Category: Gagasan

0

Islam dan Keruntuhan Majapahit

Islam dan Keruntuhan Majapahit Ahda Abid al-Ghiffari* “Di dalam riwayat-riwayat lama yang telah umum, akhirnya Demak mengambil tindakan juga. Majapahit diserang dan dikalahkan. … Tetapi riwayat yang lain dengan hasil penyelidikan menyebutkan bahwasanya memang...

0

KH Ahmad Dahlan dan Refleksi Asa Pergerakan Umat Islam

KH Ahmad Dahlan dan Refleksi Asa Pergerakan Umat Islam Ahda Abid al-Ghiffari*   Sejarah pergerakan Umat Islam di Indonesia mengenal nama Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah. Pergerakan di sini harus dipahami dengan makna yang sebenar-benarnya....

0

CORDOBA

Megahnya peradaban Islam di Cordoba, Spanyol tidak ditegakkan dengan senjata dan serbuan tentara. Peradaban Islam muncul karena peradaban yang berkembang di tanah para Matador itu mengalami sakit yang berkepanjangan. “Bagaimana sejumlah orang Badui, datang...

0

“Dakwah Kampus dan Tantangan Rekonstruksi Peradaban Islam”

“Dakwah Kampus dan Tantangan Rekonstruksi Peradaban Islam” Arif Wibowo*   Godaan yang selalu muncul pada saat-saat kelam ialah membayangkan sebuah “zaman keemasan”, sebuah negeri ideal yang damai, sejahtera, dan berjaya. Setiap budaya dan tradisi agama memilikinya. Cerita John Bunyan yang tersusun baik, The Pilgrim’s Progress, dapat disejajarkan dengan visi al Farabi tentang Madinatul Fadhilah (Negara Utama). Keduanya menjawab hasrat manusia akan pendorong semangat, kepastian, dan jalan keluar dari masa kini yang sulit. Keduanya tetap merupakan produk kenangan manis, serta dambaan, selain sebagai karya sastra atau filsafat, tidak memiliki dampak praktis yang lebih jauh (Ali A Allawi)   Negara yang bernama Indonesia ini pada mulanya tidak pernah meninggalkan Islam dalam kelahiran dan perkembangannya. Guru dari para founding father negeri ini, Haji Oemar Said Cokroaminoto, secara eksplisit menggunakan Islam sebagai ideologi dan spirit gerakannya. Nama-nama besar lain seperti H. Agus Salim, M. Natsir, Moh Roem adalah para politisi yang mencoba memberikan wacana alternatif bagaimana seharusnya Islam dan kaum muslimin mengawal negeri ini dengan konsep “Theistic Democarcy”nya. Sebab kata Natsir, Pancasila yang mencoba merumuskan demokrasinya sendiri adalah kulit luar yang perlu isi, dan Islam adalah isi yang yang terbaik. Sebab ia tidak hanya berdimensi dunia tapi juga berdimensi ukhrawi, bukan hanya material tapi juga spiritual. Tanpa Islam, Pancasila akan dijadikan budak dan alat pelanggeng status quo oleh para penguasa. Ia bisa dipelintir sesuai dengan selera penguasa.