Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara

Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara

Oleh : Yuwana Galih Nugrahatama S.S

 

Perkembangan Awal Pemukiman Arab di Nusantara

Nusantara adalah sebuah kawasan yang berisi beragam jenis etnis, suku bangsa, ras, maupun kekayaan budaya yang sangat luar biasa banyaknya. Keragaman budaya yang timbul dari berbagai daerah ternyata memberikan suatu identitas khas dari berbagai macam etnis yang ada baik dari lokal maupun pendatang. Etnis lokal memberikan sentuhan lokal yang berisi ajaran leluhur tentang menjaga kesatuan dan persatuan antara sesama manusia maupun dengan alam sekitar, etnis pendatang yang berasal dari luar juga memberikan corak budaya khas hingga melebur menjadi sebuah kebudayaan baru dalam keragaman budaya Nusantara. Etnis pendatang yang datang ke kawasan Nusantara diantaranya adalah etnis Tionghoa1, Arab, Bengali, Yahudi, dan masih banyak lagi.

Etnis Arab dikenal sebagai salah satu etnis pendatang yang memiliki pengaruh cukup besar dalam perkembangan Nusantara sebagai sebuah ‘nation state’ pada masa awal abad ke-20. Mereka dikenal sebagai salah satu pedagang ulung serta pemuka agama Islam, dimana masyarakat pribumi masih menganut kepercayaan Hindu-Budha maupun kepercayaan lain. Hal ini didasarkan oleh para pedagang yang berasal dari kawasan yang disebut sebagai Hadramaut, sebuah kawasan yang berada di salah satu daerah jazirah Arab bagian selatan yang kini dikenal sebagai kawasan Yaman Selatan. Hanya beberapa diantara mereka yang datang dari Maskat, di tepian Teluk Persia, Hijaz, Mesir, maupun dari pantai timur Afrika2.

Pada awal abad pertengahan, catatan para penjelajah Barat menunjukkan bahwa kawasan Nusantara telah menjalin hubungan dagang yang cukup erat dalam bidang perdagangan antara Arab Selatan, Maskat, dan Teluk Persia3. Para pedagang yang berasal dari kawasan Hadramaut juga dikenal sebagai navigator ulung pada waktu itu. Sehingga mereka dapat menjangkau kawasan hingga ke daerah Timur Jauh atau yang kita kenal sebagai kawasan Nusantara pada saat ini.

Selain berdagang, para pedagang membawa misi penting berupa memperkenalkan Islam di Nusantara semenjak runtuhnya kerajaan Islam Samudra Pasai hingga kerajaan Hindu Majapahit yang menandai awal supremasi kerajaan Islam hingga awal abad ke – 20. Semenjak peristiwa tersebut, para pedagang muslim keturunan Hadramaut mulai mendirikan sebuah pemukiman yang berada di pesisir pantai4, seperti Batavia (Jakarta), Cirebon, Gresik, Tuban5 dan Surabaya.

Imigran Arab yang berasal dari kawasan Hadramaut mulai memasuki Nusantara melalui jalur pelayaran. Menurut catatan Van Den Berg, data berupa sensus para imigran Arab sebelum tahun 1859 tidak ditemukan sama sekali mengenai arus masuk maupun keluar para imigran tersebut. Namun, semenjak revolusi industri di negara Inggris pada awal akhir abad ke-18, memberikan pengaruh besar dalam bidang navigasi maupun teknologi pelayaran berupa kapal uap. Sehingga mempermudah pelayaran dari kawasan Hadramaut hingga ke kawasan Timur Jauh menjadi lebih mudah dijangkau. Pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869 memberikan dampak pada meningkatnya jumlah imigrasi etnis Hadramaut ke kawasan Nusantara.

Memasuki abad ke-19, pemukiman Arab di Nusantara diatur oleh pemerintah kolonial Belanda serta dikategorikan dalam penduduk timur asing atau oosterlingen. Pemukiman Arab Sumatera terbesar berada di Palembang yang sebagian besar adalah penduduk asli Arab dari Saudi maupun dari Yaman Selatan. Sedangkan pemukiman yang berada di pulau Jawa sebagian besar bermukim di kawasan pesisir seperti Batavia (Jakarta), Cirebon, Tegal, Semarang, Tuban, Gresik, dan Surabaya6. Pemukiman Arab terbesar di luar Jawa bermukim di kota Pontianak, Banjarmasin, Makassar, dan Palu.

Pulau Jawa adalah sebuah negeri yang sangat besar, negeri yang dimulai dari Cirebon (Choroboam) hingga Blambangan (Bulambaum)7. Negeri ini dikepalai oleh seorang raja Jawa penganut paganisme8. Kerajaan-kerajaan yang berada di pulau Jawa sejak lama sudah mengadakan hubungan dengan para pedagang muslim yang berasal dari Arab, Gujarat, maupun Persia9. Para saudagar muslim mulai memperkenalkan ajaran agama Islam mereka di daerah pesisir pantai Jawa sembari berdagang. Islam dan kebudayaan setempat di pulau Jawa berasimilasi dan berakulturasi dengan baik hingga membuat suatu bentuk kebudayaan baru.

Rickleff10 menjelaskan ada dua hal yang mendukung dalam hal proses islamisasi di pulau Jawa diantaranya adalah :

1.Penduduk pribumi yang berhubungan dengan para saudagar muslim

2.Penduduk asing yang beragama Islam, menetap, kemudian mengadakan perkawinan campuran dengan putri para raja pribumi maupun masyarakat lokal

Selain pendapat oleh Rickleff, ada tiga jenis pola pembentukan budaya yang mendukung proses terjadinya islamisasi di kawasan Nusantara seperti :

  1. Samudra Pasai : Kekuasaan Supra Desa menuju negara terpusat
  2. Sulawesi Selatan : Islamisasi diawali di Keraton
  3. Jawa : Islam tampil sebagai penentang kekuasaan yang ada

Kombinasi antara penguasa lokal dengan saudagar muslim ternyata cukup efektif dalam menentang kekuasaan sebelumnya, cara yang paling efektif dalam mendukung proses Islamisasi adalah dengan menikahi putri penguasa setempat. Selain itu, mereka juga diundang sebagai pemimpin ritual keagamaan11. Menurut Uka Tjandrasasmita12, proses Islamisasi ada 6 yaitu : 1. Perdagangan, 2. Perkawinan, 3. Pendidikan, 4. Politik, 5. Kesenian, 6. Tasawuf 13.

Kemudahan dalam mendirikan sebuah pemukiman Arab di pulau Jawa memberikan akses masuk terhadap gelombang migrasi etnis Hadramaut, mayoritas memilih pindah ke kawasan Nusantara untuk mencari kehidupan baru serta menghindari konflik di Timur-Tengah. Setiap pemukiman Arab di pulau Jawa memiliki keunikan dan karakteristik masing-masing, dalam segi bidang kehidupan14.

Pemukiman Arab di Batavia15 merupakan pemukiman terbesar yang ada di Hindia Belanda pada waktu itu, tahun 1844 pemerintah kolonial mengharuskan tiap-tiap pemukiman agar memiliki kepala koloni dalam mempermudah proses sensus penduduk lokal maupun pendatang. Rumah-rumah para imigran Arab kebanyakan mengikuti gaya arsitektur Eropa yang terdapat di kawasan kota tua Batavia16. Masyarakat Arab di kawasan kota Batavia dikategorikan sebagai masyarakat kelas dua disamping etnis Tionghoa, atau bisa disebut sebagai Timur Asing atau oosterlingen. Masyarakat kelas atas diwakili oleh masyarakat Eropa.

Pemukiman Arab di Cirebon merupakan perkembangan dari pemukiman orang-orang India atau Pekojan17 yang sama dengan kampung Pekojan di Batavia. Pemukiman ini kemudian menjadi pemukiman mandiri setelah dipisahkan dari pemukiman Arab Indramayu. Sama seperti kampung Arab yang ada di Batavia, mereka juga membangun masjid yang disebut sebagai ‘Masjid Arab’. Kampung Arab yang berada di Cirebon memiliki kehidupan berbanding terbalik dengan apa yang ada di Batavia. Kehidupan berada pada garis kemiskinan, gaya arsitektur rumah mereka sama dengan daerah asal mereka, sisi perkampungan juga tampak kotor dan kumuh. Pemukiman Arab di daerah Indramayu justru semakin berkembang berkat posisi tawar strategis di bidang perdagangan.

Pemukiman Arab di Pekalongan dikenal sebagai sentra batik Pekalongan yang menjadi tempat strategis dalam hal perdagangan. Sebagian besar penduduknya adalah berasal dari golongan sayyid18 dan kawin dengan penduduk pribumi. Rata-rata mereka menetap di daerah Mipitan, Kauman, dan Krapyak. Kehidupan sosial mereka lebih cenderung mengikuti gaya pribumi dilihat dari cara berpakaian, cara hidup, bahasa, hingga adat istiadat mereka.

Pemukiman selanjutnya berada di daerah Semarang. Tahun 1819 sudah memiliki pemukiman tersendiri serta kepala koloni. Pemukiman Arab Semarang dikenal sebagai pemilik modal yang cukup besar serta kekayaan yang jumlahnya melimpah hingga sampai kepada keturunan selanjutnya. Mayoritas adalah pengusaha yang bergerak di bidang tekstil maupun industri lainnya, disamping para pengusaha keturunan China.

Bergeser ke daerah timur, Pemukiman Arab Surabaya adalah salah satu yang terbesar setelah koloni Arab yang berada di Batavia. Pemukiman Arab Surabaya berkembang secara pesat dan menetap di kawasan yang kini disebut sebagai kampung Ampel19. Pola pemukiman Arab cenderung berpusat mengelilingi kompleks Masjid Agung Ampel. Sudut-sudut jalan kebanyakan lebih kotor, sempit, dan rusak. Rumah-rumah penduduk bergaya lokal peninggalan Sunan Ampel dan dipadukan dengan gaya Eropa maupun Timur Tengah. Mayoritas memiliki mata pencaharian sebagai pedagang maupun pemuka agama. Oleh sebab itu, koloni ini adalah yang paling terkenal diantara pemukiman Arab di Jawa Timur, diantaranya pemukiman Arab dari : Tuban, Gresik, Malang, Pasuruan, Bangil, Probolinggo, Lumajang, Besuki, dan Banyuwangi.

 

Sistem Sosial Masyarakat Arab di Nusantara

Sistem kekerabatan masyarakat Arab menganut sistem kekerabatan berdasarkan garis keturunan ayah atau disebut sebagai sistem patrilineal20. Hal ini dilatarbelakangi dasar historis mengenai kedatangan awal imigran Hadramaut di kawasan Nusantara, mayoritas adalah pria21. Selain bertujuan untuk berdagang di kawasan pesisir, mereka membentuk sebuah pemukiman dengan menikahi wanita pribumi setempat22.

Masyarakat etnis Arab dikenal memiliki dua golongan yaitu golongan Sayyid serta golongan Syekh, golongan Sayyid dikenal sebagai golongan keturunan Nabi Muhammad SAW serta memiliki status sosial lebih tinggi bila dibandingkan dengan golongan Syekh. Golongan Syekh merupakan golongan keturunan Arab namun tidak memiliki garis keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW.

Golongan Sayyid atau Alawi dikenali dengan ciri khas berupa pakaian serba putih, menandakan status sosial mereka tinggi, namun kebanyakan mereka sangat sulit bergaul dengan sebagian besar masyarakat, hanya beberapa orang saja yang bisa bergaul dan berkomunikasi dengan golongan mereka. Sebutan laki-laki dari golongan sayyid disebut syarif, sedangkan wanita dari golongan sayyid disebut syarifah. Syarifah dikenali dengan pakaian bergamis hitam serta memiliki aturan ketat dalam pergaulan untuk menjaga kehormatan maupun harga diri keluarganya.

Golongan Syekh atau non Alawi justru menunjukkan sikap sebaliknya, hal ini ditunjukkan dengan sikap keterbukaan maupun pembauran dengan seluruh lapisan masyarakat multietnis. Golongan syekh menganggap bahwa keterbukaan adalah langkah awal untuk saling berbaur dan bahu membahu kehidupan masing-masing pihak, tanpa adanya diskriminasi satu sama lain23.

Masyarakat Arab dikenal cukup keras dalam mendidik anak-anak mereka, sejak dari kecil mereka ditanamkan untuk fasih berbahasa Arab serta menekankan pendidikan mengenai moral maupun kewirausahaan. Anak-anak mereka pandai dalam bidang kesenian seperti marawis, pandai dalam hal bersyair, hingga ‘dancing.

Memasuki usia dewasa, anak-anak mereka akan disuruh memilih untuk meneruskan usaha orang tuanya maupun memilih jalan hidupnya sendiri. Masalah pendidikan bagi masyarakat etnis Arab memiliki tingkat kepedulian yang cukup tinggi, hal tersebut ditunjukkan dengan banyaknya dari mereka sudah mengenyam pendidikan tinggi24. Salah satu masalah lain yang cukup sensitif bagi masyarakat Arab adalah masalah perkawinan, terutama perkawinan antaretnis dianggap suatu aib atau momok bagi sebagian golongan keluarga atau fams25.

Perkawinan merupakan salah satu sarana efektif dalam mempertahankan suatu garis keturunan maupun status sosial dalam struktur sosial masyarakat Arab. Mayoritas pemuda Arab bebas untuk memilih wanita yang ingin dinikahi, terutama wanita yang berasal dari etnis Jawa. Hal ini dikarenakan bahwa menikah dengan wanita Jawa lebih mudah bila dibandingkan menikah dengan sesama etnis Arab.

Pemudi etnis Arab dituntut selektif dalam memilih pasangan hidup, hal ini didasarkan untuk menjaga kemurnian garis keturunan atau fams. Sebagian keluarga menganggap bahwa perempuan Arab tidak boleh sembarangan menikahi laki-laki, terutama laki-laki Jawa yang dikenal sebagai masyarakat kelas dua. Alasan lain yaitu mempertimbangkan status, pendidikan, dan asal-usul ia berasal.

Beberapa kasus mencatat bahwa tidak jarang ada sebagian orang melanggar aturan tersebut baik dari golongan Sayyid maupun Syekh, siapapun yang melanggar akan mendapatkan sanksi sosial berupa dikucilkan dari keluarga besar serta dicoret dari daftar ahli waris. Kasus ini terjadi oleh beberapa keluarga yang memiliki pemikiran kolot maupun tradisi kuat. Selain itu, tidak beberapa keluarga memiliki alasan rasional untuk menikahkan anak perempuannya dengan laki-laki non Arab karena alasan ekonomi cukup, pendidikan tinggi, dan lain-lain.

 

Peran Masyarakat Arab dalam Masyarakat Majemuk

Kedua golongan juga dikenal memiliki organisasi masyarakat, golongan Sayyid dikenal memiliki organisasi Al-Jamiyat al-Khairiyah, sedangkan golongan Syekh dikenal memiliki organisasi terkenal yaitu Al-Irsyad. Organisasi ini bergerak di bidang sosial masyarakat, terutama dikenal dalam bidang pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak (TK) hingga tingkat menengah ke atas (SMA). Masyarakat umum juga mengenal organisasi ini menyediakan sebuah gedung untuk disewakan kepada umum, terutama pesta perkawinan maupun acara seremonial lainnya.

Organisasi Al-Jamiyat al-Khairiyah merupakan sebuah organisasi masyarakat yang didirikan oleh golongan sayyid pada tahun 190526. Organisasi ini bergerak di bidang pendidikan serta memiliki kontribusi cukup penting dalam sejarah pergerakan nasional. Mereka mengenalkan sistem pendidikan modern digabungkan dengan pendidikan agama, pada tahun 1913 organisasi ini juga bergerak di bidang surat kabar maupun percetakan. Usaha percetakan mereka juga pernah dipimpin oleh salah satu tokoh pergerakan ternama yaitu Umar Said Tjokroaminoto27. Tokoh pendirinya yaitu : Sayid Muhammad al-Fahir bin Abdurahman Al-Masjhur, Sayid Muhammad bin Abdullah bin Syihab, Sayid Idrus bin Ahmad bin Syihab dan Sayid Sjehan bin Sjihab28. Al-Khairiyah juga mempunyai prinsip untuk menolak segala hal yang berbau kristen oleh pemerintahan kolonial Belanda.

Organisasi Al-Irsyad adalah pecahan dari anggota organisasi Al-Khairiyah yang tidak satu pendapat dengan mereka. Organisasi ini bergerak di bidang sosial seperti pendidikan, persewaan gedung untuk kegiatan masyarakat, dan lain-lain. Al-Irsyad didirikan oleh Ahmad Surkati pada tanggal 6 September 1914 dengan izin resmi 11 Agustus 1915, nama Al-Irsyad sendiri berasal dari nama organisasi pembaharu di Kairo, Mesir. Tahun 1914 mereka memiliki sekolah khusus untuk guru hingga sekolah agama29.

Latar belakang terbentuknya kedua organisasi tersebut tidak lepas dari konflik internal antar kedua belah pihak, bahkan konflik ini terbawa hingga proses terbentuknya organisasi Persatuan Arab Indonesia. Golongan Sayyid memandang bahwa mereka bangga dengan identitas sebagai orang Arab maupun prestise sosial tinggi, sedangkan golongan Syekh memandang bahwa semua orang memiliki status sosial sama dan berhak menentukan nasibnya sendiri untuk menjadi bagian sebuah bangsa atau negara30.

Krisis ekonomi atau malaise pada tahun 1920 an tidak membuat masyarakat Arab berdiam diri melihat keadaan masyarakat semakin memprihatinkan. Beberapa pemuda Arab Surabaya mendedikasikan dirinya untuk membentuk sebuah wadah perkumpulan pemuda atau jong untuk menentang kekuasaan Belanda pada waktu itu. Perkumpulan ini kemudian dinamakan sebagai ‘Perkumpulan Pemuda Arab Indo’ atau Indo Arabishce Verbond31. A.R Baswedan adalah salah satu anggota IAV, ia kemudian memutuskan untuk keluar akibat konflik anggota Alawi dan Non Alawi yang melanda IAV pada waktu itu.

Setelah memutuskan untuk keluar dari IAV, beliau bersama Abu Bakar Shahab, salah satu pionir pendidikan modern di Surabaya mendirikan sebuah organisasi politik untuk menampung aspirasi masyarakat Arab di Nusantara. Perkumpulan ini kemudian dinamakan ‘Persatuan Arab Indonesia’ atau PAI, organisasi ini juga mempunyai versi sumpah pemuda milik mereka sendiri, yaitu Sumpah Pemuda Arab32. Isi dari sumpah ini yaitu menyatakan dukungan penuh untuk mengusir penjajah dari negeri ini serta mendirikan sebuah negara kesatuan yang berdiri sendiri tanpa intervensi negara lain33.

 

KESIMPULAN

Etnis Arab merupakan etnis pendatang yang berasal dari kawasan Hadramaut (Yaman), mereka datang ke Nusantara secara bergelombang akibat kondisi alam yang tidak mendukung serta perang saudara. Keberadaan pemukiman etnis Arab diketahui sejak zaman kerajaan Islam Samudra Pasai pada abad ke – 13, para saudagar muslim mulai mendirikan pemukiman di kawasan pesisir pantai. Selain berdagang, mereka menyebarkan ajaran agama Islam dengan cara menikahi penduduk setempat maupun menjadi pemimpin upacara keagamaan ketika diundang oleh penguasa setempat.

Gelombang migrasi Hadramaut mengalami perkembangan pesat saat terusan Suez mulai dibangun hingga pesatnya teknologi pelayaran akibat revolusi Industri di Inggris akhir abad ke – 18. Pada mulanya, pemukiman Arab hanya berkembang di kawasan pesisir utara Aceh, kemudian berkembang di Pontianak, dan mengalami puncaknya ketika runtuhnya kekuasaan kerajaan Majapahit pada akhir abad ke – 15. Pemukiman Arab mulai bergesar di kawasan pesisir utara Jawa hingga mendukung lahirnya gerakan Islamisasi oleh Wali Songo.

Pada zaman pemerintah kolonial Belanda, masyarakat Arab dikategorikan sebagai penduduk kelas dua atau ‘orang Timur Jauh’. Kebijakan Wijkenstelsel maupun ‘regering reglement tahun 1854 berupa pemukiman yang dibagi berdasarkan ras dan etnis membuat setiap kota di Hindia Belanda mempunyai kampung berdasarkan ras atau etnis tertentu seperti : Eropa, Tionghoa, Arab, dan Pribumi. Orang-orang Arab juga memegang posisi penting dalam roda perekonomian bersama orang Tionghoa.

Masyarakat Arab juga ikut berperan penting dalam proses kemerdekaan Indonesia salah satunya adalah mendirikan organisasi “Persatuan Arab Indonesia” untuk menyatukan perbedaan antara golongan Sayyid dan Syekh dalam rangka mencapai cita-cita kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1934 mereka mendeklarasikan diri sebagai bagian penting negeri ini dengan Sumpah Pemuda Arab, 6 tahun setelah deklarasi Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Di sisi lain, masyarakat Arab juga berperan penting dalam membangun kualitas pendidikan negeri ini dengan dibentuknya organisasi Jamiat Khairiyah dan Al-Irsyad.

Kedua golongan yakni Sayyid dan Syekh mempunyai pandangan berbeda dalam kehidupan, di satu sisi masih menjunjung tinggi nilai etnosentrisme, disisi lain mereka memposisikan diri sebagai masyarakat biasa bersama yang lain. Tradisi yang dianut oleh kedua golongan sampai detik ini masih dipegang kuat dan berkontribusi nyata terhadap perkembangan keanekaragam budaya yang bernafaskan Islam maupun Timur Tengah.

Masyarakat Indonesia adalah kumpulan dari beragam suku, ras, agama, dan budaya yang berbeda-beda. Maka dari itu, mereka memiliki hak untuk mengekspresikan dirinya secara demokratis tanpa membedakan dari golongan mayoritas atau minoritas. Identitas budaya suatu etnis sangat berperan penting dalam membangun sebuah peradaban bangsa dan negara, hal ini selaras dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika maupun nilai Islam yang menjunjung tinggi perbedaan dalam masyarakat madani.

 

Catatan :

  1. Adanya hubungan perdagangan antara bangsa Tionghoa dengan kerajaan Majapahit menimbulkan terbentuknya pemukiman orang-orang Tionghoa di sepanjang kali Mas dan Pegirian. Lihat Denys Lombard, 2003, Nusa Jawa Silang Budaya Bagian 2 : Jaringan Asia, Gramedia Pustaka Utama : Jakarta, Halaman : 38.

 

  1. Van den Berg, 1989, Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara, INIS : Jakarta. Hal : 1

 

  1. Hal : 67

 

  1. Menurut Mc Gee, keberadaan kota yang terletak di daerah pesisir pantai maupun sungai sangat penting sebagai arus ekspor dan impor barang bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda. Lihat T.G Mc Gee. 1967, The Southeast Asian City : A Social Geography of the Primates Cities of Southeast Asia, University of California : California.

 

  1. Tuban merupakan salah satu pelabuhan yang sangat ramai dengan perdagangan di samping Gresik dan Surabaya. Lihat Soedjito Sosrsodihardjo, 1969, Perubahan Struktur Masyarakat di Djawa : Suatu Analisa, Balai Pustaka : Jakarta.

 

  1. Surabaya dikenal sebagai pelabuhan Ujung Galuh sejak era kekuasaan Kerajaan Majapahit. Menurut Howard Rick, Surabaya memiliki keistimewaan sebagai kota pelabuhan abad ke – 19 dan tidak akan tertandingi oleh kota-kota pelabuhan besar di dunia seperti Calcutta, Rangoon, Singapura, Bangkok, Hongkong, dan Shanghai. Lihat Freek Colombijn (eds). 2005, Kota Lama Kota Baru : Sejarah Kota-kota di Indonesia. Ombak : Yogyakarta.

 

  1. Tom Pires, 2015, Suma Oriental Karya Tome Pires : Perjalanan dari Laut Merah ke Cina dan Buku Francisco Rodriguez, Ombak : Yogyakarta. Halaman : 242

 

  1. Pagan adalah kepercayaan yang berisi mengenai adanya kekuatan magis dari benda-benda yang disakralkan. Pada zaman dahulu, kerajaan-kerajaan yang ada di pulau Jawa dikuasi oleh raja-raja kafir yang berpusat di kawasan Sunda maupun Jawa.

 

  1. Hal ini juga didukung oleh catatan Tome Pires dan dikutip oleh S.Q fatimi, bahwa orang-orang muslim pembawa Islam ke Indonesia juga berasal dari kawasan Benggala, Maghribi, Hadramaut, maupun Persia. Diambil dari beberapa catatan perjalanan Tome Pires dalam Suma Oriental serta aliran-aliran Tasawuf.

 

  1. Lihat Azyumardi Azra, 1996, Islam in The Indonesia World : An Account of Institutional Formation, Mizan : Bandung.

 

  1. Menurut Uka, muncul sebuah anggapan bahwa pada abad ke – 7 maeshi, orang-orang muslim telah datang dan mendirikan perkampungan di Nusantara, dapat dikatakan pula bahwa orang-orang Arab membawa Islam dari negeri asalnya. Lihat Uka Tjadrasasmita, 2000, Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-kota Muslim di Indonesia Abad XIII – XVIII.  Menara Kudus : Kudus, halaman : 15.

 

  1. Badri Yatim, 2006, Sejarah Peradaban Islam : Dirasah Islamiyah II, Raja Grafindo Persada : Jakarta, halaman : 201.

 

  1. Tasawuf yang berkembang di Indonesia adalah Tareqat Qadariyah, Naqsabandiyah, Sammaniah, Qusyasyiah, Syattariah, Syaziliah, Khalwatiah dan Tianiah. Lihat Nugroho Notosusanto, dkk., 1977, Sejarah Nasional Indonesia Jilid 2, Depdikbud : Jakarta, halaman : 37.

 

  1. Pada awalnya, banyak yang tinggal di Aceh kemudian hijrah ke Pontianak & Palembang, mulai tahun 1820 orang-orang Arab mulai banyak menetap di Jawa dan koloni mereka baru bermukim di kawasan Nusantara Timur pada 1870. Lihat L.W.C Van Den Berg, 1989, Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara, INIS : Jakarta.

 

  1. Kota Batavia dianggap sebagai fase baru dalam perkembangan kota di Indonesia serta menjadi permulaan periode kota-kota kolonial di Indonesia. Lihat J.M Nas, 2003, Kota-kota Indonesia : Bunga Rampai, UGM Press : Yogyakarta, halaman : 314.

 

  1. Lihat A. Bagoes P. Wiryomartono, 1995, Seni Bangunan dan Seni Binakota di Indonesia, Gramedia Pustaka Jaya : Jakarta.

 

  1. Pekojan adalah sebutan bagi masyarakat etnis Benggali yang kebanyakan berasal dari tanah hindustan atau India. Kawasan Pekojan paling besar berada di kawasan Medan serta Batavia, kawasan Banten juga menjadi objek perkampungan etnis Benggali tersebut.

 

  1. Deliar Noer, 1980, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900 – 1942, LP3ES : Jakarta. Halaman : 67.

 

  1. Kawasan Ampel awalnya adalah sebuah kawasan hutan dan rawa berlumpur yang diberikan oleh prabu Brawijaya V sebagai hadiah kepada Sunan Ampel dalam rangka memperbaiki kemerosotan moral penduduk dan petinggi kerajaan di kawasan Majapahit.

 

  1. Lihat permasalahan studi penelusuran garis keturunan atau family history, Elsbeth locher-Scholten, halaman : 180

 

  1. Komunitas Arab di kawasan pesisir berhasil mendirikan kerajaan-kerajaan di Pantai Utara Jawa. Lihat Hamid Al-Gadri, 1983, Politik Belanda Terhadap Islam dan Keturunan Arab di Indonesia. Unipres : Jakarta. Halaman : 55

 

  1. Orang Asli Hadramaut dipanggil sebagai wulati atau totok, sedangkan campuran Indo-Hadramaut adalah Muwallad atau peranakan. Hal ini akibat perkawinan campur dengan masyarakat pribumi. Lihat Huub de Jonge, 2004, Abdul Rahman Baswedan and The Emancipation of The Hadramis in Indonesia, Asian Jurnal of Social Sciences, Vol 32, No 3.

 

  1. Lihat permasalahan mengenai toleransi dalam Suaidi Asy’ari (eds), 2003, Konflik  Komunal di Indonesia Saat Ini, Jakarta : INIS dan Pusat Bahasa dan Budaya UIN Syarif Hidayatullah, halaman : 175

 

  1. Dahulu, ada tradisi atau kebiasaan di masyarakat Arab yang bermukim di Nusantara untuk mengirimkan anak-anaknya ke Hadramaut, tradisi tersebut disebut inisiasi. Tradisi ini mulai menghilang semenjak akhir tahun 1960 an karena kemajuan pendidikan modern di Indonesia. Lihat Zefri Al-Katiri, 2013, Menghilangnya Tradisi Bersyair pada Masyarakat Keturunan Arab di Pesisir Utara Pulau Jawa, Volume 1, No, 2, Jurnal Susur Galur : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

 

  1. Lihat polemik pernikahan etnis Arab dengan etnis lain, Nunung Hidayati, 2014, Pernikahan Antar Etnis Arab dan Jawa di Kelurahan Ampel Kecamatan Semampir Kota Surabaya, Skripsi, Tidak Diterbitkan, Surabaya : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Lihat polemik pernikahan etnis Arab dengan etnis lain, Nunung Hidayati, 2014, Pernikahan Antar Etnis Arab dan Jawa di Kelurahan Ampel Kecamatan Semampir Kota Surabaya, Skripsi, Tidak Diterbitkan, Surabaya : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

 

  1. Tepat pada tanggal 17 Juli 1905, di Kampung Pekodjan, Batavia, secara resmi berdiri Jamiatul Khairiyah, tetapi izin resmi baru keluar 4 tahun kemudian. Lihat L. Stoddard, 1966, Dunia Baru Islam, Jakarta, halaman : 318 – 319.

 

  1. Maslakhatul Nurul Aini, 2013, Masyarakat Arab Islam di Ampel Surabaya dalam Struktur Kota Bawah Tahun 1816 – 1918, tidak diterbitkan, Surabaya : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Fakultas Adab, halaman : 88

 

  1. Deliar Noer, 1980, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900 – 1942, LP3ES : Jakarta. Halaman : 68.

 

  1. Ibid

 

  1. Sebuah suku atau masyarakat menjadi atau tidak menjadi sebagai bangsa tergantung kepada keadaan politik pada waktu tersebut. Lihat Harold K. Issacs, 1993, Pemujaan Terhadap Kelompok Etnis : Identitas Kelompok dan Perubahan Politik, Yayasan Obor Indonesia : Jakarta.

 

  1. Hamid Algadri, 1994, Dutch Policy Against Islam & Indonesians of Arab Descent In Indonesia, LP3ES : Jakarta. Halaman : 15.

 

  1. Sumpah Pemuda Arab disahkan pada kongres pertama organisasi Persatuan Arab Indonesia di Semarang.

 

  1. PAI mulai memutuskan untuk mempunyai cita-cita menuju Indonesia merdeka, seperti yang diperjuangkan oleh bangsa Indonesia. Prinsip tersebut berasal dari hasil kongres kedua di Surabaya tahun 1937. Lihat Hamid Al Gadri 1994, Dutch Policy Against Islam & Indonesians of Arab Descent In Indonesia, LP3ES : Jakarta. Halaman : 169.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Bagoes P. Wiryomartono. 1995. Seni Bangunan dan Seni Binakota di Indonesia. Gramedia Pustaka Jaya : Jakarta.

Azyumardi Azra. 1996. Islam in The Indonesia World : An Account of Institutional Formation. Mizan : Bandung.

Badri Yatim. 2006. Sejarah Peradaban Islam : Dirasah Islamiyah II. Raja Grafindo Persada : Jakarta.

Berg, van Den. 1989. Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara. INIS : Jakarta.

Colombijn, Freek (eds). 2005. Kota Lama Kota Baru : Sejarah Kota-kota di Indonesia. Ombak : Yogyakarta.

Deliar Noer. 1980. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900 – 1942. LP3ES : Jakarta.

Soedjito Sosrodihardjo. 1969. Perubahan Struktur Masyarakat di Djawa : Suatu Analisa. Balai Pustaka : Jakarta.

Hamid Algadri, 1994, Dutch Policy Against Islam & Indonesians of Arab Descent In Indonesia, LP3ES : Jakarta.

Harold K. Issacs. 1993. Pemujaan Terhadap Kelompok Etnis : Identitas Kelompok dan Perubahan Politik. Yayasan Obor Indonesia : Jakarta.

Lombard, Denys. 2003. Nusa Jawa Silang Budaya Bagian 2 : Jaringan Asia. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.

Mc Gee, T.G. 1967. The Southeast Asian City : A Social Geography of the Primates Cities of Southeast Asia. University of California : California.

Nas, J.M. 2003. Kota-kota Indonesia : Bunga Rampai. UGM Press : Yogyakarta.

Nugroho Notosusanto, dkk.1977. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 2. Depdikbud : Jakarta.

Pires, Tom. 2015. Suma Oriental Karya Tome Pires : Perjalanan dari Laut Merah ke Cina dan Buku Francisco Rodriguez. Ombak : Yogyakarta.

Stoddard, L. 1966. Dunia Baru Islam. ______.Jakarta.

Suaidi Asy’ari (eds). 2003. Konflik  Komunal di Indonesia Saat Ini. Jakarta : INIS dan Pusat Bahasa dan Budaya UIN Syarif Hidayatullah.

Uka Tjadrasasmita. 2000. Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-kota Muslim di Indonesia Abad XIII – XVIII.  Menara Kudus : Kudus.

 

JURNAL ILMIAH

de Jonge,Huub 2004. Abdul Rahman Baswedan and The Emancipation of The Hadramis in Indonesia, Asian Jurnal of Social Sciences, Vol 32, No 3.

Zefri Al-Katiri, 2013. Menghilangnya Tradisi Bersyair pada Masyarakat Keturunan Arab di Pesisir Utara Pulau Jawa. Volume 1, No, 2, Jurnal Susur Galur : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

 

SKRIPSI, TESIS, DISERTASI

Maslakhatul Nurul Aini. 2013. Masyarakat Arab Islam di Ampel Surabaya dalam Struktur Kota Bawah Tahun 1816 – 1918. tidak diterbitkan, Surabaya : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Fakultas Adab.

Nunung Hidayati. 2014. Pernikahan Antar Etnis Arab dan Jawa di Kelurahan Ampel Kecamatan Semampir Kota Surabaya. Skripsi, Tidak Diterbitkan, Surabaya : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

 

 

 

 

 

 

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: