Islam dan Keruntuhan Majapahit

Islam dan Keruntuhan Majapahit

Ahda Abid al-Ghiffari*

“Di dalam riwayat-riwayat lama yang telah umum, akhirnya Demak mengambil tindakan juga. Majapahit diserang dan dikalahkan. … Tetapi riwayat yang lain dengan hasil penyelidikan menyebutkan bahwasanya memang Demak telah menyerang Majapahit dan mengalahkannya dan merampas segala lambang kebesaran Kerajaan. Tetapi sekali-kali bukanlah Raden Fattah menyerang ayahnya, melainkan menyerang Kerajaan Hindu yang lain yang telah lama menguasai Majapahit. Di tahun 1478 Majapahit telah dikalahkan oleh kerajaan Hindu itu, Giri Indera Wardhana nama rajanya. Kalingga nama negerinya, terletak di Jawa Timur juga.”– HAMKA

 

Akhir kekuasaan Majapahit menjadi satu titik kritis relasi Islam dan Hindu dalam fragmen sejarah Indonesia. Pasalnya, narasi yang berkembang seringkali menempatkan Islam sebagai pihak yang bersalah dalam serta-merta menghancurkan kerajaan Hindu-Budha paling megah yang ada di Nusantara. Tentu saja latar-belakang semua ini berawal dari historiografi glorifikasi yang menempatkan Majapahit sebagai salah satu kemegahan Indianisasi yang ada dalam sejarah dan kebudayaan Indonesia. Wacana ini tentu saja telah dibangun sejak zaman kolonial.

Dalam narasi sejarah yang berkembang, biasanya terdapat dua versi yang membicarakan masa kritis dalam sejarah Majapahit akhir. Pertama, masalah wangsa baru yang memerintah Majapahit pada masa akhirnya. Kedua, serangan Islam atas Kerajaan Majapahit. Yang pertama merujuk pada perdebatan apakah Girindrawardhana, raja terakhir Majapahit masih termasuk ke dalam wangsa yang dibangun oleh Ken Arok ataukah wangsa baru yang berhasil memberontak dan menggantikan wangsa yang telah melahirkan Hayam Wuruk.

Yang kedua, permasalahan ini lebih kritis dan ‘ideologis’, di mana Islam adalah kekuatan penggusur yang telah menghancurkan kemegahan kerajaan Hindu. Lebih jauh, oleh karenanya Hamka sampai-sampai melakukan klarifikasi historis. Dalam beberapa tulisan dan artikelnya ia menegaskan bahwa Islam, yang kemudian diwakili oleh kekuatan Demak, memang melakukan penyerangan dan menaklukkan Majapahit, tetapi itu bukanlah pada tahun 1478. Oleh karenanya, Hamka menegaskan bahwa tidak ada sangkut pautnya Raden Fattah dengan pengkhianatan terhadap ayahnya yang merupakan raja Majapahit, yang disinyalir menjadi raja Raden Fattah.

Versi yang pertama sebetulnya menjadi satu penyangkal penting untuk menjelaskan ketidak-terlibatan kekuatan Islam pada tahun 1478, di mana beberapa sarjana telah menuduh kekuatan Islamlah yang menjadi sebab kehancuran Majapahit. Meskipun terjadi perdebatan apakah penyerangan itu oleh wangsa lain ataukah wangsa sama yang senasab dengan raja-raja terawal Majapahit. Di atas semua itu, Kerajaan Hindu Majapahit masih mampu bertahan sampai tahun 1519 M. Tahun yang yang disebut terakhir ini, barulah dapat dikatakan andil Islam atas hancurnya Kerajaan Majapahit.

 

Raffles dan Masalah Islam

Beberapa berita tradisi yang menyebutkan tahun Saka 1400 (1478) menimpakan klaim serangan Demak atas kehancuran Majapahit. Hassan Djafar dalam sebuah karyanya justru menyangkal bahwa Kerajaan Majapahit ternyata masih ada setelah tahun 1478. Bahkan, kerajaan Hindu ini masih berdiri untuk beberapa waktu yang lama lagi. Di antara sarjana yang meyakini klaim keruntuhan Majapahit pada tahun Saka 1478 adalah Thomas Stamford Raffles. Menurut Djafar, sarjana seperti Raffles menggunakan berita tradisi dari sebuah kitab sejarah tradisional Jawa, Serat Kanda (Hasan Djafar, Masa Akhir Majapahit: Girindrawarddhana & Masalahnya, Depok: Komunitas Bambu, 2012, hlm. 126).

Pendukung teori serangan Demak yang terjadi pada tahun 1478 ini meyakini tensi ketegangan antara ‘agama Islam yang asing’ di pesisir dengan kekuatan Hindu yang masih langgeng di pedalaman. Dalam ‘History of Java’ Raffles menjelaskan mengenai keruntuhan Majapahit. Ia selalu menegaskan tahun saka 1400 sebagai batas antara keruntuhan Hinduisme dan kedatangan Islam. Di antaranya ia menulis: “Islam muncul pada tahun 1400 (1475 M) [sic!], sedangkan semua hasil maha karya tersebut mempunyai karakter dan kepercayaan terhadap berhala yang muncul pada periode sebelumnya.”

Dalam narasinya, Raffles menunjukkan betapa radikalnya Islam dalam membenci segala sesuatu yang berhubungan dengan penyembahan berhala. Narasinya itu memberikan tafsiran lebih kuat mengenai Islam sebagai agama yang tidak membawa pengalaman-pengalaman toleransi dalam hubungannya dengan Majapahit. Ia menuliskan: “Angkatan bersenjata yang sangat setia, bangga dan teguh pada pendirian untuk meruntuhkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pemujaan berhala itu, bertemu dengan tentara gabungan dari Majapahit …” (Thomas Stamford Raffles, a.b. Eka Prasetyaningrum et.al, The History of Java, Yogyakarta: Narasi, 2008, hlm. 426 dan 471).

Sementara itu, beberapa orientalis lain mengambil dan menjelaskan narasi berbeda yang bahkan bertolak jauh dengan narasi Raffles yang menempatkan Islam sebagai biang keruntuhan Majapahit. Hassan Djafar menyebut beberapa narasi berbeda tersebut. PJ Veth misalnya. Ia berpendapat bahwa Kerajaan Majapahit baru runtuh sesudah tahun Saka 1410 atau tahun 1488 Masehi. Kemudian GP Rouffaer yang bahkan lebih jauh menyimpulkan bahwa Majapahit runtuh [antara] tahun 1516 dan 1521 M.

NJ Krom menyetujui narasi keruntuhan Majapahit pada tahun Saka 1400. Menariknya, keruntuhan tersebut bukan dikarenakan oleh Islam. Krom tidak menyetujui keterangan yang menyatakan bahwa keruntuhan Majapahit ini disebabkan oleh serangan koalisi daerah-daerah Islam di pesisir yang dipimpin oleh Demak. Krom justru berpendapat bahwa serangan yang terjadi pada tahun Saka 1400 dilancarkan oleh kerajaan Hindu lain, dalam hal ini Kediri, yaitu dinasti Girindrawardhana. (Hassan Djafar, Masa Akhir Majapahit …, hlm. 127). Kerajaan ini berhasil menguasai Majapahit. Dinasti lama Majapahit runtuh, namun Majapahit tetap melanjutkan asanya sebagai kerajaan Hindu dengan dinasti baru.

‘Bahaya Islam’ dan Keruntuhan Majapahit

Narasi Krom yang menarik ini dibenarkan oleh Hamka. Hamka melanjutkan narasi ini. Dalam penjelasannya di ‘Sejarah Umat Islam’, Hamka bahkan menengarai bahwa faktor keruntuhan Majapahit adalah perseteruan internal dinasti-dinasti Hindu. Ketika kerajaan yang besar ini masih meneruskan asanya sebagai kerajaan Hindu, ia masih bertahan sampai tahun 1498. Saat itu kembali terjadi kudeta. Seorang Patih dari Kediri, Prabu Udara membunuh Girindrawardhana dan kekuasaannya berhasil dirampas. Prabu Udara inilah yang memiliki sentimen atas daerah-daerah pesisir seperti Demak. Ketidak-adanya keterikatan darah atau keturunan pula yang menyebabkan sentimen tersebut bertambah-tambah.

Oleh Prabu Udara, sentimennya terhadap daerah pesisir tersebut ditindak-lanjuti dengan membuat aliansi dengan Portugis. Hamka menuliskan dengan sangat baik hubungan Patih Udara dan Portugis yang sejatinya menjadi latar belakang tersendiri bagi kehancuran Majapahit:

“Seketika Raden Fattah, dengan bantuan para-wali telah berkuasa di Demak, Prabu Udara yang telah mulai melihat bahaya Islam itu, dengan segera membuat hubungan dengan orang Portugis di Melak. Di tahun 1512 dia mengirim utusan ke Melaka, dan bertemu utusannya dengan Alfonso d’Albuquerque, lalu diserahkannya hadiah-hadiah Prabu Udara itu kepada pemimpin bangsa Portugis itu, di antaranya 20 genta (gamelan) kecil yang terbuat daripada logam, dan sepotong kain panjang bernama ‘beirami’ tenunan Kembayat. … Sampai kepada tahun 1515 dan 1516 … Prabu Udara itu masih memerintah. Maka di tahun 1517 mulailah Demak melakukan serangan besar-besaran, dan kalahlah Majapahit dan ‘pindahlah ‘Seri’ Majapahit Bintoro’.” (Hamka, Sejarah Umat Islam, Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd Singapura, 2005, hlm. 759)

Dalam catatan Hamka tersebut, perubahan politik Majapahit serta kemelut berkepanjangan di kalangan elite politik Majapahit membuat kerajaan Hindu ini semakin melemah. Naiknya Prabu Udara justru tidak mampu membawa perubahan politik yang lebih baik. Ia bahkan harus mengajak kerja-sama dengan Portugis yang saat itu telah berhasil menaklukkan Malaka dan menjadikannya sebagai kota Kristen: sekalipun dalam beberapa hal menurut beberapa penulis, kota Kristen tersebut tidak berdampak baik bagi kegiatan ‘missie’ yang gagal.

Pada akhirnya, setelah selesai dengan perubahan dinasti dan kembali lagi dengan adanya kudeta, Majapahit mengalami masa senja-kalanya. Telah terang Islam dan wilayah pesisir bukanlah menjadi penyebab utama dalam kemunduran dan, lebih jauh, kehancuran Majapahit. Kemunduran yang kemudian disimbolkan dengan ketidak-mampuan Patih Udara dalam menolong kerajaan Hindunya, tersebab harus pula meminta bantuan kepada Portugis, menunjukkan lebih dari sekedarnya pertentangan antara pesisir dan pedalaman. Aliansi Majapahit-Portugis sebagaimana ditunjukkan oleh Hamka tersebut harus dipahami sebagai pertarungan yang lebih luas atas ancaman invasi yang pertama kali dan mula-mula oleh bangsa Eropa.

 

Khatimah

Kehancuran Majapahit memang tidak terelakkan lagi. Untuk memahami kehancurannya, sejatinya narasi satu babak tidak akan cukup. Apalagi kemudian menjadikan garis batas kedatangan Islam dan perluasannya sebagai satu faktor narasi tunggal. Hancurnya Hinduisme di Jawa dan oleh karenanya digantikan oleh pertumbuhan peradaban Islam haruslah dipahami dari visi dan misi Islamisasi secara historis itu sendiri. Dalam hal ini, pernyataan Denys Lombard mungkin relevan dalam konteks perluasan dan pertumbuhan peradaban Islam yang menggantikan Hinduisme:

“Hendaknya diingat dulu bahwa hampir tidak ada monumen yang dihancurkan atas prakarsa Islam. Harus ditambahi pula bahwa beberapa candi [dan lembaga bercorak Hindu] sudah menjadi puing sementara Hinduisme masih merupakan agama mayoritas. Tapi bagaimanapun juga datangnya Islam terjadi kira-kira bersamaan waktu dengan terputusnya secara radikal tradisi-tradisi arsitektural yang telah berakar di Jawa selama delapan abad. Beberapa sejarawan Eropa suka menggarisbawahi sifat “mematikan” dari agama baru itu, tapi lupa bahwa di Semenanjung Indocina, tempat Islam tidak berhasil berkembang, pembangunan candi-candi besar berhenti kira-kira pada saat seperti Jawa.” (Denys Lombard, a.b. Winarsih Arifin et.al., Nusa Jawa: Silang Budaya: Kajian Sejarah Terpadu: Bagian II: Jaringan Asia, Jakarta: Gramedia, Forum Jakarta-Paris, dan Ecole Francaise d’Extreme-Orient, 2008, hlm. 189-190).

Penekanan Lombard begitu jelas, bahwa kedatangan Islam sejatinya bertepatan dengan kehancuran internal Hinduisme beserta kerajaan-kerajaannya dan juga tradisi dekaden arsitekturalnya. Islam datang tatkala kemelut dan sifat destruksi dari Hinduisme dan watak zaman akhir pada politik kerajaan-kerajaan seperti Majapahit tengah tumbuh. Hassan Djafar akhirnya menambahkan dengan sangat tepat, bahwa: “Salahsatu [sic!] sebab keruntuhan Kerajaan Majapahit adalah pertentangan-pertentangan dalam memperebutkan kekuasaan atas takhta kerajaan yang telah berlangsung berlarut-larut antara keluarga raja-raja Majapahit … penaklukkan Majapahit oleh Demak harus dipandang sebagai akibat dari adanya perebutan kekuasaan antara keluarga-keluarga raja.” (Hasan Djafar, Masa Akhir Majapahit …, hlm. 133).

Akhir kekuasaan Majapahit pada akhirnya secara alamiah menujukkan simbol penghancuran diri. Kedatangan Islam, bahkan penyerangan Islam kepada dinasti dan kerajaan yang hampir runtuh ini jelas didasari dengan alasan-alasan kuat kedaulatan. Ini semua salah satunya tercermin dari sikap politik Demak untuk mengenali situasi ekspansi perdagangan, politik, dan missie agama Eropa yang berada di mulut kedaulatan Nusantara, khususnya Jawa.

Depok, 10 Januari 2018

*Ahda Abid al-Ghiffari, Penulis sempat menempuh studi sebagai mahasantri di Ma’had ‘Aly Imam Al-Ghazali Surakarta dan kini menjadi seorang guru dan pengasuh di pondok pesantren At-Taqwa Depok.

[Red : Tori Nuariza]

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: