Tjokroaminoto dan Tentara Kanjeng Nabi Muhammad (TKNM)

Tjokroaminoto dan Tentara Kanjeng Nabi Muhammad (TKNM)

Adhytiawan Suharto*

Dalam surat kabar Djawi Hisworo yang terbit pada 11 Januari 1918 No.5 yang dipimpin oleh R. Marthodarsono, termuat satu percakapan antara Martho dan Djojo dari karangan Djojodikoro. Dalam percakapan Martho berkata :

“Ah seperti pergoeroean (tempat beladjar ilmoe) saja boekan  goeroe, tjoemah bertjeritera atau memberi nasehat, kebetoelan sekarang ada wektoenja. Maka baiklah sekarang sadja adapun fatsal (selamatan) hoendjoek makanan ituoe tidak perloe pakai nasi woedoek dengan ajam tjengoek brendel sebab kangdjeng Nabi Rasoel itoe minoem Tjioe A.V.H dan minoem madal, kadang-kadang klelet djoega soeka”.1

 

Kalimat diatas merupakan penistaan terhadap Nabi Muhammad SAW, karena dalam artikel tersebut Nabi atau Rasulullah SAW suka minum ‘Ciu A.V.H’ ( minuman keras), minum madal (opium) dan makan klelet (candu).  Munculnya artikel ini menandakan adanya penghinaan terhadap pribadi Nabi Muhammad SAW, oleh karena itu seluruh Kaum Muslimin marah besar terhadap adanya tulisan dari Djojodikoro. Tulisan ini ditentang keras oleh berbagai pihak, termasuk yang pertama menanggapi adalah Kaum Muslimin dari Surabaya. Mereka adalah Redaktur surat kabar Oetoesan Hindia, CSI, Pengurus SI Surabaya, Al-Djami’ah Al-Khairiah, Al-Arabi’ah, Mura’atul, Ikhwanul Muslimin, Taman Manikam, Nadhatul Wathan, dan Taman Kemuliaan. Sikap penolakan itu dipimpin oleh Abi Koesno Tjokrosoejoso seorang Sekretaris SI Surabaya yang menuntut penulis artikel yaitu Djojodikoro dan Hoofdredacteur [Pemimpin Redaksi] Djawi Hisworo R. Marthodarsono untuk meminta maaf kepada Kaum Muslimin.2

Atas munculnya tuntutan untuk meminta maaf kepada Kaum Muslimin, pada tanggal 4 Februari 1918 Hoofdredacteur R. Marthodarsono membuat klarifikasi dalam artikel yang berjudul “Serangan Haibat”. Dalam tulisan tersebut R. Marthodarsono menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Nabi Rasul bukanlah Nabi Muhammad SAW. R. Marthodarsono juga menjelaskan bahwa percakapan dalam artikel ‘Martho dan Djojo’ adalah tentang seseorang yang ingin menuntut ilmu Jawa, dan syarat untuk belajar ilmu jawa tersebut adalah dengan  minum ciu A.V.H, minum madal, dan makan klelet. Dalam tulisannya R. Marthodarsono sangat menyayangkan kepada Kaum Muslimin, karena jika menyalahkan ajaran tersebut berarti tidak taat kepada Ilmu Jawa. R. Marthodarsono juga merasa bahwa perlawanan terhadap dirinya, merupakan dendam lama yang sudah terjadi sejak Kongres SI ke-2 di Yogyakarta tahun 1914. Ia menduga bahwa kasus ini hanya dijadikan ajang balas dendam ketika dirinya berbuat kesalahan karena telah mencantumkan tulisan Djojodikoro dalam surat kabar miliknya. R. Marthodarsono justru menyalahkan Tjokroaminoto dan para anah buahnya di SI Surabaya. Namun di akhir tulisannya R. Marthodarsono meminta maaf karena sudah membuat kegaduhan bagi Kaum Muslimin. Alasan yang diutarakan R. Marthodarsono tersebut tidak diterima oleh Kaum Muslimin.3 Maksud  dari perkataan ‘Nabi Rasoel’ pasti dan tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW, ditambah lagi hukum minum ‘ciu’ (minuman keras) adalah haram dalam Agama Islam. Klarifikasi dari R.Marthodarsono tidak dapat diterima, termasuk pehimpunan Muhammadiyah juga mengirim peringatan kepada R. Marthodarsono dan surat kabar Djawi Hisworo.

Bersamaan dengan munculnya klarifikasi dari R.Marthodarsono, pada tanggal 23 Februari 1918 Haji Ahmad Dahlan selaku Presiden Muhammadiyah menerima sebuah surat sebaran yang berjudul “Sifat Jang Adil”, surat itu berisi fitnah terhadap Haji Ahmad Dahlan. Isinya surat fitnah tersebut menjelaskan bahwa tulisan Djojodikoro dalam Djawi Hisworo yang menghina Nabi Muhammad SAW sudah mendapat persetujuan dari Haji Ahmad Dahlan. Surat yang diterima oleh Haji Ahmad Dahlan tersebut sudah disebarkan dalam surat kabar Darmo Kondo No. 23 yang terbit pada hari Sabtu tanggal 27 Februari 1918.  Dalam Darmo Kondo Haji Ahmad Dahlan memberikan klarifikasi bahwa dirinya sama sekali tidak membela tulisan Djojodikoro, dan justru sangat melawan tulisan tersebut. Secara langsung tulisan Djojodikoro bersama para pembelanya sudah memberikan suasana yang tidak menyenangkan bagi Kaum Muslimin.4

Tidak lama setelah menyebarnya fitnah kepada Muhammadiyah, Abi Koesno Tjokrosoejoso bersama Tjokroaminoto dan perhimpunan muslim se-Surabaya mendirikan Komite Tentara Kandjeng Nabi Mochammad (TKNM). Pada 8 – 9 Mei 1918 diadakan satu vergadering TKNM di gedung Perhimpunan Al-Djami’ah Al-Khairiah Al-Arabi’ah di Ketapang Surabaya, Vergadering dipimpin langsung oleh Tjokroaminoto. Tanggal 8 Mei 1918 pukul delapan malam (20.00 WIB) Tjokroaminoto menyambut para tamu hadirin yang sudah datang,  tamu tersebut kebanyakan adalah para alim ulama yang merasa gelisah dengan kasus penistaan Agama Islam yang terjadi sejak awal tahun 1917 sampai tahun 1918. Para alim ulama yang hadir adalah Sajid Mohammad Saleh Chawasi, Sosrosoedewo,  Syeikh Roebaja bin Thalib,  Sajid Alwi Bin Zein Aljoefri, Hasan Ali Soerati,  Tjoksosantoso,  Syeikh Alwin Bin Husein Syihab,   Haji Hasan Gipo,  Haji Noorhasan, Haji  Iskandar Syeikh,  Syeikh Oemar Makarim, Syeikh Mohammad Bin Salim Baradja,  Syeikh Hosein Bin Mohammad Bin Oesman, Haji Hisamzaijni, Haji Asnawi, Kyai Adnan dan Kyai Mas Mansur.

TKNM berdiri disebabkan banyaknya suara yang menghina dan membusukkan agama Islam, perbuatan tersebut dilakukan oleh Kaum Kristen. Tjokroaminoto menjelaskan awal mula munculnya TKNM berawal dari tulisan Abi Koesno Tjokroseojoso Sekretaris SI Surabaya dalam surat kabar Oetoesan Hindia No.22 yang terbit hari Kamis 31 Januari 1918 yang bermaksud mendakwa dan menuntut Djawi Hisworo. Tidak lama setelah tulisan dari Abi Koesno Tjokrosoejoso muncul, maka diadakan vergadering pada tanggal 7 Februari 1918 di gedung Al-Djami’ah Al-Khairi’ah Al-Arabi’ah di Surabaya. Vergadering tersebut dihadiri wakil-wakil perhimpunan Islam, dan kurang lebih 1.000 Kaum Muslimin baik dari kalangan ulama bangsa Arab dan bangsa Jawa. Vergadering diselenggarakan untuk menentukan mosi yang akan akan dikirim dengan telegram kepada Gubernur Jenderal, Sri Susuhunan, dan Resident Surakarta tentang penistaan agama yang dilakukan Djojodikoro dan R. Marthodarsono.

Hasil dari keputusan vergadering Kaum Muslimin di Surabaya yang diadakan pada 7 Februari 1918 tersebut adalah dibentuknya satu Komite bersama Kaum Muslimin yang dinamakan Komite TKNM. Komite ini sangat didukung oleh pimpinan CSI, SI Lokal di Jawa Timur dan Jawa Tengah, oleh karena itu hampir semua SI Lokal pada bulan Februari sampai April 1918 mengadakan vergadering terbuka untuk mendirikan Komite TKNM di Sub daerah masing-masing. Pada tanggal 21 Maret 1918 Komite TKNM di Surabaya mengirim kembali telegram kepada Gubernur Jenderal untuk memberi tahu sudah banyak SI Lokal yang mendirikan TKNM.5

Ilustrasi Tjokroaminoto dan Tentara Kandjeng Nabi Muhammad

Tjokroaminoto menjelaskan bahwa mosi yang dikirim pada 7 Februari 1918 kepada Gubernur Jenderal, bukanlah menuntut penjara kepada R. Marthodarsono maupun Djojodikoro. Namun meminta kepada Gubernur Jenderal untuk menimbang R. Marthodarsono dan Djojodikoro yang telah menghina Nabi Muhammad. Tjokroaminoto meminta pertimbangan dari Gubernur Jenderal akan kasus ini, agar dikemudian hari tidak terulang kejadian yang sama.

Tjokroaminoto juga menegaskan dalam vergadering, bahwa gerakan TKNM akan terus berjalan untuk menumpas segala bentuk tindakan dan ucapan yang menghina atau melecehkan agama Islam. Tjokroaminoto juga sudah mengatur bahwa TKNM akan terus mengawasi segala tindakan Kaum Kristen dan Kaum Abangan yang selalu menyimpan benih kebencian terhadap syariat agama Islam. Gerakan TKNM berjalan selama satu tahun dengan tidak meminta Rechtpersoon kepada Gubernur Jenderal.6

Pada hari Kamis 9 Mei 1918, vergadering Komite TKNM dilanjutkan oleh Pidato Tjokroaminoto yang menerangkan tentang tujuan dan program kerja TKNM. Pukul sembilan pagi vergadering dibuka dengan penjelasan Tjokroaminoto tentang program kerja TKNM yang harus bertujuan menjaga keselamatan agama Islam dan Kaum Muslimin. Maraknya kasus penistaan agama Islam di tahun 1917 sampai 1918 membuat Tjokroaminoto menuntut Gubernur Jenderal untuk membuat peraturan tentang kemerdekaan beragama.7 Menurut Tjokroaminoto Pemerintah Belanda masih pilih kasih terhadap masalah agama, dalam hal ini adalah agama Kristen itu sendiri. Agama Kristen lebih banyak menerima bantuan dari pemerintah, padahal pemeluk agama tersebut sangat sedikit di Hindia Belanda. Gubernur Jenderal bahkan sampai mengeluarkan dana sebesar f 1.000.000 setiap tahunnya, untuk menyebarkan agama Kristen di seluruh Hindia Belanda. Dana sebesar f 1.000.000 digunakan untuk mendirikan Gereja, sekolah Kristen dan gaji untuk para Pendeta, Akan tetapi Gubernur Jenderal tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk dakwah agama Islam, dimana agama Islam sudah dianut oleh jutaan Kaum Bumiputera di seluruh tanah Hindia. Bagi Tjokroaminoto peraturan ini sangat tidak adil, kalau pun Gubernur Jenderal tidak mau memberi dana  untuk agama Islam, maka Gubernur Jenderal juga tidak boleh memberi dana kepada agama Kristen. Bahkan dengan sangat keras Tjokroaminoto mengatakan dana sebesar f 1.000.000 yang diberikan kepada agama Kristen adalah pajak yang dibayar dari keringat Kaum Muslimin se-Hindia Belanda yang jika dihitung akan mencapai f 600.000. Maka hal tersebut merupakan suatu perbuatan yang sangat tidak adil menurut Tjokroaminoto.8

Pemerintah selama ini selalu menaruh curiga kepada Kaum Muslimin, dan kecurigaan itu selalu  di berbagai daerah ketika lahirnya perhimpunan Islam yang bersifat lokal. Perhimpunan Islam selalu dikhawatirkan para ambtenaar dan pemerintah, bahkan selalu diintai dan dicurigai keberadaanya. Para ambtenaar telah membantu pemerintah memberi dana kepada para Pendeta Kristen agar Agama Islam semakin lemah dan ditinggalkan. Hal ini sangat menyakitkan hati Kaum Muslimin, bahkan Gubernur Jenderal memberikan subsidi kepada sekolah yang didirikan oleh Pendeta Kristen dengan pajak yang dibayar dari keringat Kaum Muslimin. Tjokroaminoto menegaskan dalam vergadering, bahwa TKNM lahir bukan karena karangan Djojodikoro, akan tetapi TKNM lahir karena maraknya politik Kristenisasi di Hindia Belanda. Dalam hal ini Gubernur Jenderal telah menjunjung agama Kristen di atas agama Islam bahkan dilakukan dengan uang dan keringat dari Kaum Muslimin. Lagipula Tjokroaminoto tidak pernah menuntut R. Marthodarsono maupun Djojodikoro ke muka hakim, akan tetapi diserahkan saja sepenuhnya kepada Gubernur Jenderal.9

Alim ulama asal Jawa Timur, Haji Asnawi mengusulkan untuk memilih asas bagi Komite TKNM. Haji Asnawi mengusulkan asas TKNM adalah “ Laa ilaa hai illaallah Muhammadurrasulullah” artinya Tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Utusan Allah. Menurut Haji Asnawi Allah SWT itu mempunyai dua sifat yaitu Istighna dan Iftikar. Istighna artinya Tuhan tidak punya hajat keadaan makhluk dan Iftikar artinya Makhluk itu Hajat kepada Tuhan.  Haji Asnawi berharap Komite TKNM menaruh sepenuhnya Hajat hanya kepada Allah SWT semata dan tidak bersandar kepada manusia apalagi Kaum Pemodal.  Pada 9 Mei 1918 pukul dua belas siang vergadering ditutup oleh Tjokroaminoto sambil berseru “Kekallah Agama Islam , Moelialah Kaoem Moeslimim”.10

Pada malam harinya pukul sembilan malam vergadering kembali dibuka oleh Tjokroaminoto dengan pembahasan usulan dari seluruh ulama tentang rencana akan dibentuknya Raad Oelama. Tjokroaminoto meminta kepada pemerintah Belanda untuk melindungi para ulama dengan dibentuknya Raad Oelama. Pemerintah dan orang-orang yang di pucuk pemerintahan bukanlah orang yang beragama Islam, oleh karena itu untuk melindungi segala urusan Kaum Muslimin perlu dibentuk Raad Oelama. Sebelum adanya usulan tentang Raad Oelama Gubernur Jenderal sudah membentuk Raad Agama, akan tetapi Raad itu tidak memiliki fungsi yang benar, bahkan Raad tersebut bukan majelis hukum untuk menyelesaikan perkara agama. Para ulama di dalam Komite TKNM mendirikan Raad Oelama yang secara khusus mengatur urusan agama Islam, yang sama sekali tidak tercampur dengan urusan agama Kristen. Dalam Raad Agama banyak urusan agama Islam yang dicampur dengan agama Kristen, bahkan agama Islam hampir tidak memiliki pengaruh di dalam sidang Raad Agama.11

 Komite TKNM juga telah memberikan beberapa dakwaan kepada R. Marthodarsono dan Djojodikoro perihal penistaan agama Islam. Pada tanggal 13 Maret 1918 pukul sembilan pagi R. Marthodarsono diminta menghadap Assiten Resident Surakarta tentang dakwaan kepada dirinya setelah diadakannya gerakan Islam Surabaya (TKNM). Assiten Resident memberi tahu bahwa Gubernur Jenderal telah memikiran daya upaya untuk menimbang masalah ini dan hasilnya Gubernur Jenderal tidak memberi hukuman kepada R. Marthodarsono maupun Djojodikoro.12

Di kalangan pemerintah kasus penistaan agama bukanlah menjadi pikiran utama, bahkan di antara pembesar bangsa Belanda ada pihak yang tidak senang dengan berdirinya Komite TKNM. Mereka adalah Javaansche Nationalisme sebuah Komite yang bertujuan mengenalkan kebudayaan Jawa. Komite tersebut berdiri di Weltevreden, beranggotakan bangsa Belanda dan bangsa Jawa yang memiliki minat mempelajari lebih dalam tentang kebudayaan Jawa. Komite Javaansche Nationalisme meminta kepada surat kabar Darmo Kondo untuk memaklumkan tulisan Djojodikoro dalam Djawi Hisworo, karena tulisan tersebut telah berusaha mengenalkan arti ilmu-ilmu Jawa. Komite tersebut tidak setuju akan berdirinya TKNM, karena gerakan tersebut hanya untuk menyerang R.Marthodarsono dan Djojodikoro serta tidak menghormati ilmu Jawa. TKNM dinilai sebagai perhimpunan Islam radikal yang menganggu kebudayaan orang-orang Jawa dan menghalangi orang-orang Jawa untuk mempelajari ilmu Jawa. Komite Javaansche Nationalisme memperingatkan kepada seluruh bangsa Jawa agar jangan sampai bergabung dengan TKNM, karena Komite tersebut didirikan untuk membangkitkan kemarahan, kebencian dan menganggu perdamaian bangsa Jawa.13

Komite Javaansche Nationalisme dipimpin oleh seorang Jawa bernama R.M.S Soerjoekoesoemo, ia adalah orang yang paling keras mengkritisi TKNM.  Ia mengatakan bahwa Komite TKNM adalah “gerakan oentoek memboeat bertjerai-berai antara golongan manoesia dan menanam bidji kebetjian pada agama”.14  R.M.S Soerjokoesoemo sebagai pemimpin Javaansche Nationalisme juga menuduh TKNM bukan gerakannya ‘Wong Jowo’ atau bangsa Bumiputera, karena dalam Komite tersebut sudah banyak dicampuri oleh bangsa Arab yang telah menjadikan TKNM sebagai gerakan Islam yang kearab-araban. R.M.S Soerjoekoesoemo juga mengira bahwa TKNM adalah gerakan yang sudah dipermainkan oleh bangsa Arab dan dibalik itu ada peran besar dari Tjokroaminoto untuk menjatuhkan martabat Kaum Abangan. Tidak lama setelah R.M.S Soerjokoesoemo mengeluarkan pemikirannya tersebut, Ia ditantang untuk datang ke Surakarta dan berdebat dengan Haji Hisamzaijni Ketua TKNM Surakarta. Pendapat dan pemikiran R.M.S Soerjoekoesoemo tersebut ditolak oleh  Kaum Muslimin, karena dirinya tetap di lihat sebagai Kaum Abangan yang sama sekali tidak mengerti ajaran agama Islam.15

Sampai akhir tahun 1918 TKNM tetap menjadi gerakan yang sudah tersebar di berbagai daerah, namun demikian ada beberapa pihak dari Kaum Muslimin yang kurang sepakat dengan gerakan TKNM. Perbedaan pendapat tersebut bukan dalam hal tujuan TKNM, akan tetapi sampai pada akhir tahun 1918, TKNM tidak dapat melaksanakan satu program kerja apapun. TKNM dinilai sebagai gerakan yang sia-sia, terutama oleh Haji Misbach di Surakarta dan didukung oleh kawannya yakni Haji Fachroedin dari Yogyakarta.

 

*Adhytiawan Suharto merupakan peneliti Studi Wawasan Islam (SWI) bidang Sejarah dan Pergerakan [http//:swionline.net/]. Ia merupakan lulusan S1 jurusan Ilmu Sejarah Universitas Sebelas Maret Surakarta

 

[Red : Tori Nuariza]

 

Catatan Kaki :

  1. Dalam Kolom Bahasa Jawa halaman 5, lihat Djojodikoro, “Martho dan Djojo”, Djawi Hisworo, 11 Januari 1918.
  2. Abi Koesno Tjokrosoejoso, “ Si Djahat Menghina Nabi Kita (S.A.W)”, Darmo Kondo, 4 Februari 1918.
  3. R. Marthodarsono, “Serangan Haibat”, Djawi Hisworo, 4 Februari 1918. Artikel yang sama dapat dilihat dalam R. Marthodarsono, “Serangan Haibat”, Darmo Kondo, 13 Februari 1918.
  4. Haji Ahmad Dahlan, “Soerat Sebaran”, Darmo Kondo, 27 Februari 1918. Pernyataan keras dari Muhammadiyah terhadap pelaku penista agama dapat lihat dalam Haji Ahmad Dahlan, “Soerat Terboeka”, Islam Bergerak, 1 April 1918.
  5.  O.S Tjokroaminoto, “Vergadering Comite Tentara Kangdjeng Nabi Mohammad”, Darmo Kondo, 18 Mei 1918.
  6. O.S Tjokroaminoto, “Vergadering Comite Tentara Kangdjeng Nabi Mohammad” Samboengan D.K No.58” , Darmo Kondo, 22 Mei 1918.
  7. O.S Tjokroaminoto, “Vergadering Comite Tentara Kangdjeng Nabi Mohammad Samboengan D.K No.60” , Darmo Kondo, 29 Mei 1918.
  8.  O.S Tjokroaminoto, “Vergadering Comite Tentara Kangdjeng Nabi Mohammad Samboengan D.K No.61”, Darmo Kondo, 3 Juni 1918.
  9.  “Boeat Lantaran Sahadja”, Darmo Kondo, 13 Mei 1918.
  10. O.S Tjokroaminoto, “Vergadering Comite Tentara Kangdjeng Nabi Mohammad Samboengan D.K No.63” , Darmo Kondo, 5 Juni 1918.
  11. O.S Tjokroaminoto, “Vergadering Comite Tentara Kangdjeng Nabi Mohammad Samboengan D.K No.64” , Darmo Kondo, 8 Juni 1918.
  12. R. Marthodarsono, “Pergerakan T.K.N”, Darmo Kondo, 16 Maret 1918.
  13. Tentara Nabi Mohammad”, Darmo Kondo, 2 Maret 1918.
  14. K.S, “Comite Tentara Kangdjeng Nabi Mohammad Dengan Comite Javaansch Nationalisme”, Islam Bergerak,  1 April 1918. Artikel yang sama dapat lihat dalam “Comite Tentara Kangdjeng Nabi Mohammad Dengan Comite Javaansch Nationalisme”, Medan MoesliminII, Tahun 1918 halaman 79-80.
  15. Toekang Gembreng, “Ini Dan Itoe”, Djawi Hisworo, 15 Maret 1918. Artikel lain yang berkaitan tentang  Comite Javaansche Nationalismedapat lihat dalam Poerwoedihardjo, “Javaansche Nationalisme (Satoe Koemidi)”, Medan MoesliminII, Tahun 1918 halaman 80-82.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: