Kemerdekaan Manusia \Bagian 1

Oleh: Prof. H.M. Rasyidi

Boleh dikatakan bahwa kita semua lebih kurang menjadi Existentialist, yaitu pengikut aliran yang mengatakan bahwa pokok di dunia ini adalah manusia.

Kita semua ingin mengetahui apakah manusia itu, dan apakah kewajibannya dalam dunia ini. Salah satu keistimewaan manusia adalah bahwa manusia itu menjadi masalah bagi dirinya sendiri.

Banyak ahli filsafat telah mencari sifat manusia yang membedakannya daripada binatang-binatang. Ada orang mengatakan, bahwa manusia itu binatang tertawa, atau binatang menangis, mendoa, berjalan tegak yang dapat membuat api, yang dapat menciptakan  alat-alat yang mempunyai bahasa tertulis, yang dapat merasa bangga, yang dapat mencapai kemajuan, yang dapat menuju kepada maksud sendiri, yang mempunyai rasa menyesal dan yang ingin untuk hidup di dunia.

Sifat-sifat yang macam-macam itu dapat ditambah pula dengan rangkaian-rangkaian yang lain; jumlah sifat-sifat yang banyak itu telah menunjukkan perhatian ahli piker terhadap manusia sepanjang sejarah.

Penyelidikan yang modern tentang persoalan ini disebut antropologi filsafat dan telah banyak ahli-ahli fikir yang besar yang menerjunkan diri dalam lapangan itu, seperti Heidigger dan Scheler. Mereka semua insaf bahwa jawaban-jawaban soal-soal tersebut merupakan jawaban yang penting bukan saja untuk etika, tetapi untuk bidang-bidang pengalaman-pengalaman yang lain.

Jawaban yang umum tentang soal tersebut adalah bahwa manusia itu suatu makhluk tersendiri yang memikirkan akan adanya suatu jenis binatang yang mempunyai soal-soal seperti tersebut di atas.

Macam-macam fakta menunjukkan bahwa manusia itu binatang berfikir yang ingin mengetahui dirinya sendiri dan ingin mengetahui hal-hal yang tak langsung mengenai kepentingan dirinya, yang dapat membuat api, yang dapat menciptakan alat-alat, yaitu hal-hal yang tak berhubungan dengan makanan, rumah, dan sebagainya.

Scopenhauer berkata: “Manusia adalah binatang metafisik”. Pendapat Schopenhauer ini diikuti oleh filsafat existentialist  Kurt Reinhard dalam bukunya: “Existential Revolt” berkata: ”Manusia yang dinamakan manusia itu menunjukkan pertanyaan-pertanyaan filsafat, ingin mengetahui ia itu apakah, dan dimanakah ia berdiri dan bagaimana. Ia ingin mengetahui segala sesuatu tentang wujudnya, karena ia adalah suatu makhluk yang berfilsafat”.

Sebaliknya binatang yang tak berfikir tak dapat berfilsafat, ia tak bertanya tentang arti wujudnya dan arti dunia yang melindunginnya. Ia hanya menerima wujud dan milieunya dengan memakai sebaik-baiknya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: