Catatan Mengenai Corak Dakwah Islam di Indonesia Pasca Reformasi

Tori Nuariza

[Penggiat Studi Wawasan Islam]

Pada tingkat global, saat ini agama yang mengalami pertumbuhan paling cepat adalah agama Islam. Pew Research Center, pada 2 April 2015 me-release  “The Future of World Religions : Population Growth Projections 2010-2050”. Hasil proyeksinya cukup mengejutkan dimana  dalam empat dekade ke depan  Islam diramalkan  menjadi agama yang mengalami pertumbuhan penganut paling cepat dari menjadi (1.6 miliar) menjadi (2.76 miliar). Kemudian Islam diramalkan pada 2050 akan mendekati presentase populasi Kristen di dunia, Islam sejumlah 29.7 % dari populasi dunia sementara Kristen sejumlah 31,4 %. Di tanah Eropa diramalkan pula bahwa Islam akan mencapai 10 % populasi seluruh warga Eropa. Sementara diproyeksikan pada 2050 bahwa Indonesia tidak lagi menjadi Negara muslim terbesar, karena di India, Islam akan berkembang pesat. Walaupun sebatas proyeksi matematis berdasar tren demografi, namun semangat optimisme pertumbuhan Islam secara global maupun lokal haruslah disambut dengan strategi dakwah yang tepat terutama di bumi Indonesia ini.

Dakwah adalah senjatanya para Nabi dan Rasul Allah dalam mengembangkan agama Islam kepada ummat manusia sejak zaman dahulu kala hingga akhir zaman (Firdaus, 1990 :1). Secara bahasa (lughat), Dakwah berarti teriakan (as-shaitu) dan seruan (an-nida). Menurut istilah ilmu, dakwah : mengarahkan pikiran dan akal manusia kepada satu pemikiran atau aqidah dan mendorong mereka untuk menganutnya (Al Alury, 1967 : 16). Maka jelas, bahwa dakwah tidak sekedar tabligh (menyampaikan) saja namun harus berusaha mengubah fikiran dan keyakinan seseorang yang keliru menjadi sesuai dengan apa yang disampaikan Rasulullah, sedangkan tabligh hanya sekedar menyampaikan saja, apakah orang berubah aqidah, ideologi, fikiran, itu terserah pribadi masing-masing (Firdaus, 1990 :1). Oleh karena itu, berhasilnya dakwah Islam tergantung dari apakah sasaran atau umat dakwah mengubah pendiriannya atau kebiasaannya sesuai dengan Al-Quran dan As -Sunnah atau tidak. Indikator keberhasilan dakwah tidak bisa dilihat dari ramainya pengunjung, banyaknya masjid, mushalla, madrasah, pesantren itu semua bukanlah ukuran. Akan tetapi haruslah dilihat kepada aqidah (ideologi) dan pengamalan mereka sehari-hari ; apakah sudah sesuai dengan kehendak Al-Quran dan As-Sunah atau belum, ataukah sudah menyimpang jauh dari kehendak dan tuntunan Al-Quran dan As-Sunah. Pada zaman Rasulullah masjid dapat dihitung dengan jari, tetapi masyarakat dan negaranya Islam, sebaliknya dengan kita di Indonesia ini (Firdaus, 1990:2). Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 penduduk Indonesia berjumlah 237.556.363 jiwa dan umat Islam sejumlah 87,21 %, dengan Masjid sejumlah 589.454, namun bumi Indonesia, yang didominasi Umat Islam ini masih penuh ketidakadilan, kedzaliman, keterbelakangan. kemiskinan, dan kebodohan.

Pasca refomasi, aspirasi Islam tampak menggeliat dengan semakin bertumbuhnya lembaga, organisasi dakwah Islam. Pengakuan keber-islaman semakin membaik dari sisi simbolik ; tumbuhnya yayasan Islam, bank syariah, koperasi jasa keuangan syariah, rumah sakit Islam, Baitul Maal Wat Tamwil [BMT], dan ekspresi keagamaan (seperti jilbab, maraknya paket wisata spiritual berupa ziarah wali, ziarah umroh dll), menjamurnya sekolah Islam terpadu, pondok tahfidz,  dan lainnya. Bahkan secara kultural, budaya islami menjadi komoditas tersendiri, ini diekspreksikan dalam berbagai produk budaya ; sinetron religi, fashion muslim, music religi, dll. Namun di sisi lain, Islam secara kontestasi politik mengalami stagnasi  dan semakin terpuruk, hal ini dilihat dari semakin menurunnya  jumlah dukungan terhadap partai Islam dalam Pemilu. Selain itu kapasitas intelektual umat Islam masih rendah, saat ini umat Islam berpikir dan bertindak tanpa berlandaskan pengetahuan  (Saefudin, 2010 :24), Mereka mencari kepuasan material dan moral melalui cara-cara di luar Iptek. Secara umum, semangat kecendekiawanan menurun, generasi intelektual Islam awal kemerdekaan (Moh. Natsir, Mr.Roem, Syafrudin Prawiranegara), lalu pasca kemerdekaan (Deliar Noer, Nurcholis, Amien Rais, Kuntowijoyo, AM. Saefudin, Syahirul Alim, Imaduddin Abdulrahim) belum tergantikan. Pembacaan dan penafsiran Al-Quran dan As-Sunnah belum mendalam sehingga agenda substansial seperti pengentasan kedzaliman, penegakan keadilan, pembelaan kaum mustadhafien (tertindas) dan pemerataan kesejahteraan, belum terlaksana. Sementara pengkajian Islam yang sifatnya “entertain” lebih digemari.

Pergeseran Posisi Pengamalan Islam

Prof. Dr. Nasarudin Umar, mantan Wakil Menteri  Agama era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekaligus Khatib Aam PBNU memaparkan bahwa,

  • Secara teologis umat Islam Indonesia yang dalam sejarahnya banyak menggunakan pendekatan jabariah atau percaya dengan takdir kini dihadapkan pada pandangan muktazilah yang sangat rasional
  • Pengamalan Agama yang dulunya sangat berorientasi fikih juga mengalami perubahan. Kini banyak orang yang lebih mengikuti pendekatan spiritualisme atau yang penting ber-Tuhan, tak perlu agama atau agama apa saja sama serta ajaran semacamnya
  • Agama kini juga bukan lagi pengatur segalanya. Jika zaman dahulu semua hal diatur oleh ajaran Agama atau religiousness. Kini pendekatannya berubah menjadi religious mindedness. Orang memiliki kebebasan dan peran Agama menjadi sangat berkurang
  • Jika pada zaman dahulu orang sangat berorientasi pada teks Al-Quran, kini masyarakat mulai berfikir ke arah konteks. pendekatan hermenutika berkembang untuk memaknai kitab suci, hermenutika perlu ditolak, karena jika salah dalam menafsirkannya bisa berbahaya
  • Jika ajaran Islam dimaknai sembarangan maka akan kehilangan warna asli Islam, rasionalisasi yang berlebihan juga akan menurunkan agama sekedar menjadi ajaran filsafat.
  • Dalam konteks organisasi kemasyarakatan, ambil contoh Nahdatul Ulama (NU), Kepemimpinan berubah dari sebelumnya lebih berorientasi pada elit pesantren (ulama), menjadi kecenderungan berorientasi pada elit kampus (intelektual). Begitu pula kasus Muhammadiyah yang dalam 5 rentang periode kepemimpinan pasca 90an dipimpin oleh elit kampus berlatar pendidikan Barat. Lingkungan NU pada masa lalu bersandar pada kepemimpinan kharismatik, namun sekarang terjadi perubahan kebutuhan dengan dibutuhkannya para manajer professional.

Dakwah Harokah vis a vis Dakwah Kultural – Sosial-Kemasyarakatan

Masa reformasi menjadi titik balik penguatan dan peningkatan gerakan Islam baik struktural maupun kultural. Tipikal pertama ditandai dengan maraknya pendirian partai-partai Islam, meskipun hanya (PKB, PKS, PAN, PPP, dan PBB) yang survive hingga kini, namun belum mampu memainkan peranan signifikan. Tipikal kedua ditandai dengan menjamurnya sejumlah gerakan Islam, yang dikategorikan radikal, seperti Front Pembela Islam (FPI), Laskar Jihad, Majelis Mujahidin, dan Hizbut Tahrir Indonesia. Selain itu dari sisi tipikal gerakan yang sifatnya trans-nasional bertipe harokah, juga semakin marak, seperti  Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin), HTI, Salafi, Jihadi, Syiah dan Jamaah Tabligh. Gerakan ini memiliki komitmen yang kuat dan daya jelajah tinggi di masyarakat.

Sebagai perbandingan, dalam kamus Al Munawwir, kata ‘harakah’ berasal dari dasar kata ‘haraka’ yang berarti memotong, bergerak, membangkitkan, atau ‘harraka’ yang berarti menggerakkan, menggoyangkan, mendorong, merangsang, dan mengobarkan. Sedangkan dalam kamus Oxford Learners Pocket Dictionary, kata ‘haraka’ dapat disejajarkan dengan kata ‘move’(merubah tempat atau posisi), atau make progress (membuat perubahan), sehingga dari perbandingan tersebut kata ‘harakah’ dapat diartikan sebagai perubahan yang sifatnya menyeluruh. Mengambil contoh Ikhawanul Muslimin ciri khas gerakan harokah yang bersifat trans-nasional ini adalah dibangun dengan sistem kerja yang kuat, disiplin organisasi yang ketat, serta didukung oleh keteguhan dan kegigihan jamaah dalam memperjuangkan cita-citanya.

Dalam perjalanannya gerakan dakwah harokah yang telah mewarnai dinamika gerakan dan organisasi Islam baik dari segi wacana narasi keislaman, produk budaya, dan eksistensi pengakuan keberislaman yang semakin kuat di Indonesia. Namun ada beberapa sisi kritik terhadap fenomena harokah ini, Arif Wibowo, peneliti Pusat Studi Peradaban Islam [PSPI] Solo memaparkan bahwa fenomena harokah telah melahirkan “Ideo-crazy”, yakni organisasi telah menjadi Tuhan baru bagi jamaahnya, sehingga menghasilkan pemikiran rumit dan involutif; 1) harokah menjadi mahzab  pemikiran dan fikih tersendiri, ini menyebabkan kejatuhan intelektual umat karena jamaah harokah mengkaji fiqh dan keilmuan hanya dari ustad-ustadnya saja sehingga merusak sakralitas ulama dan ilmu, 2) perasaan in-group dalam ber-harokah, 3) lahirnya organisasi-sentris, fanatisme dan kesombongan sosial, 4) menimbulkan stagnasi intelektual dan narasi, 5) watak dakwah pun hilang menjadi watak agresif.

Sementara corak dakwah kultural-sosial kemasyarakatan masih dipertahankan organisasi yang lebih tua dan telah survive dalam perjalanan dinamika Indonesia ini, ; Muhammadiyah (1912), Persis, Al Irsyad, Hidayatullah, Majelis Tafsir Quran (MTA) yang modernis Nahdatul Ulama (1926), Al Washiliyah (1930), Nahdatul Wathon di Nusa Tenggara Barat (NW), Mathla’ul Anwar, Ittihadul Muballighin, dll. Dakwah dengan corak kultural-sosial kemasyarakatan ini pada pelayanan terhadap jamaahnya berupa membangun pendidikan Islam modern maupun Pesantren, menjaga moralitas dan akhlak, melakukan pelayanan sosial-kesehatan, memberdayakan ekonomi jamaah, dsb. Terlepas dari kelemahan masing-masing, Organisasi-organisasi Islam tersebut kehadirannya cukup penting dalam pembinaan kualitas keberagamaan umat Islam. Namun dengan hadirnya dakwah bercorak harokah yang berkomitmen dan daya jelajah tinggi, salah satu fenomena yang terjadi adalah kompetisi perebutan antar jamaahnya sehingga “tensi” antar ormas Islam yang bersifat nasional maupun kedaerahan ini dengan gerakan Islam yang bersifat trans-nasional menjadi tinggi, dan melahirkan fanatisme golongan atau organisasi. Benar adanya, perkataan Prof. AM. Saefudin “Umat Islam sudah bekerja tapi belum bekerjasama”, masing masing bagian tubuh umat Islam sudah bekerja di berbagai bidang, namun sebaiknya perlu diikat dalam sebuah orchestra yang merdu (Amien Rais dalam Saefudin, 2010:356).

Selain itu masih ada lembaga lainnya yang memfokuskan diri pada gerakan dakwah, seperti : Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (1967), Majelis Dakwah Islamiyah (sayap dakwah partai Golkar), Dewan Masjid Indonesia (DMI), Majelis Wisata Hati, Majelis Rasulullah, Majelis Ad-Dzikra dsb yang focus dalam program dakwah dan sasarannya masing masing ; DDII lebih fokus pada penggemblengan dan distrubusi Dai di daerah pelosok, DMI dalam fungsionalisasi peranan Masjid, serta Wisata Hati yang focus dalam fund-raising dan gerakan pondok tahfidzul Quran.

Blue-Print  dan Peta Dakwah

Tolchah Hasan, mantan Menteri Agama, dalam Workshop Lembaga Dakwah Nahdatul Ulama (LDNU) tahun 2007, mengungkapkan pengamatannya bahwa kondisi perkembangan dakwah Islam di Jerman sangat terorganisir, berbeda jauh dengan kondisi umat Islam di Indonesia yang notabene merupakan Negara Muslim terbesar. Dengan jumlah komunitas Muslim sekitar 6 Juta, muslim, Jerman memiliki peta dakwah dan strategi jangka panjang 5 – 10 tahun ke depan. Komunitas muslim Jerman juga menargetkan distribusi kader Islam di sektor industri sebagai direktur. Selain itu dari sisi pengembangan keilmuan Islam juga dibidik dengan didirikannya Universitas Islam Eropa. Bagaimana kondisi Indonesia? belum ada peta dakwah yang bisa menggambarkan kebutuhan masing masing golongan atau komunitas. Selain itu dari segi pelayanan, dakwah perlu juga memperhatikan kondisi dan kebutuhan untuk komunitas khusus seperti rumah sakit, penjara, lokalisasi.

Untuk menunjang keberhasilan dalam berdakwah, diperlukan adanya pemetaan yang bisa menggambarkan seluruh kondisi masyarakat Indonesia sehingga dapat diketahui apa yang harus dilakukan. Pendekatan dakwah harus pula menyesuaikan corak dan karakteristik masyarakat setempat. Indonesia merupakan negara kepulauan, agraris dan juga maritim, sehingga beragam corak dan karakteristik masyarakat perlu menjadi pertimbangan dalam berdakwah. Kecenderungan kultural dan karakter masing masing masyarakat, seperti ; a) masyarakat agraris b) masyarakat pesisir c) masyarakat adat/suku d) masyarakat daerah kompleks industri e) masyarakat sub-urban f) masyarakat kota mega-politan g) komunitas khusus (penjara, lokalisasi, buruh) dll. Kontribusi Intelegensia Muslim, sangat diperlukan dalam pemetaan dakwah dengan melakukan riset mendalam terkait masyarakat sasaran dakwah. Hal itu meliputi kerja-kerja riset sosial-kultural, pengembangan tradisi keilmuan, hingga membentuk lembaga pemikir khusus proyek dakwah Islam ini

***disampaikan dalam Diskusi Terbatas Studi Wawasan Islam “Corak Dakwah Islam pasca Reformasi” pada tanggal 27 agustus 2015


Sumber Bacaan :

Conrad, Hacket. Cooperman, Alan. 2015. “The Future of World Religions : Population Growth Projections, 2010-2050” ;Why Muslims Are Rising Fastest and The Unaffiliated Are Shrinking As a Share of the World Populations. Pew Research Center. Diunduh di www.pewresearch.org

Firdaus, KH. 1990. “Panji-Panji Dakwah”. Jakarta : CV Pedoman Ilmu Jaya

 Saefudin, A.M. 2010. “Islamisasi Sains dan Kampus”. Jakarta : PT PPA Consultants

http://m.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,8167-lang,id-c,warta-t,Tantangan+Baru++Perlu+strategi+Dakwah++Baru-.phpx diakses 27 Agustus 2015 jam 11.12 wib

http://m.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,8171-lang,id-c,warta-t,Diperlukan+Peta+Dakwah+Indonesia-.phpx  diakses 27 agustus 2015 jam 11.25 wib

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: