiran Islam.

  • Sekulerisme

Sudah menjadi rahasia umum bahwa peradaban Barat menjadi standar ukuran bagi segala perababan di belahan dunia. Misalnya, seorang aktor dan aktris yang sukses haruslah sudah bermain di Hollywood. Seorang akademisi yang cerdas dan terpandang harus sudah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi baik di Eropa maupun Amerika. Ukuran-ukuran tersebut yang diyakini sebagian besar masyarakat dan mendudukan western culture sebagai worldview (pandangan alam) untuk kehidupan. Namun demikian itu adalah pandangan-pandangan yang meletakkan pada unsur keduniawian. Berbeda dengan kebudayaan Barat, Islam adalah agama yang mengatur aspek duniawi dan ukhrawi, sehingga ukuran-ukurannya pun berbeda. Sebagai contoh, berderma atau bersedekah apabila kita pakai ukuran dunia adalah mengurangi harta, namun agama menganjurkan bersedekah dan untuk akan dapat menambah rezeki. Menurut pandangan Barat, konsep-konsep dalam pemikiran Islam tidaklah rasional dan menganggap ini adalah hal yang kolot dan ketinggalan jama. Dus mereka berupaya untuk mengubah pola piker tersebut dengan jalan menginvasi pemikiran Islam dengan pemikiran Barat seperti sekularisme, liberalisme, dan pluralisme.

Barat menganggap agama adalah ancaman serius bagi demokrasi. Maka dari itu perlu adanya pemisahan antara agama dan Negara. Para penganut paham liberal menganggap bahwa urusan agama harus diserahkan kepada pribadi umat masing-masing dan Negara tidak boleh turut campur dalam hal ini. Pemahaman ini mendorong para pemikir liberal untuk mempromosikan sekularisasi dan sekulerisem sebagai dasar legitimasi pemisahan hubungan antara agama dan Negara. Harvey Cox, penulis buku The Secular City yang menjadi rujukan berbagai pihak pendukung sekularisasi mengatakan, sekularisasi adalah pembebasan manusia dari asuhan agama dan metafisika, pengalihan perhatiannya dari ‘dunia lain’ menuju dunia kini.  Cox yang ingin melepaskan jeratan Kristen terhadap Negara nampaknya juga diikuti oleh salah satu pengagumnya di tanah air yaitu Nurcholish Madjid. Cak Nur, demikian Nurcholish kerap dipanggil menganggap bahwa sekularisasi tanpa sekulerisme, yaitu proses penduniawian tanpa paham keduniawian, bukan saja mungkin, bahkan terjadi dan terus akan terjadi dalam sejarah. Sekularisasi tanpa sekulerisme adalah sekulerisasi terbatas dan dengan koreksi. Pembatasan dan koreksi itu diberikan oleh kepercayaan akan adanya Hari Kemudian dan prinsip Ketuhanan. Sekulerisasi adalah keharusan bagi umat beragama, khususnya umat Islam.  Apa yang diungkapkan oleh Cak Nur tersebut senada dengan Cox, yang menjelaskan bahwa sekulerisasi adalah merupakan suatu keharusan bagi Kristen. Jika Cox mencari landasan sekularisasi dalam Bible maka Cak Nur mencari justifikasi dalam ajaran-ajaran agama Islam. Setali tiga uang pemikiran mereka terkait sekularisasi adalah sama.

Pada penafsiran lain Cak Nur memberikan gambaran konsep tentang Negara Islam dan Partai Islam. Dia berpendapat:

“Dari tinjauan yang lebih prinsipil, konsep Negara Islam adalah suatu distorsi hubungan proporsional antara agama dan negara. Negara adalah salah satu segi kehidupan duniawi yang dimensinya adalah rasional dan kolektif, sedangkan agama adalah aspek kehidupan yang dimensinya spirituial dan pribadi.”

Terhadap pendapat dari Cak Nur tersebut, Prof. H.M. Rasyidi berkomentar:

“Kata-kata tersebut bukanlah kata-kata orang yang percaya kepada al Qur’an, akan tetapi merupakan kata orang yang pernah membaca injil. Dalam Mathius Bab 22 ayat 21: Berikan kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan Kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Nurcholish Madjid sebenarnya awalnya adalah seseorang yang sangat anti terhadap pemikiran barat. Menurut catatan Ahmad Wahib dalam Buku Pergolakan Pemikiran Islam, tentang Nurcholish Madjid, “Pada bulan Oktober 1968 berangkatlah Nurcholish ke AS atas undangan State Department. Orang yang anti Barat diundang untuk melihat Negara Barat terbesar. Seorang pejabat Kedutaan Besar AS yang ditanya mengapa Nurcholish diundang ke Amerika menjawab, “Sekedar memperlihatkan apa yang dia benci selama ini…” Setelah pulang pemikiran Nurcholish terhadap Barat pun berubah dan dia mulai tertarik pada hal yang berbau humanisme yang dicapnya sebagai agama baru.”

Lebih jauh Muhammad Tahir Azhary, dalam disertasinya Fakultas Hukum Universitas Indonesia menjelaskan bahwa sekulerisme sebagai “paham yang ingin memisahkan atau menetralisir semua bidang kehidupan seperti politik dan kenegaraan, ekonomi, hukum, sosial budaya dan ilmu pengetahuan teknologi dari pengaruh agama atau hal-hal yang ghaib. Lalu, sekularisasi adalah usaha-usaha atau proses yang menuju kepada keadaan sekuler yang meniadakan atau menetralisir agama atau hal-hal ghaib. Sedangkan, Negara sekuler adalah Negara yang tidak memberikan peran agama dalam kehidupan bernegara. Agama telah diasingkan dari kehidupan Negara dalam berbagai sektornya. Ciri Negara sekular paling umum adalah dihapusnya pendidikan agama di sekolah umum.”

Upaya-upaya memisahkan agama dan Negara merupakan bentuk pengingkaran terhadap keniscayaan ajaran agama Islam. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa Islam mengatur aspek duniawi dan ukhrawi sehingga kesempurnaan model Islam itu sangat sesuai dengan segala zaman. Apabila kita berpijak bahwa Islam sebagai agama sejarah maka ukuran-ukuran keduniawian terpaksa dan cenderung dipaksakan agar Islam bisa mengikuti zaman yang sudah mengalami kemunduran. Akan tetapi kalau pola fikir meletakkan bahwa Islam sebagai agama wahyu (revealed religion) maka kebenaran yang ada dalam ajaran Islam tidak dapat dibantahkan karena Islam hadir untuk memperbaiki keadaan seperti yang terjadi pada zaman jahiliyah. Kemudian sekularisme dan sekularisasi adalah hal yang cenderung dipaksakan dan paham liberal hanya justu untuk justifikasi dalam upaya pem-Barat-an Islam.

  • Pluralisme

Pluralisme agama (religious pluralism) adalah paham tentang “pluralitas”. Paham yang melihat keragaman berbagai agama-agama dan memandang semua agama adalah benar hanya jalannya yang berbeda. Meskipun paham ini berkembang di Barat, namun justru istilah ini mulanya tidak dikenal dalam teologi gereja. John Hick –salah satu tokoh utama paham pluralisme agama–mengajukan gagasan pluralisme sebagai gagasan inklusivisme. Bahwa, agama adalah jalan berbeda-beda menuju keparipurnaan (the Ultimate). Ia juga mengutip dari Jallaudin Rumi “lampu-lampunya berbeda namun cahaya-cahayanya sama. Ia datang dari atas”. Menurutnya, “Sang Wujud”, “Ada” yang merupakan tujuan akhir dari pandangan beragama, merupakan konsep universal. [7]Dalam istilah Barat disebut sebagai “ultimate reality”.

Para promotor paham pluralisme di Indonesia selalu menyandarkan perlunya memeluk paham pluralisme keagamaan dengan Konsili Vatikan II (1962-1965). Konsili paling besar yang digelar dalam sejarah Kristen yang mencatat berbagai perubahan penting dalam konsep teologi Kristen dan sikap Vatikan terhadap Kristen non-Katolik dan agama-agama lain. Salah satunya pandangan terhadap Islam, disebutkan “Gereja memandang orang-orang muslim dengan sikap hormat. Mereka menyembah Allah Yang Maha Esa yang hidup da nada, Maharahim dan Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi…” Namun demikian, konsili juga tetap bertahan pada kebenaran eksklusifitas teologi gereja Katolik, dengan menyerukan misi Kristen kepada seluruh umat manusia di dunia.

Wilfred Cantwell Smith, pendiri pusat kajian Islam McGill University, menulis gagasan yang berjudul Theology and World’s Religious History. Dia berpendapat bahwa gagasan tentang “a universal theology religion” atau “teologi agama universal” itu mutlak adanya. Dia juga berpendapat “visi tersebut dibawa oleh sekelompok kecil  minoritas Kristen; kami mungkin minoritas kecil tapi sesuatu yang terus tumbuh”. Ide ini diakuinya adalah ide baru radikal dari fase-fase awal sejarah ke-Kristenan. Ide tentang teologi agama universal ini juga dikemukakan oleh Leonard Swidler. Teologi agama universal adalah gagasan sistematis dan rasional tentang keyakinan terhadap agama atau ideology yang dipegang oleh manusia. Semua teologi universal yang mencoba menjelaskan makna kehidupan dan bagaimana hidup sesuai dengan pandangannya—entah itu menyebut Tuhan atau tidak. Yang menjadikannya universal adalah kategori refleksi tersebut dapat dimengerti dan dipeluk oleh semua pemeluk agama atau ideology, yang memiliki “sacred book” “kitab suci” apakah Bible, Qur’an, Veda, atau Das Kapital.

Menariknya promosi tentang paham pluralisme itu sangat massif dan menggunakan dana-dana yang cukup besar. Banyak dana dikucurkan kepada organisasi Islam dan LSM-LSM yang mengimani dan bersedia mengkampanyekan paham ini. Apabila terdapat kasus atau kelompok atau institusi yang ingin memberlakukan hukum syariat agama Islam, maka kelompok-kelompok penganut pluralisme agama ini akan tampil pertama untuk menentang. Dalil yang digunakan adalah dalil kebangsaan dan persatuan.

Apabila kita menarik sebuah kesimpulan singkat tentang paham pluralisme agama ini termasuk paham yang berhubungan tentang ketuhanan (aqidah). Hal ini bisa berhasil dalam teologi Kristen, karena terdapat permasalahan ketuhanan dalam teologi Kristen tentang apakah Yesus itu Tuhan atau hanya manusia biasa? Doktrin teologi Yesus adalah Tuhan tidak terjadi di masa Yesus, tetapi berates tahun sesudahnya, yakni tahun 325 M dalam Konsili Nicea. Adalah Kaisar Konstantin yang menyatukan atau memilih teologi resmi Gereja. Meskipun beredar kabar bahwa sesungguhnya Kaisar Konstantin bukanlah penganut Kristen akan tetapi penganut pagan. Tentu saja paham pluralisme agama ini tidak sesuai dengan Islam, karena perihal ketuhanan sudah dijelaskan sendiri oleh Allah swt, melalui al-Qur’an yang sifatnya final dan tidak bisa diubah. Maka dari itu, Islam menolak keras paham pluralisme agama.

  • Hermeneutika dalam al-Qur’an

Fenomena merebaknya hermeneutika di kalangan akademisi Islam juga tidak terlepas dari hegemoni pemikiran Barat dalam studi Islam. Banyaknya studi Islam yang dilakukan oleh peneliti Barat dan sekutunya dan disebarluaskan sebagai bentuk karya ilmiah kepada seluruh sarjana Muslim telah menjadi wabah. Hermeneutika sendiri adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang interprestasi makna. Diambil dari bahasa Yunani Hermeneuein yang artinya menafsirkan, memberi pemahaman atau menerjemahkan. Teori hermeneutika ini berhasil di dalam teks Bible karena teks Bible dan doktrin teologis Kristen memang mengandung banyak masalah. Akan tetapi, upaya-upaya untuk mengkritik teks al-Qur’an akan selalu menemui jalan buntu karena teks al-Qur’an itu logis. Meskipun ada sebagian pihak yang berani melakukan itu, tetapi mereka cenderung lebih memaksakan diri.

Kasus dalam problematika teks Bible yang paling diingat adalah tentang konsep kosmologi Bible. Sejarah Kristen menunjukkan otoritas Gereja pernah menghukum ilmuwan seperti Galileo Galilei (1564-1642) karena mengekspos teori tentang “heliosentric”, bahwa matahari sebagai pusat tata surya. Pada saat itu otoritas Gereja yang berpegang pada teks Bible menganut bahwa bumi adalah pusat dari tata surya (geosentric) dan bumi itu datar (flat earth). Ayat Wahyu-wahyu 7:1 “Kemudian daripada itu, aku melihat empat malaikat berdiri pada keempat penjuru bumi dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon.” Jadi menurut mereka, bumi memang segi empat, memiliki tepi, sehingga “orang jahat” bisa dibuang dari bumi.”

Galileo dicap sebagai “heresy” (kafir) karena menentang otoritas gereja dengan eksposnya tentang heliosentris. Dia membuat pernyataan bahwa (1) matahari adalah pusat galaksi dan (2) bumi bukanlah pusat tata surya. Atas pernyataannya itu Paus Paul V memerintahkan Cardinal Bellarmine untuk memperingatkan Galilieo, namun dia tidak bergeming dan tetap kembali mengajarkan teori itu. Akhirnya Galileo diseret kehadapan Mahkamah Inquisisi. Galileo didakwa apabila tidak menarik teorinya maka dia akan dijatuhi hukuman inquisisi. Lalu Galileo “bertobat” dan menarik semua pernyataannya dan tidak menyebarluaskan teorinya. Namun justru apa yang dikemukakan oleh Galileo itulah yang menjadi kebenaran ilmiah hingga sekarang. Benturan antara sains dan Bible itu ketika Eropa dalam masa Abad Pertengahan (Medieval Age) atau Abad Kegelapan (The Dark Ages) pada tahun 500-1500 M sehingga sensivitas dan perseteruan antara sains dan Bible sering terjadi. Ditengah konflik antara sains dan Kristen, disebelah sudut Eropa yang lain sains dan agama justru berkembang pesat. Banyak penelitian oleh para cendekiawan yang dikembangkan berdasarkan teks agama, yaitu di Cordoba, Andalusia di masa Kekhalifahan Andalusia. Sains dikembangkan berdasarkan teks-teks dalam al Qur’an.

Setelah gagal menghancurkan sirah dan sunnah Rasulullah saw, misionaris dan orientalis juga berupaya mempertanyakan status kenabian Muhammad saw, akan tetapi mereka gagal juga. Lalu mereka mengalihkan target kepada al-Qur’an, tetapi mereka juga sulit melakukan hal itu karena al-Qur’an itu otentik dan sifatnya berbeda dengan Bible. Ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi tentang otentisitas al-Qur’an. Prinsipnya al-Qur’an bukanlah “tulisan” (rasm atau writing) tetapi merupakan “bacaan” (qira’ah atau recitation) dalam artian ucapan dan sebutan. Baik proses turun (pewahyuan) maupun penyampaian, pengajaran, dan periwayatan (transmisi)-nya dilakukan melalui lisan dan hafalan bukan tulisan.[8]

Meskipun upaya untuk menkritik al-Qur’an itu sulit, upaya itu tetap ada bahkan dari sarjana Muslim itu sendiri. Kasus paling fenomenal adalah kasus KHI (Kompilasi Hukum Islam) tentang gagasan “Pembaruan Hukum Islam” oleh Tim Pengarusutamaan Gender (PUG) yang dibentuk oleh Departemen Agama tahun 2004 yang telah memicu kontroversi besar di kalangan umat Islam. Dalam draft KHI ada beberapa pasal yang sangat kontroversial diantaranya adalah Poligami diharamkan. Perkawinan antar agama disahkan. Kawin kontrak diizinkan. Batas minimal usia perkawinan adalah 19 tahun. Laki-laki sebagaimana wanita—juga memiliki masa iddah. Rumusan KHI itu dilandasi oleh landasan dan visi-visi: pluralisme, nasionalime, penegakan HAM, demokratis, kemaslahatan dan kesetaraan gender. Munculnya draft KHI ini adalah konsekuensi logis merebaknya paham pluralisme dan liberalisme di Indonesia.

Promosi tentang paham sekularisme, pluralisme, liberalisme, dan upaya kritik teks al-Qur’an adalah masalah yang serius bagi kalangan umat Islam. Di tengah krisis multidimensional, umat Islam harus mewaspadai gerakan ini. Gerakan yang didanai dengan dana-dana yang besar untuk melemahkan bahkan menghancurkan peradaban Islam. Peradaban Barat adalah peradaban yang asalnya penuh dengan problematika, Islam harus mewaspadai penyebaran nilai-nilai dan institusi-institusi Barat. Jangan hanya sampai umat Islam terkesima dan berdiam diri dengan promosi-promosinya.

Wallahu a’lam bish shawaab.

***

Ikhtisar ini ditulis oleh Edwi Mardiyoko, S.S., Pegiat Studi Wawasan Islam (SWI)

Judul

 

Penulis

Penerbit

Tahun Terbit

Tebal

Harga

:

 

:

:

:

:

:

 

Wajah Peradaban Barat Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal

Dr. Adian Husaini, M.A

Gema Insani

2005

415 halaman

Rp 95.000,00

 

 

 

[1] Roger Garaudy, Janji-Janji Islam, hlm. 11

[2] Cotton Mather, Magnalia Christi Americana hlm. 362

[3] Samuel P. Hungtinton, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order, hlm. 209-210

[4] Ibid., hlm. 211-212

[5] Bernard Lewis, The Crisis of Islam: Holy War and Unholy Terror, hlm. 24

[6] Ibid.

[7] John Hick, The Encyclopedia of Religion Vol. 12, hlm. 331-332

[8] Syamsudin Arif , Al-Qur’an, Orientalisme, dan Luxenberg, Jurnal Al-Insan Vol. 1: 2005, hlm. 14-15.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: