Dilema Islamisasi Di Era Global: Memahami Gerakan Ulama Jawa Dalam Penyebaran Islam

Edwi Mardiyoko, S.S

[Penggiat Studi Wawasan Islam]

Mengapa Indonesia makin terpuruk???

Karena Islam hanya digunakan untuk mengurusi orang mati bukan orang hidup.

Ada hal yang unik ketika penulis memperoleh pesan singkat diatas. Pesan singkat diatas adalah salah satu bentuk ekspresi yang dapat menggambarkan kondisi umat Islam di Indonesia sekarang.Dalam hal ini yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana ekspresi kegelisahan itu muncul ditengah-tengah Negara yang jumlah umat Islamnya terbesar di dunia. Dengan demikian berarti terdapat permasalahan yang mendasari kegelisahan tersebut muncul.

Permasalahan utama yang mendera umat Islam di Indonesia adalah proses pemaknaan Islam yang tidak utuh dalam diri umat Islam di Indonesia. Hal ini dimungkinkan apakah karena umat Islam merasa mayoritas sehingga menganggap remeh-temeh pemaknaan nilai-nilai Islam atau karena ada strategi penyesatan yang menyebabkan umat Islam tidak mafhum terhadap pemaknaan nilai-nilai Islam.Dua hal tersebut bisa jadi faktor yang menjadikan peradaban Islam yang diimpikan enggan terwujud.

Syekh Muhammad Naquib Al Attas menyebut proses pemaknaan Islam dalam suatu masyarakat menuju peradaban Islam sebagai Islamisasi. Menurutnya Islamisasi adalah pembebasan masyarakat dari tradisi kultural bersifat magis, mitologis, animistis dan etnis yang tidak sesuai dengan Islam.Selain itu juga dimaknai sebagai pembebasan pikiran dan bahasa manusia dari kontrol paham sekuler yang tidak sesuai dengan fitrahnya.[1] Namun demikian Islamisasi seperti yang diungkapkan oleh al-Attas seperti diabaikan oleh umat Islam Indonesia, terlebih-lebih bagi mereka yang sejak lahir beragama Islam yang menganggap hal itu tidaklah penting. Persepsi ini mengakibatkan semakin besar jarak antara umat Islam dengan peradaban Islam yang diimpikan. Salah satu cara untuk mengikis jarak tersebut adalah dengan mempelajari sejarah Islamisasi di Indonesia.

Di Indonesia Islamisasi tidak akan terwujud apabila tidak terdapat ulama yang bergerak untuk mewujudkan Islamisasi tersebut. Peran ulama sangatlah besar selain mengajarkan nilai-nilai Islam, ulama juga berperan dalam merebut kemerdekaan.Ulama selain pemimpin spiritual adalah juga sebagai informal leader bagi masyarakat melawan penjajahan Kolonial Belanda. Oleh karena itu, makalah ini berusaha mengungkap bagaimana gerakan ulama, khususnya ulama Jawa dalam penyebaran Islam. Hal ini dimaksudkan agar supaya kita bisa meneladani cara-cara apa yang ditempuh para ulama.

Memaknai Nilai Ulama

Ulama dalam masyarakat Jawa lebih dikenal dalam istilah ‘kyai’, biasanya dalam masyarakat menempati posisi yang terhormat karena ditempatkan sebagai contoh panutan yang baik dalam masyarakat.Ulama selalu dijadikan rujukan untuk konsultasi baik kehidupan dunia dan akhirat.Di Islam, Ulama memiliki arti sebagai Warosatul Anbiya’ atau pewaris para nabi.Dalam hadis sudah dijelaskan “sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi, para nabi tidaklah mewariskan dinar atau dirham (harta), tetapi para nabi mewariskan risalah (ilmu dan agama).”(H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi).Jadi bisa dimaknai bahwa ulama yang ideal adalah ulama yang senantiasa sebagai pewaris para nabi dimana dia selalu menyampaikan risalah yang diwariskan oleh nabi. Meskipun demikian, ulama bukanlah seorang nabi tetapi layaknya manusia biasa.Ulama tidak memiliki sifat makshum atau terpelihara dari dosa seperti yang dimiliki oleh rasul dan nabi. Bahkan ulama sering tergoda akan urusan duniawi misalnya materi dan ambisi. Hal ini apabila tidak dicermati akan dapat mempengaruhi para pengikutnya.

Hal yang pantas dan melekat dalam diri seorang ulama dalam upaya menyampaikan risalah nabi adalah senantiasa menegakkan Islam sebagai pedoman hidup di dunia dan akhirat.Seorang ulama adalah bukan seorang yang hanya dihormati tetapi seorang ulama adalah seorang pembebas masyarakat dari hal-hal yang menyesatkan.Ulama juga harus memiliki keberanian dalam menegakkan ajaran Islam, melindungi kaum yang tertindas, membebaskan kaum yang terkengkang baik dalam pemikiran maupun fisik, dan mengayomi umat atau masyarakat.Nilai tersebut adalah nilai penting yang harus dimiliki oleh ulama, karena ulama adalah jembatan antara ajaran nabi kepada umatnya yang sekarang.

Strategi Ulama Pada Awal Penyebaran Islam di Jawa

Di dalam upaya penyebaran agama Islam para ulama menerapkan strategi yang sangat berhasil sehingga Islam sekarang menjadi agama mayoritas di Indonesia.Seperti halnya yang dicontohkan oleh para Wali, sebutan ulama besar di Jawa, telah memberikan gambaran strategi penyebaran Islam di Jawa.Wali di tanah Jawa membentuk institusi yang dikenal atau dengan sebutan Walisongo.Sebuah institusi yang menjadi sarana dari para wali dalam usaha penyebaran Islam di Jawa. Walisongo menggunakan metode akulturasi dalam dakwahnya, yaitu metode yang menggunakan lambing-lambang dan lembaga-lembaga  budaya yang telah ada kemudian diisi dengan ajaran Islam sehingga mudah dicerna dan sampai pada masyarakat awam.[2]

Bentuk dari dakwah akulturasi itu adalah penggunaan terminologi atau istilah yang melekat dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang termaktub dalam lembaga atau budaya dalam masyarakat.Sebagai contoh adalah sekaten (Syahadatain), yang lahir di desa Glagah Wangi Demak.Sekaten adalah gamelan yang gendingnya diciptakan oleh Sunan Kalijaga, dengan nafas Islami, seperti Rabulngalamina, Salatun, Sholawatan dan sebagainya.Ini adalah salah satu bentuk dakwah melalui kesenian.[3]

Selain dakwah kesenian, Walisongo juga melakukan dakwan melalui makanan, yaitu menggunakan lambang ketan, kolak, dan apem yang dibagikan kepada masyarakat setiap bulan Ruwah (Sya’ban).Dari sudut pandang bahasa, ketan secara etimologis berasal dari Khotoah yang artinya adalah kelemahan atau kesalahan, kolak dari kata qola (mengucapkan), dan apem dari kata afuwun(afuwun).Dengan demikian makna dari ketan, kolak, dan apem adalah bila merasa bersalah cepat-cepatlah memohon ampun.[4]Hal ini sekarang telah menjadi budaya pada masyarakat Jawa pada bulan Sya’ban bahwa sebelum menghadapi bulan Puasa mengadakan kendurian atau kondangan yang sajiannya adalah termasuk makanan-makanan tersebut.Pada masyarakat Jawa sebelum menjalani ibadah Puasa selalu menjalani kegiatan seperti silaturahim kepada teman dan sanak saudara sambil bermaafan dan berziarah kubur.

Selain dakwah melalui lembaga budaya, selanjutnya para Wali juga menyebarkan Islam dengan cara mendirikan lembaga pendidikan yang disebut pondok. Pendidikan pondok adalah sistem satu kompleks terdiri atas masjid, keluarga kyai, tempat pendidikan, dan tempat tinggal santri.[5]Sistem pondok pesantren seperti ini dipelopori oleh Sunan Ampel di Surabaya.Dengan sistem ini santri dididik secara intensif mengenai ajaran Islam.Selanjutnya setelah selesai dari pondok, santri menjadi pendakwah bagi masyarakatnya.Selain itu karena pengaruh yang baik dari posisi pondok pesantren di masyarakat menjadikan ulama menjadi pemimpin kultural baik dalam pondok pesantren dan masyarakat sekitarnya.Tak sedikit ulama yang memiliki pengaruh kuat dipersepsikan sebagai raja oleh masyarakatnya. Hal ini dikarenakan perkembangan pesat dari pondok pesantren itu telah seperti menjadi kerajaan kecil.

Contoh ulama yang dianggap menjadi raja adalah Sunan Gunung Jati dan Sunan Giri karena luasnya pengaruh kepemimpinan dan kharisma yang kuat, dua pesantren itu menjadi panutan bagi pesantren-pesantren lain di tanah Jawa.Giri sebenarnya adalah daerah enklave[6] Muslim dari wilayah kerajaan Majapahit yang pada awalnya hanya sebuah pesantren kemudian menjadi kerajaan kecil.Giri dipimpin oleh seorang ulama yang termahsyur yaitu Raden Paku atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Giri.Beliau adalah ulama besar dan beliau adalah salah seorang yang diminta untuk membuat keputusan mengenai keberadaan Demak Bintoro dengan menyusun bentuk pemerintahan dan keagaamannya.Oleh karena itu, beliau mendapat otoritas sebagai Ahlul Halli wal Aqdi, yaitu memiliki hak untuk memutuskan dan mengikat agama Islam, kenegaraan, dan urusan kaum muslimin.[7] Dengan otoritas tersebut Sunan Giri memiliki kewenangan sebagai berikut:

  1. Mengesahkan dan memberi gelar sultan kepada kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.
  2. Menentukan garis besar politik pemerintahan.
  3. Ikut bertanggung jawab terhadap keamanan kaum muslimin dan kerajaan-kerajaan Islam.
  4. Mencabut kedudukan sultan bila yang bersangkutan menyimpang dari kebijakan para wali.

Dengan kewenangan ini kedudukan para Wali menempati posisi diatas kerajaan-kerajaan Islam.Oleh karena itu, para wali juga memiliki kontrol yang kuat terhadap keagamaan dan politik dalam kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Dengan kata lain posisi para Wali seperti Dewan Syuro bagi kerajaan-kerajaan Islam.

Dakwah Politik Walisongo

Ada pemikiran yang keliru mengenai Walisongo pada masyarakat awam bahwa Walisongo adalah para wali yang hidup dalam kerajaan Islam yang berjumlah hanya Sembilan orang.Pada dasarnya menurut catatan sejarah, Walisongo adalah sebuah institusi yang dibentuk oleh para ulama di tanah Jawa dan mereka tidak hidup dalam satu era.Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa kedudukan dari Walisongo sangatlah tinggi pada kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.Mereka berwenang sebagai kontrol keagamaan dan kekuasaan.

Dalam melakukan dakwah politiknya, Walisongo menyandarkan pemahaman yang sekarang disebut sebagai “Islam Politik”, yang merujuk pada pencerminan ajaran Islam mengenai politik yang diilhami dari petunjuk Allah SWT.Islam politik sendiri adalah perjuangan Islam dibidang politik.Persepsi politik Islam ini bersifat ideologis, dimana pikiran manusia dipengaruhi oleh garis panduan politik yang bersifat “simbolik-ideologis Islam”.[8] Artinya dalam melakukan dakwah politik Walisongo menerapkan prinsip-prinsip dasar Islam, antara lain penerapan hukum Islam sebagai aturan dasar dari kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Ketika Islam belum menjadi dasar kerajaan di Nusantara kedudukan raja merupakan absolut dan raja adalah hokum namun ketika Islam datang konsepsi tersebut diubah dengan dasar dari hokum Islam yang diterapkan oleh Walisongo.

Dalam sistem pemerintahan yang diterapkan oleh Walisongo pada sistem kesultanan seorang sultan bukanlah hukum, seorang sultan adalah pelaksana hukum dan ia tunduk pada hukum yaitu Syari’at Islam. Sejarah mencatat Kesultanan Demak Bintoro menerapkan hukum Syari’at Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan masyarakat.Konstitusi tersebut adalah kitab Salokantara dan Jugul Mudayang yang disusun oleh Sunan Kudus dan dibantu oleh Sunan Ampel dan Sunan Giri.Kitab hukum tersebut mengatur perkara antara lain perdata, mua’malah, jinayat, siyasah, imamah, qishash, ta’zir, jihad, hudud, perburuhan, perbudakan, makanan, bid’ah, dll.[9]Jadi awalnya dengan membangun sebuah bentuk lembaga pendidikan yang kuat yang melahirkan santri-santri yang bisa membebaskan, Walisongo juga meletakkan tatanan perubahan pemerintahan di kerajaan Nusantara, yaitu dengan penerapan hukum Islam.Salah satu contoh warisan dari dakwah politik Walisongo selain sistem adalah adanya konsep denah dari alun-alun, keraton, masjid, dan tempat tinggal masyarakat.

Kesuksesan dari Walisongo dalam dakwah kultural dan politik adalah tidak lepas bagaimana pola regenerasi dari ulama Jawa itu sendiri.Ini bisa dipahami dengan menciptakan ulama-ulama maka kepentingan Walisongo untuk menegakkan ajaran Islam di tanah Jawa dapat terjaga.Disamping itu pola pendidikan di pondok pesantren yang dibangun oleh Walisongo, selain ingin mempertahankan tujuan dari penegakkan ajaran Islam juga sebagai penangkal ajaran-ajaran yang masih bersifat jahiliyah.Dakwah politik Walisongo juga dapat menjadi cerminan bagaimana ajaran Islam itu bisa masuk dalam hal yang bersifat politik.

Tipologi Ulama Jawa

Dalam perkembangannya ulama Jawa dapat dikategorikan menjadi 4 tipe ulama.[10]

Pertama, adalah golongan ulama yang merangkap sebagai kepala pemerintahan.Ulama yang termasuk dari golongan ini adalah Sunan Giri dengan keturunannya dan Sunan Gunung Jati di Cirebon.Pemimpin agama itu memiliki reputasi yang tinggi dalam bidang keagamaan, politik kenegaraan, dan otoritas sebagai pentahbis para Sultan di Jawa sebelum era Mataram.

Kedua, adalah golongan ulama yang masih memiliki darah bangsawan.Hal ini dapat terjadi karena sering kali para bangsawan mengawinkan anaknya dengan anak keturunan dari para ulama atau dari sanak keluarga ulama.Contoh dari golongan ini adalah Ki Ageng Pandan Arang, Sayid Kalkum, dan Panembahan Rama atau Kyai Kajoran (masih merupakan keturunan Panembahan Senopati, raja Mataram pertama).

Ketiga, adalah golongan ulama sebagai alat birokrasi kerajaan/tradisional.Ulam birokrat bertugas pada upacara keagamaan keraton, pernikahan keluarga raja, urusan tempat ibadah, dan makam.Disamping itu ulama kelompok ini juga berperan sebagai pemberi fatwa tentang hukum-hukum agama.Ulama birokrat pada kerajaan Islam di Jawa sering disebut Abdi Dalem Pamethakan, Abdi Dalem Kaji, Abdi Dalem Suronoto, dan sebagainya.Lebih mudahnya ulama birokrat dikenal sebagai Penghulu Keraton.

Keempat, adalah golongan ulama pedesaan. Golongan ini adalah yang terbanyak diantara golongan yang lain. Ulama pedesaan tidak memiliki hubungan birokrasi dengan pemerintahan.Mereka murni sebagai pemimpin spiritual dan kultural bagi masyarakat disekitarnya masing-masing.Ulama pedesaan lebih dihormati sebagai elite religious dan tempat bertanya bagi santri dan masyarakat sekitar.Termasuk dalam tipe ini juga termasuk kaum ulama pengembara dan ulama yang menetap di daerah perdikan[11].

Namun demikian adanya tipologi tersebut bukan lantas berarti terdapat perbedaan dari para ulama.Dengan mendasarkan pada Warosatul Anbiya’ para ulama tetap teguh dan bersatu dalam urusan menegakkan ajaran Islam karena mereka menyadari bahwa dengan persatuan kepentingan dalam dakwah maka cita-cita peradaban Islam dapat terwujud.

Problematika Periode Sekarang

Masalah yang dihadapi oleh umat Islam dalam kaitannya dengan Islamisasi sangatlah kompleks. Masalah yang pertama terletak pada lunturnya identitas keislaman seorang muslim. Umat Islam sekarang sebagian besar menganggap tidaklah penting mempelajari sejarah Islam, hal ini berakibat hilangnya identitas yang dimiliki seorang muslim karena tidak mengetahui jati dirinya sebagai seorang muslim. Sesungguhnya dengan mempelajari tentang sejarah Islam selain dapat menumbuhkan semangat keislaman namun juga dapat mengambil sebuah pelajaran tentang identitas keislaman. Umat Islam lebih condong kepada sisi humanism dan menganggap ajaran semua agama adalah sama. Hal ini bisa dipahami karena penyesatan pemikiran terhadap umat Islam itu sudah berlangsung lama.

Munculnya orientalis telah meletakkan dasar kesesatan berfikir pada sebagian umat Islam.Istilah orientalisme baru muncul pada abad XIV, namun inti dari faham tersebut sebetulnya sudah cukup tua. Edward W Said mengatakan Orientalisme adalah suatu cara untuk memahami dunia Timur berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman dari manusia Barat, yaitu Eropa.[12]Jadi orientalisme adalah cara pandang masyarakat Barat terhadap kebudayaan yang berkembang pada masyarakat Timur. Hamid Zarkasyi juga menjelaskan sebenarnya ada dua motif dalam kajian para orientalis, yaitu motif agama dan motif politik.[13]

Motif agama muncul karena Barat yang satu sisi mewakili Kristen memandang Islam sebagai agama yang sejak awal menentang doktrin-doktrin keagamaannya.Oleh karena itu para orientalis Kristen menganggap pemahaman Islam ini sangatlah berbahaya bagi eksistensi Kristen sehingga mereka membuat penyesatan pemikiran melalui serangkaian kajian yang belum jelas terbukti keilmiahannya.Para orientalis juga mengupas Islam dengan sudut pandat teori Barat dan juga cenderung membenturkan dengan teori Barat yang condong pada rasionalisme, empirisme, dan humanisme.

Motif politik lebih disebabkan karena Barat memandang Islam sebagai ancaman yang nyata. Sebagai sebuah peradaban yang baru dan cenderung kuat, Islam bergerak sangat cepat, dan sepertinya Barat sadar betul bahwa Islam bukan sekedar istana-istana megah, bala tentara yang gagah berani atau bangunan monumental, namun juga memiliki khazanah dan tradisi keilmuan yang tinggi.

Salah satu orientalis yang sangat memusuhi Islam yaitu Snouck Hurgronje.Dia menegaskan dalam ceramahnya di depan NIBA (Netherlands Indische Bestuurs Academie) Delft pada tahun 1911 bahwa “musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai doktrin agama melainkan Islam sebagai doktrin politik.”[14] Dia memberikan penjelasan bahwa politik Islam, yaitu: (1) Terhadap dogma dan perintah hukum yang murni agama hendaknya pemerintah bersifat netral; (2) Masalah perkawinan dan pembagian warisan dalam Islam menuntut penghormatan; (3) Tiada satu pun bentuk Pan Islam (Khilafah) boleh diterima oleh kekuasaan Eropa.

Hal tersebut berakibat munculnya nativisasi[15]dalam Islam dan secara garis besar dapat dijelaskan sebagai berikut (1) Menyembunyikan peran Islam pada aspek-aspek yang bersifat politis. (2) Menonjolkan peran Islam pada aspek spiritual. Dua hal ini mengakibatkan peran Islam dalam masyarakat menjadi kerdil karena Islam dipersepsikan hanya bisa bersifat spiritual dan Islam tidak bisa ikut campur dalam urusan keduniaan. Upaya-upaya deislamisasi seperti ini mengakibatkan proses menuju peradaban Islam yang diidam-idamkan akan sulit terwujud. Dan anehnya umat Islam sekarang menerima hal tersebut.Ini bisa dilihat bahwa umat Islam apabila ingin menyelesaikan suatu permasalahan lebih mengambil sudut pandang dari teori-teori yang berkembang di masyarakat Barat daripada menggunakan sudut pandang Islam. Dewasa ini para orientalis lebih gencar dalam melakukan penyesatan pemikiran dalam diri umat Islam bahkan mereka juga menggunakan umat Islam itu sendiri untuk menyesatkan umat Islam yang lain. Hendaknya kita sebagai umat Islam harus mewaspadai fenomena ini dan menjadikan ini sebagai masalah pokok.Seperti diketahui paham SIPILIS (Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme) sudah masuk dalam diri sebagian umat Islam.Paham-paham ini sangatlah berbahaya karena dapat merusak keimanan seorang muslim. Dan karena ini telah menjadi perang pemikiran, umat Islam harus siap menghadapi dan melawan dengan pemikiran juga.Salah satu strateginya dapat diadopsi dengan jalah dakwah yang ditempuh oleh ulama-ulama di tanah Jawa.

Simpulan

Ulama berasal dari bahasa Arab dan kata jamak dari “Alim”, yang artinya adalah orang berilmu atau ilmuwan.Namun dalam masyarakat Jawa kata ulama memiliki arti yang sangat luas.Ulama adalah ahli agama Islam, pemimpin keagamaan, pemimpin kultural melawan Kolonialisme Belanda.Kehadiran ulama sangatlah penting karena selain pengetahuan terhadap ajaran Islam, ulama adalah pemimpin gerakan sosial.

Strategi ulama, khususnya Walisongo, dalam hal Islamisasi patutlah dapat ditiru.Dua jenis dakwah yang mereka lakukan, yaitu dakwah kultural dan dakwah politik bisa menjadi alat untuk menegakkan ajaran Islam.Disamping itu strategi yang mereka lakukan sangatlah sistematis, yaitu pertama mereka membangun sebuah akademi pemikiran dalam bentuk pondok pesantren.Setelah itu kuat mereka menghimpun kekuataan untuk melawan penjajahan.Para Walisongo juga menancapkan pengaruh yang kuat dalam hal politik.Mereka menjadi kontrol utama terhadap pemerintahan kala itu.Dengan ada di kekuasaan, para Walisongo dapat menerapkan ajaran Islam pada masyarakat.

Namun demikian hal yang patut diwaspadai adalah gerakan deislamisasi yang dilakukan oleh orientalis-orientalis yang memusuhi Islam.Secara tidak sadar dengan berdalih pada sisi humanisme, para orientalis secara tidak langsung telah meracuni jalan berfikir umat Islam.Secara terstruktur dengan teori-teori yang mereka keluarkan telah mempengaruhi jalan berfikir umat Islam.Oleh sebab itu umat Islam harus menyadari hal ini dan segera bergerak karena umat Islam telah masuk dalam perang pemikiran.***

***disampaikan dalam Diskusi Terbatas Studi Wawasan Islam dengan tema “Dilema Islamisasi di Era Global” Jumat 29 Mei 2015

Notes :

[1] Jurnal Islamia, Volume VII, No. 2, 2012 hlm 4

2 Wiji Saksana, Mengislamkan Tanah Jawa (Jakarta: Mizan, 1996) cit. Ahmad A. Darban, Ulama Jawa Dalam Perspektif Sejarah, Jurnal UGM, Humaniora Volume 16, No. 1, Pebruari 2004: 27-34

3Ibid, hlm 27

4Ibid

5Ibid, hlm 28

6Enklave adalah suatu daerah yang memiliki budaya tersendiri ditengah-tengah budaya lain, sebagai contoh adalah daerah Pecinan. Biasanya daerah ini memiliki budaya dan tata aturan tersendiri.

7Op. Cit Ahmad A. Darban

8 Nasiwan dan Purwo Santoso, Pola Perubahan Hubungan Islam dan Negara: Suatu Studi tentang “Islam Politik” di Indonesia (1990-1999), Jurnal UGM, Sosiohumanika Volume 15, No. 1, Januari 2002

9Jurnal Islamia, Volume V, No. 2, 2009 hlm 79

10Op. Cit, Ahmad A. Darban hlm 31

11Perdikan adalah daerah atau wilayah yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak atau upeti kepada pemerintah pada zaman pemerintahan Kolonial Belanda.Perdikan juga diartikan sebagai daerah tujuan para alumnus pondok pesantren untuk mengabdikan keilmuan mereka.

12Edward W Said. Orientalisme.terj. (Bandung: Pustaka Bandung, 2001) hlm 1-2 cit Arif Wibowo.Islamisasi dan DeIslamisasi KebudayaanJawa. Jurnal Islamia, Volume VII, No. 2, 2012, hlm 36

13Ibid

14Op. Cit, Jurnal Islamia, Volume V, No. 2, 2009 hlm 77

15Nativisasi adalah proses menyembunyikan atau menkerdilkan pengaruh budaya atau paham

Referensi:

Darban, Ahmad A. 2004. Ulama Jawa Dalam Perspentif Sejarah. Jurnal UGM, Humaniora Volume 16, No. 1, Pebruari 2004, hlm 27-34

Nasiwan dan Purwo Santoso. 2002.Pola Perubahan Hubungan Islam dan Negara: Suatu Studi tentang “Islam Politik” di Indonesia (1990-1999). Jurnal UGM, Sosiohumanika Volume 15, No. 1, Januari 2002, hlm 93-114

Wibowo, Arif. 2012.Islamisasi dan DeIslamisasi Kebudayaan Jawa. Jurnal Islamia, Volume VII, No. 2, 2012, hlm 27-40

Jurnal-jurnal:

Jurnal Islamia, Volume V, No. 2, tahun 2009

Jurnal Islamia, Volume VII, No. 2, tahun 2012

.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: