Ancaman Justifikasi Pemikiran Barat

Edwi Mardiyoko, S.S

[Pegiat Studi Wawasan Islam]

  1. Pengantar

“Kemi terbaring lemah di ranjang pesakitannya. Mungkin dia menyesal dengan jalan liberal yang ditempuhnya. Di ranjang dia memandang ke atas sambil menerawang memorinya ketika dia memutuskan keluar dari pondok pesantren. Dia keluar dari pondok pesantren untuk menjadi aktivis liberal. Bertahun-tahun dia menjadi aktivis liberal yang menyuarakan sekulerisme, liberalisme, dan pluralisme dalam agama. Disisi lain dia sungguh menyesal dengan apa yang diperbuatnya, karena sahabat karibnya – Rahmat, yang juga menjadi santri di ponpes manakala Kemi menjadi santri, telah mengingatkannya bahwa apa yang ditempuhnya menjadi aktivis liberal adalah suatu hal yang keliru. Rahmat santri yang teguh pendiriannya tetap mengingatkan Kemi bahwa jalannya adalah salah.Hingga berujung pertikaiannya dengan jaringan liberal.

Jeratan liberalisme sungguhlah teramat kuat. Jaringan yang luas dan yang melibatkan orang-orang penting di negeri ini sungguh sanggat mencemaskan. Jaringan ini melibatkan politisi, akademisi, kyai-kyai, LSM dan foundation-foundation internasional. Oleh karena jeratan jaringan ini Kemi sudah lumpuh tak berdaya. Akhirnya dalam ranjang pesakitannya, dia menghembuskan nafas terakhirnya. Akan tetapi, Allah SWT telah menyelamatkannya. Dia sudah bertobat dan menyadari bahwa paham liberal yang dia geluti selama ini adalah sesuatu hal yang keliru dan menyesatkan.” Itulah cuplikan garis besar dari cerita novel berjudul KEMI karya Dr. Adian Husaini yang menceritakan pergulatan dari pemikiran seorang aktivis liberal.

Pasca peristiwa 11 September 2001, dunia seakan-akan mengubah kemudinya menyasar peradaban Islam. Gerakan liberalisasi Islam nampak serius dan intens. Wacana-wacana keIslaman yang ditampilkan kelompok liberal terdengar aneh dalam pemikiran ulama-ulama ataupun cendekiwan muslim. Banyak peradaban Islam dibenturkan dengan realitas-realitas keduniawian contohnya dengan demokrasi dan HAM, karena menurut orientalis Barat Islam dianggap agama yang kaku dan anti modernitas. Oleh karena itu para orientalis menganggap perlu mengubah peradaban Islam tersebut dengan jalan liberalisasi pemikiran Islam. Meskipun ini hanya menjadi justifikasi (pembenaran) terhadap tindakan merusak mereka kepada peradaban Islam.

Gerakan liberalisasi umat Islam memang disengaja oleh para pemikir Barat. Charles McDaniel mengungkapkan karenakan ada perbedaan kultural antara budaya Islam dan Barat, maka terlalu besar upaya untuk menjembatani perbedaan tersebut dengan hanya dengan penyebaran materi dan ekspor tentang HAM[1]. Dalam artian ekspor konsepsi liberal tentang Islam sudah dilakukan, selanjutnya muslim, yaitu para cendekiawan dan ulama sendirilah yang menyebarkan itu kepada masyarakat muslim yang lain.

Adapun gerakan-gerakan ini adalah justifikasi upaya mem-Barat-kan Islam, mengubah kompas kebudayaan Islam menuju kebudayaan Barat. Semenjak tembok Berlin runtuh dan Uni Soviet bubar, kekuatan Islam menjadi momok tersendiri bagi peradaban Barat. Kekuatan Islam yang pernah Berjaya dengan peradaban Turki Ustmaniyah dianggap sebagai ancaman serius bagi peradaban Barat. Setelah Kristen di Barat-kan kini giliran Islam. Tentu saja untuk mem-Barat-kan Islam tidak dengan kekuatan senjata karena seperti diketahui persatuan Islam dalam hal memperjuangkan agama sangatlah kuat. Raymond Lull salah satu misionaris ternama mengatakan “Islam tidak dapat ditaklukkan dengan ‘darah dan air mata’, tetapi dengan ‘cinta kasih’ dan doa.”[2] Itulah upaya-upaya yang dilakukan para pemikir Barat dengan jalan menginfiltrasi pemikiran Barat terhadap pemikiran Islam. Puluhan buku, karya ilmiah, dan tayangan media hanya untuk mengaburkan pemikiran Islam dan menjadikan peradaban Islam condong ke Dunia Barat. Hasilnya munculah labelisasi Islam, sehingga sekarang kita dengar istilah Islam Liberal, Islam Progresif, Islam Radikal, Islam Modern dsb. Ini tak lain adalah upaya justifikasi pemikiran Barat terhadap Islam. Tulisan ini akan mengupas sejauh mana upaya justifikasi tersebut.

  1. Menyekulerkan Pemikiran Islam

Sudah menjadi rahasia umum bahwa peradaban Barat menjadi standar ukuran bagi segala perababan di belahan dunia. Misalnya, seorang aktor dan aktris yang sukses haruslah sudah bermain di Hollywood. Seorang akademisi yang cerdas dan terpandang harus sudah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi baik di Eropa maupun Amerika. Ukuran-ukuran tersebut yang diyakini sebagian besar masyarakat dan mendudukan western culture sebagai worldview (pandangan alam) untuk kehidupan. Namun demikian itu adalah pandangan-pandangan yang meletakkan pada unsur keduniawian. Berbeda dengan kebudayaan Barat, Islam adalah agama yang mengatur aspek duniawi dan ukhrawi, sehingga ukuran-ukurannya pun berbeda. Sebagai contoh, berderma atau bersedekah apabila kita pakai ukuran dunia adalah mengurangi harta, namun agama menganjurkan bersedekah dan untuk akan dapat menambah rezeki. Menurut pandangan Barat, konsep-konsep dalam pemikiran Islam tidaklah rasional dan menganggap ini adalah hal yang kolot dan ketinggalan jama. Dus mereka berupaya untuk mengubah pola piker tersebut dengan jalan menginvasi pemikiran Islam dengan pemikiran Barat seperti sekularisme, liberalisme, dan pluralisme.

Barat menganggap agama adalah ancaman serius bagi demokrasi. Maka dari itu perlu adanya pemisahan antara agama dan Negara. Para penganut paham liberal menganggap bahwa urusan agama harus diserahkan kepada pribadi umat masing-masing dan Negara tidak boleh turut campur dalam hal ini. Pemahaman ini mendorong para pemikir liberal untuk mempromosikan sekularisasi dan sekulerisem sebagai dasar legitimasi pemisahan hubungan antara agama dan Negara. Harvey Cox, penulis buku The Secular City yang menjadi rujukan berbagai pihak pendukung sekularisasi mengatakan, sekularisasi adalah pembebasan manusia dari asuhan agama dan metafisika, pengalihan perhatiannya dari ‘dunia lain’ menuju dunia kini.[3] Cox yang ingin melepaskan jeratan Kristen terhadap Negara nampaknya juga diikuti oleh salah satu pengagumnya di tanah air yaitu Nurcholish Madjid. Cak Nur, demikian Nurcholish kerap dipanggil menganggap bahwa sekularisasi tanpa sekulerisme, yaitu proses penduniawian tanpa paham keduniawian, bukan saja mungkin, bahkan terjadi dan terus akan terjadi dalam sejarah. Sekularisasi tanpa sekulerisme adalah sekulerisasi terbatas dan dengan koreksi. Pembatasan dan koreksi itu diberikan oleh kepercayaan akan adanya Hari Kemudian dan prinsip Ketuhanan. Sekulerisasi adalah keharusan bagi umat beragama, khususnya umat Islam.[4] Apa yang diungkapkan oleh Cak Nur tersebut senada dengan Cox, yang menjelaskan bahwa sekulerisasi adalah merupakan suatu keharusan bagi Kristen. Jika Cox mencari landasan sekularisasi dalam Bible maka Cak Nur mencari justifikasi dalam ajaran-ajaran agama Islam. Setali tiga uang pemikiran mereka terkait sekularisasi adalah sama.

Pada penafsiran lain Cak Nur memberikan gambaran konsep tentang Negara Islam dan Partai Islam. Dia berpendapat:

“Dari tinjauan yang lebih prinsipil, konsep Negara Islam adalah suatu distorsi hubungan proporsional antara agama dan negara. Negara adalah salah satu segi kehidupan duniawi yang dimensinya adalah rasional dan kolektif, sedangkan agama adalah aspek kehidupan yang dimensinya spirituial dan pribadi.”

Terhadap pendapat dari Cak Nur tersebut, Prof. H.M. Rasyidi berkomentar:

“Kata-kata tersebut bukanlah kata-kata orang yang percaya kepada al Qur’an, akan tetapi merupakan kata orang yang pernah membaca injil. Dalam Mathius Bab 22 ayat 21: Berikan kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan Kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Nurcholish Madjid sebenarnya awalnya adalah seseorang yang sangat anti terhadap pemikiran barat. Menurut catatan Ahmad Wahib dalam Buku Pergolakan Pemikiran Islam, tentang Nurcholish Madjid, “Pada bulan Oktober 1968 berangkatlah Nurcholish ke AS atas undangan State Department. Orang yang anti Barat diundang untuk melihat Negara Barat terbesar. Seorang pejabat Kedutaan Besar AS yang ditanya mengapa Nurcholish diundang ke Amerika menjawab, “Sekedar memperlihatkan apa yang dia benci selama ini…” Setelah pulang pemikiran Nurcholish terhadap Barat pun berubah dan dia mulai tertarik pada hal yang berbau humanisme yang dicapnya sebagai agama baru.”[5]

Lebih jauh secara Muhammad Tahir Azhary, dalam disertasinya Fakultas Hukum Universitas Indonesia menjelaskan bahwa sekulerisme sebagai “paham yang ingin memisahkan atau menetralisir semua bidang kehidupan seperti politik dan kenegaraan, ekonomi, hukum, sosial budaya dan ilmu pengetahuan teknologi dari pengaruh agama atau hal-hal yang ghaib. Lalu, sekularisasi adalah usaha-usaha atau proses yang menuju kepada keadaan sekuler yang meniadakan atau menetralisir agama atau hal-hal ghaib. Sedangkan, Negara sekuler adalah Negara yang tidak memberikan peran agama dalam kehidupan bernegara. Agama telah diasingkan dari kehidupan Negara dalam berbagai sektornya. Ciri Negara sekular paling umum adalah dihapusnya pendidikan agama di sekolah umum.”[6]

Turki adalah contoh negara yang mengalami penyusupan paham sekularisme. Setelah khilafah Turki Utsmani jatuh, proyek sekularisasi terhadap bangsa Turki pun dimulai. Adalah Mustafa Kemal Pasha yang menginisiasi dan yang memulai proyek ini. Menurut pendapat Mustafa Kemal bahwa satu-satunya cara untuk selamat dalam percaturan dunia internasional saat ini adalah kesediaan untuk menerima peradaban Barat kontemporer.[7] Lalu pada tanggal 29 Oktober 1923, Turki memproklamirkan sebagai Republik Turki. Dalam UUD Turki menjelaskan bahwa Turki adalah Negara (1) Republik; (2) Nasionalis; (3) Kerakyatan; (4) Kenegaraan; (5) Sekularis; (6) Revoluisoner. Pada saat itu pula Mustafa Kemal terpilih sebagai Presiden pertama dan mengganti namanya menjadi Kemal Attaturk (Bapak bangsa Turki).

Kemal Attaturk yang sangat menggagungkan peradaban Barat mengubah segala sendi kehidupan masyarakat Turki, salah satunya dengan reformasi agama. Dia memaksa mengganti kumandang azan dengan bahasa Turki yang resmi mulai bulan Januari 1932. Dan selanjutnya pada tahun 1933, keluar keputusan pemerintah yang menyatakan bahwa azan dalam bahasa Arab merupakan pelanggaran hukum[8]. Fakultas Teologi dan sekolah agama ditutup. Hari libur yang semula adalah hari Jum’at diganti dengan hari libur mingguan.

Gagasan dari Mustafa Kemal Attaturk ini sangat dikagumi oleh salah satu bapak pendiri bangsa, Soekarno. Dia berpendapat Attaturk adalah orang yang paling modern dan paling radikal. “Agama dijadikan urusan perorangan. Bukan Islamitu dihapuskan Turki, tetapi Islam itu diserahkan kepada manusia-manusia Turki itu sendiri, dan tidak kepada Negara.” Namun demikian, Mohammad Natsir sangat mengecam keras pemikiran yang dilontarkan oleh Soekarno bahwa Soekarno hanya memandang Turki dalam permukaan. Soekarno menilai peradaban Islam Turki Ustmani yang kehilangan arah dari tuntunan itu sendiri. Natsir juga tidak mendukung pemerintahan Turki seperti di zaman “tasbih dan dupa” karena menganggap semua Islam model itu adalah Islam yang lumpuh. Namun Natsir juga menolak teori Negara caesaro-papisme, karena itu bukan ajaran apalagi satu sistem politik dalam Islam.[9]

Upaya-upaya memisahkan agama dan Negara merupakan bentuk pengingkaran terhadap keniscayaan ajaran agama Islam. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa Islam mengatur aspek duniawi dan ukhrawi sehingga kesempurnaan model Islam itu sangat sesuai dengan segala zaman. Apabila kita berpijak bahwa Islam sebagai agama sejarah maka ukuran-ukuran keduniawian terpaksa dan cenderung dipaksakan agar Islam bisa mengikuti zaman yang sudah mengalami kemunduran. Akan tetapi kalau pola fikir meletakkan bahwa Islam sebagai agama wahyu (revealed religion) maka kebenaran yang ada dalam ajaran Islam tidak dapat dibantahkan karena Islam hadir untuk memperbaiki keadaan seperti yang terjadi pada zaman jahiliyah. Kemudian sekularisme dan sekularisasi adalah hal yang cenderung dipaksakan dan paham liberal hanya justu untuk justifikasi dalam upaya pem-Barat-an Islam.

  1. Tiga Aspek Liberalisasi Islam

Konsep justifikasi (pembenaran) paham liberal terhadap Islam dijelaskan dengan sangat detail oleh Dr. Adian Husaini. Menurut pendapat beliau setidaknya ada tiga aspek penting dalam upaya liberalisasi Islam, yaitu (1) syariat Islam, dengan upaya perubahan metode ijtihad, (2) al-Qur’an dan tafsir al-Qur’an, dengan mendekontruksi konsep wahyu dalam Islam dan penggunaan hermeneutika dalam penafsiran al-Qur’an, (3) aqidah, dengan penyebaran paham pluralism.[10]

Dalam aspek syariat hukum-hukum Islam yang tetap (qath’iy) diubah dan dibingkar menurut perkembangan zaman, misalnya hukum zina yang dirajam kemudian dianulir karena dianggap tidak manusiawi. Hukum pencurian yang seharusnya potong tangan diganti dengan hukum kurangan penjara dan denda. Pandangan kaum liberal menjelaskan bahwa hukum itu tidak tetap harus mengikuti zaman dan begitu pula hukum agama. Mereka memandang bahwa agama adalah bagian proses dinamika sejarah.

Selanjutnya dalam penafsiran al-Qur’an terdapat wacana desakralisasi al-Qur’an dan mendudukan al-Qur’an layaknya seperti kitab suci agama lain dan menggunakan metode hermeneutika yang mengagungkan relativisme. Diantara contoh tersebut adalah penafsiran oleh Prof. Dr. Fazlur Rahman yang menafsirkan ayat tentang hukuman potongan tangan bagi pencuri. Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah (sebagai) balasan yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. (QS. Al-Maidah: 38). Menurut Fazlur Rahman ayat yang menjelaskan “maka potonglah tangan keduanya” ditafsirkan sebagai bentuk perintah untuk menghalangi tangan-tangan pencuri melalui perbaikan ekonomi. Dengan demikian yang menjadi ideal moral dalam kasus ini adalah memotong kemampuan pencuri agar tidak mencuri lagi.[11] Upaya desakralisasi melalui tafsir seperti ini sudah sangat mengkhawatirkan khususnya di universitas-universitas Islam. Di beberapa UIN/IAIN telah terdapat wacana yang menjelaskan bahwa al-Qur’an adalah produk budaya dan menganggap bahwa al-Qur’an adalah tulisan biasa dan bukan kalam illahi.

Liberalisasi Islam selanjutnya menurut Dr. Adian Husaini juga mencangkup aspek akhidah dengan adanya paham pluralism agama. Paham ini mendasarkan asumsi bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi meskipun jalannya berbeda dan agamanya berbeda Tuhannya tetap sama. Jalaluddin Rakhmat berpendapat bahwa “semua agama itu kembali kepada Allah, Islam, Hindu, Budha, Nasrani, Yahudi, kembalinya kepada Allah. Adalah tugas dan wewenang Tuhan untuk menyelesaikkan perbedaan di antara berbagai agama.”[12] Pluralisme dialamatkan dalam agama agar tidak ada klaim bahwa hanya ada satu agama yang benar. Bagi penganut kebenaran itu relatif pasti akan mendukung paham ini, namun bagi mereka bahwa kebenaran itu tunggal dan mutlak pasti akan sangat menolak paham ini. Khususnya bagi seorang muslim telah dijelaskan bahwa “Sesungguhnya agama yang diridhoi di sisi Allah adalah Islam”(QS. Ali Imran: 19). Serta Allah menjelaskan bahwa “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah rusak binasa” (QS. Al Anbiya: 22). Jadi ada negasi bahwa ada dua atau lebih Tuhan karena apabila Tuhan itu banyak maka alam semesta akan tidak teratur dan semrawut.

  1. Agenda Umat Islam Menurut Kuntowijoyo

Segala gerakan liberalisasi dan sekularisasi dari dunia Barat haruslah menjadi perhatian serius bagi masyarakat Islam, khususnya cendekiawan dan ulama. Gerakan ini telah masuk kepada fondasi-fondasi peradaban yaitu di institute/universitas Islam terkemuka proyek liberalisasi sudah masuk kepada kurikulum. Di pondok pesantren proses pendanaan pondok yang berasal dari foundation-foundation pendukung liberalisasi semakin marak. Maka ini seyogyanya sudah menjadi warning bagi masyarakat Islam karena telah liberalisasi telah meracuni generasi penerus peradaban Islam.

Probematika yang begitu kompleks dan yang awal mulanya berasal dari intern ataupun ekstern umat Islam itu telah dikristalisasikan oleh salah satu cendekiawan terkemuka Indonesia, yaitu Prof. Dr. Kuntowijoyo. Menurut beliau setidaknya ada tiga hal yang harus dikerjakan oleh umat Islam, (1) Perubahan sistem pengetahuan, supaya Islam jadi rahmatan lil’alamin, (2) mobilitas sosial, supaya umat Islam selalu menjadi pelopor, dan (3) mobilitas budaya, supaya umat dapat menampilkan Islam sebagai agama masa depan.[13]

Pada aspek perubahan sistem pengetahuan, Kuntowijoyo membagi menjadi dua persoalan, yaitu (1) pengetahuan tentang hakikat pergerakan Islam, dan (2) pengetahuan tentang aktualisasi Islam dalam masyarakat luas. Dari segi hakikat pergerakan Islam, seharusnya umat Islam harus berubah dari tataran idealistik menjadi etika profetik. Artinya gerakan amar maruf nahi munkar yang sangat termahsyur di kalangan umat Islam harus terintegrasi. Selama ini ada gerakan amar maruf yang intens dengan praktik pendidikan keagamaan, organisasi kegiatan agama (kajian, masjid, zakat, umrah, haji) dan santunan-santuna (rumah sakit, panti asuhan, BMT, beasiswa). Sementara nahi munkar lebih condong pada pemberantasan judi, miras, narkoba, dan perzinahan. Gerakan amar maruf selama ini sangat terwakili dengan gerakan amal usaha Perserikatan Muhammadiyah, salah satunya dengan didirikannya PKU (Penolong Kesengsaraan Umat) dan sekolah-sekolah Muhammadiyah. Namun kritik juga menghinggapi organisasi ini yang akhir-akhir ini agak meninggalkan teologi al-Maun yang diajarkan pendiri organisasi ini KH. Ahmad Dahlan.

Sementara itu gerakan nahi munkar selama ini diasosiasikan dengan FPI, MMI, atau Laskar Jihad. Namun oleh para pengagum paham liberal gerakan mereka dituduh sebagai pengganggu ketertiban dan keamanan. Sebenarnya menurut Kuntowijoyo gerakan amar maruf nahi munkar haruslah utuh. Dan tidak dikotomikan antara keduanya. Apabila muhammadiyah sudah sangat bagus dengan amar maruf selanjutnya aspek nahi munkarnya wajib ditunggu.

Lalu pada tahap persoalan aktualisasi Islam, Kuntowijoyo berpendapat umat Islam harus berangkat dari egoisentrisme menuju objektifikasi. Menurutnya cita-cita semua orang Islam yang sadar pasti “tegaknya hukum Allah di muka bumi”. Namun dalam praktiknya, cita-cita diartikulasikan secara berbeda-beda. Kuntowijoyo menjelaskan dengan objektifikasi maka nilai-nilai yang ada dalam kandungan ajaran Islam dapat disebarkan kepada masyarakat luas baik itu non-Islam. Dia mengambil contoh Bank Syariah Muammalat yang telah mengadopsi perbankan syariah Islam dan dapat diterima oleh khalayak luas.

Dalam hal mobilitas sosial, Kuntowijoyo berpendapat harus terdapat evolusi sejarah terarah dan perbaikan citra umat Islam sebagai khaira ummah. Dalam hal aspek evolusi sejarah terarah, Kuntowijoyo berpendapat hadirnya gerakan tajdid dalam Islam harus terarah. Dia membagi tiga gelombang. Pada gelombang pertama proses perubahan sosial pada era indutrialisasi awal, umat Islam yang diwakili SI dan Muhammadiyah telah mengubah ekonomi umat, mereka dapat bertahan dan terus berkembang, meskipun berjalan tanpa rencana. Gelombang kedua pada era industrialisasi ditandai dengan munculnya ICMI. Dalam gelombang ini umat mulai keteteran karena banyak golongan juga ikut berkembang misalnya eks-abangan, non-pribumi, dan umat agama lain juga terus berkembang. Sebagai contoh gerakan intelektual para Jesuit Khatolik telah menguasai tradisi intelektual di kalangan masyarakat perguruan tinggi. Sedangkan gelombang ketiga adalah era pasca industrialisasi. Pada era ini industry berkembang dari industri barang menuju industry jasa. Mereka yang bergerak di informatika dan media masa-lah yang dapat menguasai era ini. Oleh karena itu umat Islam harus mulai menguasai sektor ini agar dapat menjadi ujung tombak layaknya gelombang sebelumnya.

Sedangkan pada aspek pencitraan umat maka masyarakat Islam harus dapat mencerminkan pribadi seorang insan kamil. Semenjak propaganda Islamofobia dari tragedi 9/11, umat Islam distereotipekan sebagai umat beragama yang anarkis dan radikal. Hal ini ditambah dengan konstruksi media terhadap NIIS menambah pandangan minor masyarakat umum terhadap Islam. Kuntowijoyo berpendapat dengan adanya pribadi-pribadi Islam yang dapat mencitrakan Islam sesungguhnya maka Islam bisa dikenal sebagai agama yang memberikan rahmat bagi semesta alam.

Didalam aspek mobilitas budaya, pasca rezim otoriter orde baru seni Islam mengalami perkembangan pesat. Banyaknya fashion busana Muslim, music religi, seni lukis, maupun MTQ telah mewarnai kebudayaan sekarang, tetapi itu berjalan tanpa arah. Kuntowijoyo menjelaskan ada dua hal yang perlu dilakukan dalam hal mobilitas budaya, yaitu (1) seni kaaffah dan (2) kebangkitan kembali ilmu-ilmu sosial Islam. Lebih lanjut Kuntowijoyo memaparkan perkembangan seni umat Islam sangatlah menggembirakan karena apabila dulu institusi seni budaya Islam hanya dimonopoli oleh pesantren, kasidah, barzanji dan ormas-ormas Islam.Sekarang telah terdapat proses hibridasi dengan budaya-budaya yang berkembang misalnya budaya pop, sehingga muncul pop Islami, kaos dakwah, dan acara religi di televisi.

Lalu pada hal kebangkitan ilmu-ilmu sosial Islam, cukup menggembirakan yaitu dengan dimulainya islamisasi ilmu pada decade tahun 1980-an. Ilmu-ilmu yang sudah ada (ilmu alam, sosial, humaniora) diislamkan dengan mengembalikan kembali kepada teks-teks al-Qur’an. Pandangan Kuntowijoyo terkait kebangkitan ilmu memang benar, namun perlu menjadi perhatian didalam kebangkitan itu ada pihak yang tidak menyukai jadi kebangkitan ilmu-ilmu Islam melalui islamisasi ilmu harus lepas dari paham-paham seperti sekularisme, liberalisme, dan pluralisme.

Kuntowijoyo telah mengupas dengan banyak mengenai agenda umat Islam ke depan dan yang harus menjadi perhatian adalah penumpang-penumpang gelap yang ingin mengacaukan peradaban Islam melalui pahamnya sehingga Islam di-Barat-kan oleh mereka. Agenda tersebut selayaknya dapat diwujudkan karena itu merupakan blueprint yang cukup jelas dan terarah.

  1. Simpulan

Perkembangan paham-paham dari arus pemikiran Barat sudah sampai pada titik yang mengawatirkan. Upaya pemisahan antara kehidupan dunia dan akherat yang dijalani oleh manusia telah terjalin dengan sistematis. Sekularisasi dan sekularisme sedikit demi sedikit telah mengaburkan konsep antara agama dan Negara. Gerakan yang dilakukan oleh pemikir-pemikir Barat hampir mendekati garis akhir, karena subyek penyuara faham ini kini ada di kalangan umat Islam itu sendiri. Operasi yang melemahkan dari dalam bisa dianggap sebagai upaya untuk menggoyang arus pemikiran umat Islam. Bahkan lebih jauh, ide-ide liberalism telah masuk juga pada sisi menjadi reformasi agama, misalnya seperti yang terjadi di Turki. Disamping itu kuatnya aktivis gerakan liberal yang ingin mengubah nilai-nilai Islam, mulai dari syariat, penafsiran al-Qur’an, dan akhidah ingin diubah agar sesuai dengan paham keduniawiaan.

Jika melihat upaya pembenaran terhadap pemikiran Barat ini, maka umat Islam harus dapat merumuskan kembali atau menjalankan agenda keumatan mereka agar dapat terwujud. Agenda umat Islam yang dirumuskan oleh Kuntowijoyo mungkin bisa menjadi salah satu jawaban untuk menyelesaikan problematika umat Islam. Agenda tersebut juga dapat menjadi kompas gerak bagi gerakan umat Islam.

***

Disampaikan dalam Diskusi Rutin Pegiat Studi Wawasan Islam. Senin, 8 Dzulhijah 1436 H/ 21 September 2015.

Referensi

Husaini, Adian. 2005. Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal. Jakarta: Gema Insani Press

Kuntowijoyo. 2002. Agenda Umat Islam. hlm. 122-129 dalam Bang Imad: Pemikiran dan Gerakan Dakwahnya. Jakarta: Gema Insani Press.

Mashad, Dhurorudin. 2008. Soekarno Vs Natsir: Dialog Kritis Agama dan Negara. hlm. 68-81 Jurnal Al Insan No. 1. Vol. 3, 2008.

McDaniel, Charles. 2003. Islam and Global Society: A Religious Approach to Modernity. Brigham Young University Law Review, Vol. 536.

Rakhmat, Jalaluddin. 2006. Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan. Jakarta: Serambi.

[1] Charles McDaniel. Islam and Global Society: A Religious Approach to Modernity. Brigham Young University Law Review, Vol. 536, 2003, hlm. 507

[2] Dikutip dari Adian Husaini. Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal. Jakarta: Gema Insani Press, 2005, hlm. xxvii.

[3] Harvey Cox, The Secular City, hlm. 15 cit Adian Husaini. Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal. Jakarta: Gema Insani Press, 2005, hlm. 258

[4] Nurcholish Madjid, Islam, Kemodern, dan Keindonesiaan, hlm. 219-220 cit ibid hlm. 260

[5] Djohan Effendi & Ismet Natsir (ed), Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, Jakarta: LP3ES, 2013, hlm. 161

[6] Muhammad Tahir Azhary, Negara Hukum, hlm. 13-14 opcit Adian Husaini, hlm. 270

[7] Opcit., Adian Husaini, hlm. 272

[8] Ibid., hlm. 273

[9] Dhurorudin Mashad, Soekarno Vs Natsir: Dialog Kritis Agama dan Negara. Jurnal Al Insan No. 1. Vol. 3, 2008, hlm. 77

[10] Adian Husaini. Liberalisasi Islam: Dari ‘Yahudi Liberal’ ke ‘Islam Liberal’, hlm. 5

[11][11] Henri Shalahuddin. Kredibilitas Ilmu Tafsir dalam Menegakkan Konsep Wahyu al-Qur’an. Jurnal Islamia Vol. VI, No. 1, 2012, hlm. 25

[12] Jalaluddin Rakhmat. Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan. Jakarta: Serambi, 2006, hlm. 34

[13] Kuntowijoyo. Agenda Umat Islam. dalam Buku Bang Imad: Pemikiran dan Gerakan Dakwahnya. Jakarta: Gema Insani Press, 2002, hlm. 123

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: