KH Ahmad Dahlan dan Refleksi Asa Pergerakan Umat Islam

KH Ahmad Dahlan dan Refleksi Asa Pergerakan Umat Islam
Ahda Abid al-Ghiffari*

 

Sejarah pergerakan Umat Islam di Indonesia mengenal nama Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah. Pergerakan di sini harus dipahami dengan makna yang sebenar-benarnya. Bukan hanya model-model pergerakan menye-menye atau ideologis dan banal seperti yang ditampakkan oleh saat ini. Romo Arif Wibowo von Boyolali bahkan pernah menyinggung aksi sok hiyak-hiyako para aktifis pergerakan yang seakan-akan sudah bersiap menumpas apa saja yang berbeda dengan dirinya; termasuk soal neo-komunis yang dikira akan bangkit September lalu.

Bagi Adian Husaini, apalagi, melalui sebuah penuturannya—yang pernah penulis dengar langsung—mengatakan bahwa saat ini Muhammadiyah rupanya merupakan sebuah ormas Islam yang tanpa diduga mampu mengembangkan semangat yang luar biasa, sementara keberpihakannya masih terlihat jelas kepada Umat Islam. Padahal kita tahu, sewaktu memilih Hoofdbestuur baru kemarin, siapa yang sempat khawatir Muhammadiyah dipimpin oleh Haedar Nasir yang dengan ketakutan, orang-orang phobia liyan itu menggigil, “Aduh, Haedar Nasir ini liberal”. Sementara itu, kita cocokkan lagi kini, moderatisme itu nampaknya tidak pernah kehilangan ruh ke-Islaman, dan juga bisa dikatakan semangat jihad yang tiada henti.

Lain Adian Husaini, lain pula Bambang Purwanto. Sejarawan dari Kampus Biru ini pernah penulis ikuti kajiannya sewaktu membahas tentang Kampung Kauman Jogja, beberapa tahun yang lalu. Melalui refleksinya yang baik dan penggugatan terhadap nama Muhammadiyah yang terlalu ideologis, ia berkata bahwa selama ini kita sering luput menyadari realitas kesadaran budaya dari Muhammadiyah, sehingga kiranya kita memahami Muhammadiyah berdasarkan realitas konflik yang terjadi antara Muhammadiyah yang modern-reformis dan NU yang tradisionalis-konservatif. Kita jarang mengetahui bahwa rupanya Ahmad Dahlan itu juragan batik dari Kauman. Kehilangan sisi ini saja membuat kita harus kembali menelaah bidang-bidang budaya Muhammadiyah yang rupanya tak selalu identik dengan gusuran yang dibawa modernisme dan reformisme Islamnya.

Di tengah-tengah gegap gempita Islamisme yang begitu bertumpahan serta adrenalin umat yang terus terpacu untuk melawan pemerintah dalam kerangka kemelut 2014 antara Prabowo dan Jokowi, rupanya sosok-sosok Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah menjadi oase penting untuk memahami kembali siapa diri kita.

 

Sosok dan Realitas Masa Lalu yang Terselip

Bagi Romo Arif Wibowo von Boyolali rupanya Ahmad Dahlan merupakan salah satu sosok Referensi Peradaban ideal yang pernah dimiliki Umat Islam. Akan tetapi sebagai Referensi Peradaban, mengapa ia seakan menghilang dan hanya warga Muhammadiyah yang merasa memiliki sosoknya; itupun hemat saya tidak kafah. Rupanya biografi Ahmad Dahlan sendiri tidak banyak ditulis secara otoritatif oleh para pengagumnya. Kemungkinan hanya segelintir, dan oleh karenanya kita mempertanyakan, bagaimanakah warga Muhammadiyah mengurus masa lalunya? Kritik Romo sejatinya relevan; ia menggugat kampus-kampus berlabel Muhammadiyah rupanya luput dari pengkajian masa lalu. Berapa banyak perguruan tinggi berlabel Muhammadiyah memiliki jurusan sejarah?

Ketiadaan ini justru masalah masalah genting. Saya ingin menuliskan banyak kritik mengenai vacumnya pengkajian masa lalu di kalangan Muhammadiyah, namun sepertinya hanya satu yang bisa disampaikan: bahwa kevakuman itu meniadakan orientasi awal yang pernah dibangun oleh sang simbah, Mbah Dahlan; dan sosoknya bukan saja ditafsirkan begitu liberal, tapi juga penuh warna ekstrimis. Di tengah ketiadaan itu rupanya saya sedikit nggondhuk setelah beberapa hari yang lalu saya menemukan sebuah buku biografi Ahmad Dahlan yang ditulis oleh seorang sejarawan senior Solichin Salam, K.H. Ahmad Dahlan: Reformer Islam Indonesia. Biografi ini ditulis pada tahun 1963, sekitar 51 tahun setelah Muhammadiyah berdiri. Di dalam karyanya tersebut ada harapan yang digantungkan Solichin Salam mengenai generasi selanjutnya yang sepatutnya mengulas secara lengkap jejak hidup Ahmad Dahlan:

“Risalah ini belumlah dapat dikatakan suatu biografi jang lengkap, melainkan baru merupakan beberapa fragmen dari sejadrah hidup dan perdjuangannya jang masih serba ringkas. Untuk menjusun suatu biografi beliau jang lengkap, sangatlah sulit, berhubung bahan2 sekitar diri beliau baik jang tertulis maupun tidak sukar didapat. [sic!]

Solichin Salam sendiri menyadari kekurangan karyanya itu. Akan tetapi bagi para pengagum literasi dan melihat kevakuman yang terjadi hari ini, patutlah kita ‘membela’ Solichin Salam bahwa karyanya ini telah mengisi kekosongan sosok yang seharusnya berguna untuk menunjukkan generasi perjuangan pada Referensi Peradabannya. ‘Kerendah-dirian’ Pak Solichin Salam itu pula mengantarkan pengakuannya bahwa menulis biografi dan alam pikiran Ahmad Dahlan rupanya tidak semudah menulis biografi para begawan lainnya, tersebab begitu jarangnya buah pikiran Ahmad Dahlan yang nampak sebagai karya atau sebagai bahan penulisan kediriannya.

Roeslan Abdulgani yang menulis “Kata Pengantar” dalam karya Solichin Salam tersebut punya jawaban tersendiri:

“Memang benar apa jang dinjatakan oleh sdr. Solichin Salam dalam risalah ini, bahwa AHMAD DAHLAN adalah lebih banjak bersifat manusia-amal daripada manusia-intellek dalam hal ini lazim diartikan sebagai manusia jang banjak mengeluarkan pandangan dan pendapatnja setjara rationil-theoretis, baik dengan lisan maupun dengan tulisan. Dan djikalau kita mendasarkan pendapat itu pada ada atau tidak adanja karya2 tulisan yang ditinggalkan oleh seorang tokoh-perintis, maka memang ada benarnja lukisan tadi jang mengenai almarhum K.H. AHMAD DAHLAN. Tetapi bila kita menggunakan ukuran tentang amalnja ditengah-tengah masjarakat, sebagai akibat hasil-dorongan daripada pemikiran2 lebih dulu, maka sekalipun tidak banjak buah-fikiran K.H. AHMAD DAHLAN itu ditinggalkan dalam bentuk tulisan2, sebagai warisan rohanijah kepada generasi sekarang, maka melihat nilai perkembangan Muhammadijah di-tengah2 masjarakat, kita tidak dapat menarik kesimpulan lain daripada harus mengakui bahwa amalnja tentu didahului oleh dasar2 pemikiran jang rationil dan mendalam tentang berbagai masalah teori dan praktek di-tengah2 persoalan perkembangan masjarakat. [sic!]”

Ungkapan semacam pernah pula disampaikan Profesor Sejarah dari Universitas Negeri Yogyakarta, Hussain Haikal. Dalam membandingkan sosok Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara , Prof. Haikal melontarkan pertanyaan: “Mengapa bukan Ahmad Dahlan yang menjadi bapak pendidikan nasional?” Sejatinya ini adalah ungkapan yang terus membayangi Umat Islam dalam menulis masa lalunya, yang oleh karenanya terkadang mendapat pemosisian Taufik Abdullah sebagai ‘Sejarah yang ditulis sebagai hasrat’. Kita terkadang malu-malu cemburu terhadap posisi marjinal Umat Islam dalam historiografi Indonesia, yang oleh Salimuddin Ali Rahman sempat disebut sebagai de-Islamisasi sejarah Indonesia. Akan tetapi bagi Prof. Haikal rupanya The Man in Action (manusia amal) yang berjuang terlebih dahulu sepuluh tahun dalam mengusahakan pendidikan modern bagi bumiputera daripada Taman Siswa itu menyediakan ruang keikhlasan dalam gerak perjuangan zaman. Kehampir-nihilan akan pamrih itulah yang rupanya menggerakkan sisi moral sejarawan sepuh ini untuk menilai Ahmad Dahlan.

 

Ranah Sosial dan Referensi Peradaban Umat

Ahmad Dahlan adalah sebuah keunikan dalam sejarah modernis-reformisme. Arus yang menggantungkan asa pada pembaruan memang merupakan dinamika dan kemelut bagi Umat Islam di seluruh belahan bumi. Namun patutlah rincian-rincian kesejarahan yang unik itu menemukan tempatnya sendiri. Atas dasar kebangkitan kebangkitan pembaruan dan pemurnian itu, oleh karenanya Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah sering dipandang begitu ideologis, selalu berhadap-hadapan dengan kejumudan Umat Islam tradisionalis yang membawa semangat klasikisme Islam. Kata Ricklefs, menguatnya tekanan Muhammadiyah pada bidang-bidang konflik furu’iyyah umat baru terasa pada tahun 1930-an, ketika banyak kalangan yang betul-betul membawa semangat pemurnian memasuki Muhammadiyah.

Muhammadiyah tentu saja bukanlah setipe reformis Persis pada masa awal setelah ‘kemasukkan’ Ahmad Hassan—yang kata Mohammad Iskandar, ‘kekerasannya’ semakin terasa. Saat ini hendaklah pembicaraan ideologis semacam itu patut dihindari, untuk menemukan wajah Muhammadiyah yang lebih baru. Keyakinan ini ditangkap oleh generasi neo-modernis dalam tubuh Muhammadiyah yang selalu ingin menampilkan Muhammadiyah sebagai organisasi yang saleh secara sosial. Tangkapan inilah sejatinya membentuk wajah Muhammadiyah sedari awal. Penemuan kembali modernisme Islam di Hindia Belanda menjadikan sosok Ahmad Dahlan merupakan jalan lain dalam bentuk-bentuk ‘membela Islam’ di segala masa. Namun patut pula diingat ketika Sang Haji Merah pernah memisuhi ‘kapitalis-kapitalis’ Muhammadiyah di Solo yang hanya mau amar ma’roef tapi tak mau nahiy moengkar. Setidaknya ada timbangan dan ukuran tingkat progresifisme moderat dan radikal pada zaman itu.

Lanskap sosial Ahmad Dahlan adalah sebuah kehadiran dari semangat yang menyimbolkan arus baru pembelaan terhadap Islam dan Kaum Muslimin. Bagaimana jadinya ide ‘rationil-theoretis’ itu rupanya bisa ditafsirkan dalam langkah-langkah Ahmad Dahlan. Untuk itulah mengapa lagi-lagi pertanyaan Prof. Haikal mengenai ‘mengapa Ahmad Dahlan’ bukan bapak pendidikan nasional’ begitu penting. Tersebab asa untuk mengemukakan Islam di zaman yang pernah dipuji Minke sebagai ‘semuanya serba maju dan modern’ adalah sebuah terobosan penting. Sesekali Umat Islam perlu berterima-kasih pada Hanung Bramantyo sang sutradara yang berkali-kali dituduh liberal itu atas karyanya Sang Pencerah yang telah memberikan gambaran bagaimana Ahmad Dahlan berusaha memaknai modernisme; dan bukankah ini sama ketika para ulama dan wali memaknai tradisi dan budaya yang berkembang di Nusantara?

Asas pemaknaan itulah yang sering kita sebut sebagai Islamisasi. Penemuan, lagi-lagi, modernisme Islam adalah suatu usaha pengenalan Umat terhadap dunia yang sama sekali baru, dunia yang dikonstruk secara fisik oleh para Nederlander Hindia Belanda dan arsitek utamanya, Tuan Snouck! Karena itulah dengan begitu genit saya ingin menggelari Ahmad Dahlan sebagai seorang jenius. Ketidakraguan dengan modernisme itulah yang membuat Ahmad Dahlan, dan saya yakin rekan-rekan pergerakan Islam sezamannya yang lain, tidak kaku dalam menempatkan diri berhadapan dengan para kejawen atau berkontestasi dengan missie, zending, dan teosofis. Inilah mengapa Ahmad Dahlan menjadi salah satu sosok rujukan peradaban Umat Islam.

Sayangnya ketika terlambat menyadari saat Romo Arif von Boyolali menggerutu secara retoris dalam sebuah artikelnya di laman PSPI bahwa mau di ke manakan sosok-sosok masa lalu Umat Islam di Indonesia? Dan pada saat itu pula kita tengah menikmati garangnya api-api jihadisme yang diteriakkan oleh sosok-sosok legendaris tahun 60, 70, dan 80-an, saat dunia Islam bahkan berada dalam titik sekularisme paling panas. Sebelum akhirnya kita lupa memahami lanskap realitas masyarakat kita sendiri; soal bagaimanakah ide-ide import yang oleh karenanya membuahkan persepsi pelabelan ‘trans-nasional’ itu diterjemahkan ke dalam sejarah dan budaya masyarakat kita yang tak mungkin bisa diingkari.

Di tengah-tengah suntikkan semangat berapi-api untuk melawan ‘kezaliman’ ini, di tepian-tepian ragam diskusi yang lebih tenang, saya ingat nasehat seorang guru saya yang menamatkan doktoralnya dalam bidang pemikiran Islam: bahwa kondisi hari ini memang diakui tidak berbeda dengan zaman Belanda dulu, ketika organisasi mulai diawasi, aktifisme mulai diperketat geraknya, dan kecurigaan tercecer di mana-mana, namun di situlah perlunya memahami apa yang telah dilakukan oleh kakek-nenek kita, pengalaman-pengalaman mereka ketika berhadapan dengan tekanan itu. Tanpa ampun akhirnya, dan saya paksakan meringkas semua penjelasan yang ada di seluruh karya tulis mengenai Ahmad Dahlan, ia dan orang-orang sezamannya adalah tempat kita mengerti di mana posisi dan apa yang perlu dilakukan Umat Islam di masa sekarang. Wallahu’alam.[Red : Tori Nuariza]

 

Depok, Jum’at Berkah, 17.24, 27 Oktober 2017

 

*Ahda Abid al-Ghiffari, Penulis sempat menempuh studi sebagai mahasantri di Ma’had ‘Aly Imam Al-Ghazali Surakarta dan kini menjadi seorang guru dan pengasuh di pondok pesantren At-Taqwa Depok.

 

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: