Eksistensi Umat Islam di Era Masyarakat Global

Agfa Adityo Satrio Kuncoro

[Penggiat Studi Wawasan Islam]

Sejak paruh akhir abad 20, dunia menjadi semakin mengalami masa-masa tenang pasca perang dunia II dengan berkurangnya perang antar bangsa dengan menggunakan kekuatan militer. Bangsa-bangsa di berbagai Negara sibuk menata dan membangun dirinya masing-masing. Dalam kondisi yang semacam itu perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi informasi, ekonomi, sosial, budaya pada masyarakat yang umumnya di Negara mapan dan dominan seperti Amerika dan Eropa berkembang sedemikian pesatnya.[1] Mereka yang dapat mengembangkan hal-hal semacam itu tumbuh sedemikian cepatnya hingga dapat menjadi Negara yang kuat.

Namun Negara yang kuat sekalipun masih tidak dapat hidup sendiri ia perlu menjalin hubungan dengan Negara-Negara dunia ke tiga yang banyak terdapat pada benua Asia, Afrika dan Amerika Latin yang di dalamnya banyak terdapat komunitas maupun masyarakat muslim. Hubungan di bangun melalui jalur politik, ekonomi, olah raga, budaya, agama dan lain-lain.[2] Kemajuan teknologi informasi mempersempit ruang dan waktu serta mempermudah hubungan antar Negara dan bangsa. Munculnya organisasi multinasional kapitalis dan gerakan transnasional religious yang memiliki kepentingan untuk menancapkan kekuasaan dan menyebarkan ajarannya menjadi fenomena penting pada masa peralihan hingga awal abad ini. Meski masih banyak pihak yang menyangkal, mereka yang memiliki akses pengetahuan lebih kemudian sadar bahwa kita berada dalam dunia yang saling terhubung satu dengan yang lain dan tidak ada tabir yang membatasi antara satu dengan yang lain hingga seakan di dunia ini tidak lagi tersisa tempat untuk bersembunyi meski di alam fantasi kita sendiri.

Perkembangan Islam di dunia modern ini bisa dibilang kalah start. Islam yang pernah jaya melalui Kekhalifahan Utsmani sempat mengalami kemandekan sementara Barat berkembang sejak revolusi industri. Sebagian Negara Islam lainnya juga sempat mengalami penjajahan. Dengan posisi semacam itu akar hegemoni Barat atas dunia Islam telah tertancap dengan begitu kuat. Melalui pendidikan, media, infiltrasi produk dan sebagainya mereka bangsa Barat mulai menyusupkan ideologi mereka ke dalam masyarakat muslim sehingga terjadi perang pemikiran (ghawzul fikr) antara keduanya.[3] Banyak sekali virus-virus pemikiran seperti liberalisme, pluralisme agama dan sekularisme masuk ke dalam masyarakat muslim. Masyarakat muslim kemudian banyak yang menjadikan barat sebagai patokan kemajuan zaman. Mereka kemudian meniru hal-hal yang berbau Barat mulai dari makanan, pakaian, gaya hidup, cara berbicara bahkan cara bercinta. Semua itu disusupkan melalui iklan produk yang nantinya akan dikonsumsi masyarakat muslim dan kepadanyalah masyarakat muslim bergantung.

Tantangan dan Peluang Islam dalam Masyarakat Global

Islam diturunkan oleh Allah SWT dan disampaikan melalui Nabi Muhammad SAW sejatinya merupakan suatu ajaran yang mengatur segala aspek kehidupan umat manusia di dunia. Termasuk dalam hal membangun sebuah peradaban yang dipimpin oleh pemerintahan Islam dengan ditegakkannya syariat Islam.[4] Meski tidak diterangkan secara eksplisit, namun terdapat bakal konsep yang menunjukkan ciri-ciri dan syarat-syarat Negara Islam. Akan tetapi yang terjadi pada masa sekarang ini, mulai sejak awal abad 20, peta Negara dan geopolitik dunia terbagi atas dasar nation state. Sehingga masyarakat Islam harus terpisah dengan garis imajiner Negara dan berbagi ruang dengan golongan-golongan lain di luar Islam. Konsekuensinya Islam harus di kompromikan dengan kepentingan pihak-pihak lain dan mengurangi tuntutannya. Dengan begitu syariat Islam menjadi sulit untuk ditegakkan dalam masyarakat.

Tidak ditegakkannya syariat Islam pada masyarakat muslim membuat masyarakat muslim menjadi kesulitan untuk menjalankan agama Islam secara kaffah. Hal ini disebabkan karena hal-hal yang menjadi tuntutan setiap umat muslim harus dikurangi. Gempuran-gempuran politik, ekonomi dan budaya semakin merajalela sebab umat muslim tidak memiliki proteksi yang optimal. Masuknya pengaruh produk Barat dan organisasi multinasional melalui lobby kepada kaum birokrat membuat umat muslim menjadi jauh dari ajaran Islam itu sendiri. Dan akhirnya Islam tergerus secara perlahan dalam arus globalisasi ini.

Masyarakat global menuntut terwujudnya kesetaraan, keterbukaan, pluralisme dan sebagainya. Mereka meluaskan sayap hegemoninya kepada masyarakat muslim dunia melalui media, produk, dan pendidikan. Hal tersebut membuat umat Islam hanya bagian kecil dari keragaman umat manusia di dunia (we are part of them). Padahal Islam diturunkan untuk menjadi aturan dasar seluruh umat manusia di bumi dalam berbagai aspek kehidupan. Sehingga mestinya merekalah yang menjadi bagian dari kita (they are part  of us).

Umat Islam harus mempercepat langkah dalam  berbenah dan membangun dirinya. Pembangunan dunia Islam harus ditingkatkan akselerasinya melalui ekonomi yang mandiri. Peningkatan ekonomi dapat dicapai dengan peningkatan pendidikan, sebab pendidikan merupakan sarana peningkatan dan pewarisan ilmu pengetahuan. Penguasaan sarana telekomunikasi dan informasi juga penting untuk mempercepat laju pertumbuhan umat.[5] Dan yang paling penting kestabilan politik yang dicapai dengan kekuasaan pemerintahan muslim sebab syariat Islam tidak akan tegak tanpa otoritas dan aparatur penegaknya.

*** disampaikan dalam Diskusi Penggiat SWI “Dilema Islamisasi di Era Global”, Jumat 29 Mei 2015

Notes :

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi

2 Micklethwait, John dan Adrian Wooldridge. 2007. Masa  Depan Sempurna: Tantangan dan Janji Globalisasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

3 Al-Usairy, Ahmad. 2003. Sejarah Islam: Sejak Zaman Nabi Hingga Abad XX. Jakarta : Akbar Media Aksara

4 An Nawiy, Fathiy Syamsuddin Ramadhan. 2011. Revolusi Islam. Bogor: Al Azhar press.

5Sardar, Ziauddin. 1991. Tantangan Dunia Islam Abad 21. Bandung: Penerbit Mizan.

Referensi

Al-Usairy, Ahmad. 2003. Sejarah Islam: Sejak Zaman Nabi Hingga Abad XX. Jakarta : Akbar Media Aksara

An Nawiy, Fathiy Syamsuddin Ramadhan. 2011. Revolusi Islam. Bogor: Al Azhar press.

Micklethwait, John dan Adrian Wooldridge. 2007. Masa Depan Sempurna: Tantangan dan Janji Globalisasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Sardar, Ziauddin. 1991. Tantangan Dunia Islam Abad 21. Bandung: Penerbit Mizan.

http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi diunduh pada tanggal 8 Juni 2015 Pukul 17.00

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: