Strategi Dakwah dan Kondisi Ummat Islam

Masuknya Islam ke Nusantara

Mengenai hal ini saya ingin memulai membahas dari awal siapa yang membawa Islam sampai ke Nusantara. Ada tiga pendapat berkenaan siapakah sebenarnya mereka yang datang menyebarkan Islam di Nusantara. Pendapat pertama yang paling populer dan diajarkan di sekolah-sekolah mengatakan bahwa Islam dibawa masuk ke Nusantara oleh para saudagar atau pedagang muslim. Pendapat yang belakangan dianut oleh para orientalis (sarjana barat) dan sejarawan local ini biasanya didasarkan pada laporan pengembara Italia, Marcopolo, yang dalam pelayaran baliknya dari Cina pada tahun 1292[1] .

Pendapat kedua mengatakan lebih besar kemungkinannya para penyebar Islam di Nusantara itu adalah para ulama yang datang bersama kapal-kapal pedagang dari Arab. Lebih tepatnya, seperti diungkapkan oleh Anthony H. Johns, agama Islam dibawa ke Asia Tenggara oleh ulama sufi (ahli tasawuf dan tarekat) : “ to say that Islam came with trade is to beg the question. It is not usual to think of sailors or merchants as bearers of a religion. If however, We think of certain traders belonging to sufi trade guilds, accompanied by their syaikhs, there seems a more plansible basis for spread of Islam“ [2]

Menurutnya adalah syeikh syeikh sufi tersebut yang menyiarkan islam dengan berkelana ke seluruh dunia yang dikenal waktu itu. menurut Johns, mereka memilih hidup sebagai fakir , disamping mengajarkan tasawuf kepada penduduk setempat, mereka juga mempunyai ilmu-ilmu dan kekuatan supranatural. Sebagian mereka mengawini putri-putri bangsawan Nusantara sehingga pengaruh Islam semakin kuat di kalangan penguasa dan pembesar-pembesar Kerajaan. Walaupun cukup masuk akal, pendapat Johns ini tidak menerangkan apakah mereka itu datang sejak kurun waktu pertama tahun hijriah ataukah beberapa abad kemudian.

Pendapat ketiga yang dikemukakan oleh Syed Naquib Al Attas dalam bukunya yang berjudul Historical Fact And Fiction . Menurutnya, pembawa Islam ke Nusantara adalah Syaikh Ismail yang atas perintah Gubernur (Syarif) Mekkah pada sekitar abad ke- 9 Masehi berlayar menuju Sumatera. Dalam perjalanan ini Syaikh Ismail singgah di Menggiri, sebuah kota di batas barat laut Benggala, dimana beliau bertemu Sultan Muhammad yang kemudian ikut serta bersama putranya berlayar ke Sumatera untuk menyebarkan Islam. Sultan Muhammad inilah yang dipercaya mendirikan kerajaan Islam di Nusantara yaitu Kerajaan Perlak (jauh sebelum Kerajaan Samudra Pasai berdiri).[3]

Yang paling ditekankan oleh Al Attas adalah fakta bahwa para penyiar Islam di Nusantara termasuk kepulauan Filiphina adalah keturunan Sayyidina Husein. Dan Al Attas mengakui bahwa dakwah Islam memang sudah masuk ke Nusantara sebelum abad ke-9 Masehi.

Islamisasi Nusantara

Dari fakta historis diatas kita bisa mengetahui bgaimana ummat Islam dari Timur Tengah melakukan Islamisasi di Nusantara. Kalau pada masa sebelum abad ke-15 gaya Islamisasi memang lebih ditekankan pada peningkatan jumlah umat Islam. Ini dilihat dari banyaknya masyarakat Nusantara yang tadinya menganut Animisme, berpindah menjadi agama Islam.

Para pembawa misi Islam tersebut melakukan cara agar masyarakat Pribumi Indonesia dapat memeluk Islam diantaranya seperti melakukan perkawinan, melakukakan Islamisasi terhadap pemimpin setempat dan dengan kharisma para ahli tasawuf tersebut. Kemudian sejarah sering menyebutkan juga asal daerah penyebaran Islam berasal dari Gujarat. Tetapi, selain Gujarat ada daerah lain yang juga melakukan penyebaran Islam ke Nusantara yaitu dari Negeri Baghdad. Umat Islam yang melakukan dakwah dari Negeri Baghdad inilah yang diperkirakan menyebarkan tasawuf di Negeri Asia Tenggara diantaranya yang masih kental adalah Malaysia, Thailand, dan Indonesia

Sedangkan yang berasal dari Gujarat adalah sekelompok pedagang yang melakukan pelayaran dari Negeri Yaman. Dari pendapat Syed Naquib Al Attas para pedagang yang juga melakukan dakwah dari Negeri Yaman inilah yang banyak dari keturunan Rasulullah SAW sendiri, dimana Yaman atau Hadramaut adalah Negeri para Habaib. Di kalangan sejarawan Islam, pendapat Al Attas inilah yang sekarang paling kuat karena ada kesesuaian dengan fakta Islamisasi di Indonesia.

Dari data yang penulis lihat dari badan organisasi yang mengamati garis keturunan Rasulllah, di Indonesia saat ini ada sekitar 1,2 juta keturunan Rasulullah[4]. Biasanya mereka disebut Habib (bagi laki-laki) dan Syarifah ( bagi perempuan). Menurut Hadist yang disampaikan Rasulullah sendiri bahwa keturunannya akan menyebar ke seluruh dunia dan mereka akan dijaga oleh Allah dari perbuatan maksiat. Salah satu Habib yang dekat dengan kita adalah Habib Muhammad Alydrus, Imam Masjid Al Barokah, belakang Gedung Insan Cita.

Strategi Dakwah Jamaah Tabligh

Dari pengalaman  penulis yang baru 3 bulan aktif mengikuti kegiatan Jamaah Tabligh Surakarta. Korps Jamaah Tabligh (selanjutnya disebut Korps JT) melakukan dakwah dengan ajakan shalat dan ke Masjid. Korps JT melihat bahwa Masjid adalah tempat yang paling sempurna dan tempat yang dijaga oleh Allah SWT dari segala bentuk perbuatan dosa. Dengan adanya pembinaan dan bimbingan dakwah yang dilakukan , penulis amat terbantu dengan semangat motivasi yang diberikan dan selalu dibekali bahwa dakwah harus dilakukan dimanapun dan kapanpun. Dan ukuran keberhasilan dakwah Korps JT adalah dengan membawa ummat Islam kembali ke Masjid dan mengaktifkan Masjid di daerahnya masing-masing[5].

Untuk melakukan pendekatan dakwah , Aktivis JT merujuk kepada enam sifat Sahabat Nabi yang dibukukan dalam judul “Mudzakarah Enam Sifat Sahabat Nabi dan amalan Nurani Mualana Muhammad Yusuf Al Kandhalawi”[6] Yaitu :

  1. Yakin kepada kalimat Tahyibah, maksudnya mengeluarkan keyakinan kepada Makhluk   selain Allah dari hati kita dan  memasukan Keyakinan hanya kepada Allah ke dalam hati kita.
  2. Shalat khusyu wal khudhu, maksudnya membawa sifat-sifat ketaatan kepada Allah yang ada di dalam shalat ke dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Ilmu ma’a Dzikir, mengamalkan perintah- perintah Allah dalam setiap saat dan keadaan dengan menghadirkan keagungan Allah dalam hati kita serta dilakukan dengan cara Rasulullah SAW.
  4. Ikramul Muslimin , yaitu menunaikan hak-hak saudara Muslim tanpa menuntut hak-hak kita dari mereka.
  5. Tash-hiihun Niyyah, yaitu membersihkan niat kita dalam setiap amal dari niat-niat kecuali hanya untuk mencari keridhoan Allah SWT.
  6. Da’wah wat Tabligh , yaitu mengajak seluruh ummat Islam kembali kepada Masjid .

Dari keenam pendekatan yang selalu dibimbing kepada penulis ini, amatlah membantu penulis dalam semangat dakwah, serta juga selalu memberikan motivasi kepada teman untuk selalu melakukan dakwah dimanapun kita berada.

Menentukan sasaran dakwah

Dalam masyarakat Islam, ada banyak golongan dan jamaah. Umat Islam dalam berdakwah dan berkumpul banyak mendirikan organisasi Islam, atau perkumpulan yang memang tujuannya untuk menegakkan kalimat Allah, mempererat silaturahmi dan mencerdaskan generasi muda Islam. Akan tetapi tidak semua jamaah Islam mempunyai sikap -sikap diatas , maka berikut ciri-ciri kehancuran suatu jamaah yang penulis ambil dari Kitab ‘as sulukul ijtima fil Islam, karya Hassan Ayyub[7] :

  1. Ada jamaah yang tidak memahami Islam secara menyeluruh atau sempurna, apakah pemimpinnya atau pengikutnya.
  2. Ada juga Jamaah yang tampak mengerti Islam tetapi disesuaikan dengan hawa nafsu para pemimpinnya dan kebijakannya, tidak pernah bersumber dari Al Quran dan Al-Hadist.
  3. Ada juga kelompok Muslim dan pejuang Muslim yang berpegang kepada hadist tanpa Al Quran,
  4. Ada juga jamaah yang merupakan kebalikan dari kelompok ketiga, yakni kelompok yang tidak menggunakan Hadist tetapi hanya menggunakan Al Quran. Kelompok ini termasuk dalam gerakan inkarus sunnah
  5. Ada juga jamaah atau kelompok pergerakan Islam yang mempunyai cirri-ciri suka mencela umat Islam lainnya, termasuk kepada para Ulama dan para Imam. Mereka menolak perkataan para sahabat dan tabi’in, serta tidak mengikuti pemahaman mereka dalam Agama. Sebaliknya mereka mengaku, bahwa pemahaman mereka lebih baik dan cocok dengan Al Quran dan petunjuk Allah.
  6. Ada juga jamaah dalam pergerakan Islam yang kegiatannya dipimpin oleh mereka yang tidak mengerti Islam kecuali kulitnya belaka. Mereka menyebarluaskan selebaran yang merupakan dukungan bagi para pemimpinnya, supaya pemimpin bodoh itu tetap menjadi pemimpin, penguasa, yang menyesatkan atau membahayakan umat Islam. Pemimpin tersebut tidak menghendaki untuk mendekat kepada ulama, sebab keberadaan ulama justru bagi mereka merupakan duri dan penyebab kehancurannya.

Bagaimana bisa dalam suatu jamaah organisasi Islam terbentuk dan berdiri tegak memperjuangkan Agama, padahal para pengurusnya dan mereka yang bertanggung jawab pada organisasi tersebut tidak memahami Islam kecuali seperti pemahaman orang-orang awam ?. Jawabnya ialah setiap anggota harus mengetahui secara pasti apa yang harus dia lakukan dan jihadnya harus selalu tertanam dalam hatinya. Sedangkan para pemimpinnya harus mengetahui wawasan yang lebih dari itu semua dan pemahamannya mengenai islam serta jihad untuk memperjuangkannya harus lebih luas lagi.

Berikut adalah dalil yang mengharuskan lahirnya suatu pergerakan Islam dan keharusan berjihad fissabilillah (At TaubaH ayat 122) & (Al Jumuah ayat 2).

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS : At Taubah ayat 122)

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS: Al-Jumuah Ayat: 2)

Kekacauan Dunia Islam

Kondisi Ummat sekarang ini mirip dengan cirri-ciri diatas. Kondisi politik di berbagai Negara Islam semakin kacau, timbul banyak kebencian antar golongan. Tidak  ada sikap saling percaya antar sesama umat Islam dan selalu timbul persaingan yang tidak dilandasi semangat juang Islam.

Rakyat di kawasan Timur Tengah saat ini sedang mengalami chaos yang mengerikan. Di Negeri Mesir terjadi perubahan sosial –politik yang signifikan. Gelombang protes massa yang dilakukan di Lapangan Tahrir melibatkan semua kelompok massa dan akhirnya dapat menumbangkan rezim yang berkuasa, Hosni Mubarok. Inilah revolusi jilid I yang mereka sebut revolusi 25 Januari 2011.

Mubarok tumbang dan kemudian ditahan di penjara Torah Kairo. Demontrasi terus dilakukan. Dan muncullah partai politik sebagai hasil dari demokrasi. Ikhwanul Muslimin yang pada masa Mubarok mengalami penindasan politik, akhirnya dapat memenangkan pemilu dan menjadi penguasa baru di Negeri Pyramid ini. Namun demikian, Presiden terpilih Muhammad Mursi gagal melakukan konsolidasi politik.

Presiden  Mursi yang terpilih secara demokratis kemudian dikudeta militer dengan alasan demi menjaga stabilitas Negara. Jenderal As Sisi yang sebenarnya diangkat Mursi untuk menopang kekuasaannya yang pro-Islam, justru menunjukan  wajah aslinya  sebagai militer  binaan AS yang akan   menjaga  terus kepentingan AS. Dengan manipulasi demokrasi yang dilakukan ,   Jenderal As Sisi kini mengokohkan dirinya sebagai Diktator baru  Mesir.

Konflik berkepanjangan di Libya

Hingga terjadi Arab Spring di Libya pada tahun 2011, AS tidak memiliki pengaruh apapun di Negeri yang kaya minyak ini .  Qaddafi adalah agen setia Inggris. Dengan jatuhnya Husni Mubarok di  Mesir perubahan sosial dengan cepat meluas melintas batas hingga ke Libya. Dengan    adanya    justifikasi   stigma    “ada pelanggaran HAM berat “ dilakukan oleh  Qaddafi,  terbitlah resolusi PBB  nomor 1973 tentang zona larangan terbang, bahkan bukan sekedar  larangan terbang belaka,  tetapi  Barat dalam hal ini AS dan sekutunya NATO (North Atlantic Treaty Organization) justru balik membombardir Libya.

Puluhan Negara yang tergabung dalam NATO menggempur Libya hingga porak poranda. Qaddafi dinyatakan tewas    pemerintahan    bubar.   Pemerintah  sementara tak digubris. Perampokan harta  Qaddafi berkedok   pembekuan    asset-asetnya di  luar negeri pun menjadi fenomena.   Pergolakan senjata       bermotif   saling   klaim Sumber Daya Alam (SDA) di internal Negeri terus berlanjut. Libya kini ibarat ladang yang ditinggal pemiliknya. Menjadi  rebutan banyak orang. Libya menjadi  Negara gagal yang berantakan.

Suriah Masih Membara

Di Suriah fenomena  Arab Spring  masih    membara. Perjuangan   revolusi    rakyat belum juga usai. Demonstrasi massa di berbagai kota besar Suriah belum mampu menggulingkan   simbol    otoriter    Suriah, Bashar Al Assad dari kursi Presiden. Bahkan sebaliknya,  ia bersikeras untuk tetap bertahan pada jabatanya dan menggunakan segala cara guna menggagalkan  revolusi  rakyat bahkan  dengan jalan  kekerasan.

Upaya intervensi asing pun,  dengan berbagai alasan hingga kini tidak dilakukan. Betapa militer Negara lain  hingga saat ini tidak diperkenankan masuk secara terang terangan karena belum ada mandat PBB. Upaya untuk menerbitkan  resolusi oleh AS dan sekutu nya  senantiasa diganjal oleh Veto China dan Rusia setiap kali diajukan draft resolusi di forum Dewan Keamanan PBB. Kini berbagai unjuk rasa sudah berubah menjadi revolusi militer. Terbentuk berbagai kelompok militer yang terus melakukan perlawanan terhadap rezim Bashar Al Assad. Kelompok milisi tersebut antara lain  pasukan pembebasan Suriah (FSA). Daulah Islamiah Iraq And Syria (ISIS), Jabrah Nusrah , Liwa Al Haq, Ahrar Al-Sham, Jabhah Islamiah, Jaisyul  Mujahidin dll.

Namun  perjuangan para milisi ini tidaklah mulus. Dengan jumlah yang demikian banyak, ideologi yang berbeda atau ada perbedaan misi, tidak jarang terjadi konflik di antara para mujahidin itu sendiri.

 

**Adhtyawan Suharto [Penggiat Studi Wawasan Islam]

*** disampaikan dalam Diskusi Terbatas Studi Wawasan Islam dengan tema “Dilema Islamisasi di Era Global” Jumat 29 Mei 2015

 

Catatan Kaki :

[1] Sir Henry Yule, The Book Of Sir Marco Polo (London 1929)

2 Anthony Johns. Sufism as a Category in Indonesian literature and history, “Journal of Southeast Asian History (1961

3 S.M Naquib Al Attas. Historical Fact And Fiction ( Kuala Lumpur, University of Malaya , 2011)

4 Rabithah Alawiah, Badan Pencatat Garis Keturunan Raslullah SAW

5 Sejarah Maulayan Ilyas : Menggerakan Jamaah Tabligh, Mempelopori Khurus Fii Sabilillah. Pustaka Ramdhan : 2009

6 Bab 1, Mudzakarah Enam Sifat Sahabat Nabi dan Amalan Nurani Maulana Muhammad Yusuf Al Kandawi, Pustaka Ramadhan. 2009

7 Bab 10, Hassan Ayyub, ETIKA ISLAM : As sulukul Ijtima Fil Islam, Grafindo 1990

 

Sumber bacaan :

Sayid Abu Hasan Ali An Nadwi. Sejarah Maulana Ilyas : Menggerakan Jamaah Tabligh , Pustaka Ramadhan. 2009

S.M Naquib Al Attas. Historical Fact And Fiction Kuala Lumpur, University of Malaya , 2011

Mudzakarah Enam Sifat Sahabat Nabi dan Amalan Nurani Maulana Muhammad Yusuf Al kanldawi , Pustaka Ramadhan. 2009

Tabloid Hizbut Tahrir Indonesia : Al –Wa’fie , edisi bulan Februari 2015. halaman 10 -15

Sayyid Qutb. Hari Esok Untuk Umat Islam. Al Maarif Bandung. 1977

Hassan Ayyub. ETIKA ISLAM. Grafindo. 1990

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: