Thoharoh/ Bersuci – Wudhu (Bagian 2)

Ustad Muh. Taqwim, S.Ag 

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ

فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“ dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi[980]; Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang[981]. rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata”.(Qs Al Hajj ayat 11)

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ يَوْمًا ثُمَّ قَالَ يَا مُعَاذُ

 إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ لَهُ مُعَاذٌ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَنَا أُحِبُّكَ قَالَ أُوصِيكَ

 يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ

 وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

(AHMAD – 21103) : dari Ash Shunabihi dari Mu’adz bin Jabal bahwa Nabi Shallallahu’alaihiWasallam meraih tangannya pada suatu hari kemudian bersabda; “Hai Mu’adz! aku mencintaimu.” Mu’adz bin Jabal berkata kepada beliau; Engkau lebih aku muliakan melebihi ayah dan ibuku wahai Rasulullah! Saya juga mencintai tuan. Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam bersabda; “Aku berwasiat kepadamu wahai Mu’adz! Jangan kau tinggalkan setiap usai shalat untuk berdoa; Ya Allah! Tolonglah aku untuk mengingatMu, mensyukuriMu dan beribadah padaMu dengan baik.” 

Sunnah wudhu

  1. Niat(menurut Hanafi)

Niat hilangkan hadats,wudhu,dirikan sholat dan mematuhi perintah Allah.Dalam hati.semua ulama selain Hanafi mengatakan itu fardhu.Hanafi mengatakan sunnah.Hanafi menganjurkan menggabungkan lisan dengan hati dengan mengucapkan.Konsekwensi menjadikan niat adalah sunnah yakni sahnya penyelam/perenang ketika akan sholat karena sudah basah walaupun tujuannya kesegaran/menyelamatkan

(Muttafaqun Alaihi,dari umar bin khotob)

 اِنَّمَااْلَأعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَاِنَّما لِكُلِّ امْرِءٍ مَا نَوَي

Sesungguhnya semua amal perbuatan tergantung dengan niatnya dan sesungguhnya setiap manusia akan memperoleh pahala berdasarkan apa yang diniatkan”

  1. Membasuh telapak tangan 3 kali ketika akan wudhu.

وَإذَاسْتَيْقَظَ اَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَهُ قَبْلَ اَنْ يُدْخِلَهَا فِي اْلِانَاءِ فَاِنَّ اَحَدَكُم ْلاَيَدْرِيْ اَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

“Bila salah satu diantaramu bangun dari tidur maka hendaklah dia mencuci tangannya sebelum ia memasukkannya ke dalam tempat air karena tidak tahu dimanakah ia meletakkan tangannya ketika tidur”

اِنَّ عُثْمَانَ دَعَا بِوُضُوْءٍ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ اليُمْنَي اِلَي الِمرْفَقِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ اْليُسْرَي مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَه اْليُمْنَي اِلَي اْلكَعْبَيْنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ اْليُسْرَي مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأ نَحْوَ وُضُوْئِي هَذَا (متفق عليه)

“Sungguh Utsman ra telah minta air wudhu maka dicucinya telapak tangan 3 kali lalu berkumur dan menghisap air dan menyemburkan lalu membasuh muka 3 kali lalu membasuh tangan kanan sampai siku 3 kali lalu yang kiri demikian pula lalu mengusap kepala lalu membasuh kaki kanannya sampai mata kaki 3 kali lalu yang kiri demikian pula lalu berkata:”aku melihat Rosululloh saw telah berwudhu seperti wudhuku ini”

  1. Membaca basmalah

– كُّل اَمْرِذِيْ بَالٍ لَايُبْدَأُ بِاسْمِ اللهِ الرّحْمنِ الرَّحِيْمِ اَقْطَعُ

Setiap perkara yang penting yang tidak dimulai dengn basmalah maka terputus”(dari Abu Huroiroh   arba’in  Oleh abdul qodir Ar Rahawi,hadits dhoif)

– لاَصَلاَةَ لِمَنْ لاَوُضُوْءَ لَهُ وَلاَوُضُوْءَ لمِنْ لَمْ يَذْكُرِاسْمَ اللّهِ عَلَيْه

-“Tidak sah sholat sholat yang tidak berwudhu dan tidak sah wudhu seseorang yang tidak menyebut nama Allah”(HR Abu Daud,Ibnu Majah dan Hakim.Tingkatan shohih dari Abu Hurairah)

  1. Berkumur-kumur,intinsyaq dan istintsar
  2. Bersiwak,kecuali malik karena menganggapnya perbuatan baik/fadhilah(HR Ahmad,sohih dari Abu Hurairah)

لَوْلَا اَنْ اَشُقَّ عَلَي اُمَّتِيْ لَأَمَرْتَهُمْ عِنْدَكُّلِ صَلَاةٍ بِوُضُوْءٍ اَوْمَعَ كُّلِ وُضُوْءٍ سِوَاكٌ

“Jika tidak karena khawatir aku menyusahkan umatku,tentu aku menyuruh mereka wudhu setiap akan  sholat dan setiap wudhu disertai siwak”

  1. Menyela-nyelai jenggot,jari tangan dan kaki(dari Ibnu Abbas riwayat Ahmad,ibn majah dan tirmidzi)

إِذَا تَوَضَّأْتَ فخَلَّلْ بَيْنَ اَصَابِعَ يَدَيْكَ وَرِجْلَيْكَ

Bila kamu berwudhu maka selailah jari kedua tangan dan juga jari kedua kakimu”

لحِدِيْثِ عُثْمَانِ ابْنِ عَفَّانِ اَنَّ النَّبِيَ ص م كَانَ يَتَخَلَّلُ لِحْيَتَهُ فِى اْلوُضُوْءِ

‘HaditsUtsman Bin Affan bahwa Rosululloh saw menyelai jenggotnya dalam wudhu”

  1. Membasuh 3 kali
  2. Mengusap seluruh kepala

عَنْ عَبْدِاللهِ ابْنِ زَيْدِابْنِ عَاصِمٍ قَالَ:وَبَدَأَبِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ حَتَّى ذَهَبَ بِهِماَ اِلَى قَفَاهُ ثُمَّ

 رَدَّهُمَااِلَى مَكَانِ الَّذِى بَدَأَ مِنْهُ (متفق عليه)

DariAbdillah Bin zaid Bin Ashim berkata;beliau memulai dengan permulaan kepalanya sehingga menjalankan kedua tangannya sampai pada tengkuknya lalu mengembalikannya pada tempat memulainya”

  1. Memulai dengan anggota kanan
  2. Tertib

  “.(Ali Imran 55)

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

“dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.(Al Isro’ 26)

لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا (١١٤)

” tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau Mengadakan perdamaian di antara manusia. dan Barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, Maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar (An Nisa 114)

Yang membatalkan wudhu     :

  1. Keluarnya sesuatu dari dubur atau qubul berupa benda atau cairan(mani,madzi,wadi atau darah istikhadoh)

     Kinayahnya adalah Al Ghaa-ith

أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ

    “atau datang dari tempat buang air “(An Nisa 43)

فَتَوَضّئِ وَصَلِّي فَاِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ

   “wudhulah dan sholatlah sesungguhnya itu adalah irq( darah penyakit)”(dari ‘Aisyah tentang Fatimah Bin Abi Hubaisy)

Sesuatu yang keluar dari usus tanpa melewati dubur maka tidak batal.Kalau beser maka niatnya untuk melakukan sholat bukan bersuci dari hadats sebab tidak berhenti keluar

1. Bersentuhan laki-laki dan perempuan bukan mukhrim tanpa penghalang.

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي رَوْقٍ الْهَمْدَانِيِّ عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ عَنْ عَائِشَةَ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّلَ ثُمَّ صَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

(AHMAD – 24585) : “Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Rauq Al Hamdani dari Ibrahim At Taimi dari Aisyah bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah mencium (isterinya), kemudian beliau melakukan shalat dan tidak berwudhu”.

Bila melihat Qs Al Maidah ayat 6(ttg menyentuh wanita,bisa jima tetapi bisa sentuhan biasa).Ada pertentangannya.Bukhori mendhoifkan hadits ini.Menurut Ibnu hajar sebagaimana imam Abu daud,Tirmidzi,Nasa’I,Daruquthni,Baihaqi dan Ibnu Hazm menilai hadits ini cacat,dan tidak ada hadits yang shohih berkenaan dengan ini.Karena Ibrahim At Taimi tidak mendengar langsung dari ‘Aisyah.yang menilai shohih  hadits ini adalah Al Bani dan Ahmd Syakir.Menurut hanafi mutlak tidak batal berdasar hadits tentang sholat Nabi yang menggeser kaki ‘Aisyah. Pemahaman yang terbaik adalah bahwa sentuhan yang membatalkan wudhu adalah yang disertai syahwat,bila tanpa syahwat tidak batal.Karena bersentuhan munculkan syahwat yang akibatkan keluarnya madzi yang sebabkan batalnya wudhu.

2. Menyentuh kemaluan tanpa penghalang.

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا مُلَازِمُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بَدْرٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ هُوَ الْحَنَفِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَهَلْ هُوَ إِلَّا مُضْغَةٌ مِنْهُ أَوْ بَضْعَةٌ مِنْهُ

قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى وَقَدْ رُوِيَ عَنْ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَعْضِ التَّابِعِينَ أَنَّهُمْ لَمْ يَرَوْا الْوُضُوءَ مِنْ مَسِّ الذَّكَرِ وَهُوَ قَوْلُ أَهْلِ الْكُوفَةِ وَابْنِ الْمُبَارَكِ وَهَذَا الْحَدِيثُ أَحَسَنُ شَيْءٍ رُوِيَ فِي هَذَا الْبَابِ وَقَدْ رَوَى هَذَا الْحَدِيثَ أَيُّوبُ بْنُ عُتْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ جَابِرٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ عَنْ أَبِيهِ وَقَدْ تَكَلَّمَ بَعْضُ أَهْلِ الْحَدِيثِ فِي مُحَمَّدِ بْنِ جَابِرٍ وَأَيُّوبَ بْنِ عُتْبَةَ وَحَدِيثُ مُلَازِمِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بَدْرٍ أَصَحُّ وَأَحْسَنُ

(TIRMIDZI – 78) : telah menceritakan kepada kami Hannad berkata, telah menceritakan kepada kami Mulazim bin ‘Amru dari Abdullah bin Badr dari Qais bin Thalq bin Ali Al Hanafi, dari Bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: ” Kemaluan hanyalah segumpal atau sepotong daging dari seseorang.” Ia berkata; “Dalam bab ini juga ada riwayat dari Abu Umamah.” Abu Isa berkata; “Diriwayatkan tidak hanya dari satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebagian tabi’in, mereka berpendapat bahwa tidak ada wudlu karena menyentuh kemaluan. Ini adalah pendapat yang diambil oleh penduduk Kufah dan Ibnul Mubarak.” Dan hadits ini adalah sebaik-baik hadits yang diriwayatkan dalam bab ini. Hadits ini diriwayatkan oleh Ayyub bin Utbah dan Muhammad bin Jabir dari Qais bin Thalq, dari bapaknya. Namun ada beberapa ulama yang masih memperbincangkan tentang Muhammad bin Jabir dan Ayyub bin Utbah. Dan hadits Mulazim bin Amru dari Abdullah bin Badr lebih shahih dan lebih baik.”

أَخْبَرَنَا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا مَعْنٌ أَنْبَأَنَا مَالِكٌ ح وَالْحَارِثُ بْنُ مِسْكِينٍ قِرَاءَةً عَلَيْهِ وَأَنَا أَسْمَعُ عَنْ ابْنِ الْقَاسِمِ قَالَ أَنْبَأَنَا مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ أَنَّهُ سَمِعَ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ يَقُولُ دَخَلْتُ عَلَى مَرْوَانَ بْنِ الْحَكَمِ فَذَكَرْنَا مَا يَكُونُ مِنْهُ الْوُضُوءُ فَقَالَ مَرْوَانُ مِنْ مَسِّ الذَّكَرِ الْوُضُوءُ فَقَالَ عُرْوَةُ مَا عَلِمْتُ ذَلِكَ فَقَالَ مَرْوَانُ أَخْبَرَتْنِي بُسْرَةُ بِنْتُ صَفْوَانَ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ

 صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا مَسَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

(NASAI – 163) : Telah mengabarkan kepada kami Harun bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Ma’an Telah memberitakan kepada kami Malik dan Al Harits bin Miskin telah dibacakan kepadanya dan saya mendengarnya dari Ibnu Qasim berkata; Telah memberitakan kepada kami Malik dari Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazim bahwasannya dia mendengar Urwah bin zubair berkata; “Aku menemui Marwan bin Hakam, lalu kami menyebutkan hal yang mengharuskan untuk berwudlu. Lalu Marwan berkata, menyentuh kemaluan”. Urwah berkata, “Aku tidak tahu hal tersebut. Lalu Marwan berkata lagi, Telah mengabarkan kepadaku ‘ Busrah binti Shafwan bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ” Apabila salah seorang dari kalian menyentuh kemaluannya, hendaklah ia berwudlu.”

Karena sama-sama shohih maka digabungkan:

a.menyentuh dzakar tanpa penghalang membatalkan wudhu,bila ada penghalang maka tidak batal.

b.menyentuh dzakar dengan syahwat membatalkan sebaliknya tanpa syahwat tidak batal

3. Keluar darah,nanah,darah bercampur nanah dari tubuh selain farji lebih dari 3 tetes dan mengenai bagian luar tubuh yang harus dibasuh ketika wudhu.

Contoh: mimisan kadarnya 3 tetes.Tetapi darah yang keluar dari anggota yang tidak wajib dibasuh ketika wudhu misal luka di mata ,pusat atau buah dada darahnya menetes kebagian tubuh lain tidak mewajibkan wudhu lagi.Yang mewajibkan wudhu lagi adalah bila kadarnya banyak sampai membahayakan diri.Ibnu Abbas:”perkara yang buruk adalah yang dirasakan buruk menurut pertimbangan hatimu”

مَنْ قَاءَ اَوْرَعَفَ فِى صَلَاتِهِ فَلْيَنْصَرِفْ وَلْيَتَوَضّأْ وَلْيَبْنِ عَلَى صَلَاِتِه مَالَمْ يَتَكَلّمْ

Barangsiapa muntah atau keluar darah dari hidungnya sewaktu sholatnya,maka hendaklah dia berhenti,lalu berwudhu dan menyempurnakan sholatnya jika ia masih belum bicara”(dari ‘Aisyah HR Ibn Majah)

لَيْسَ فِي اْلقَطْرَةِ وَلَافِي اْلقَطْرَتَيْنِ مِنَ الَّدمِ وُضُوْءٌ إِلَّااَنْ يَكُوْنَ دَامًا سَا ئِلًا

Tidak diwajibkan berwudhu karena satu tetes atau 2 tetes darah kecuali keadaan darah itu mengalir”(dari Abu Hurairah HR Daruqutni)

4. Muntah dengan kadar memenuhi mulut(menurut Hanafi)(HR Ibn Majah dan Daruqutni)

Siapa yang muntah,keluar darah hidung,Qals/gumoh,madzi hendaklah dia berhenti sholat kemudian berwudhu setelah itu meneruskan sholatnya.dalam kondisi seperti ini hendaklah jangan berbicara

Syarat muntah yang membatalkan wudhu ada 3:keluar dari usus,memenuhi mulut dan serentak.

(menurut Maliki dan Syafii) tidak batal dengan dasar hadits riwayat Daruqutni

Aku bertanya wahai Rosululloh adakah wajib berwudhu karena muntah?Rosul menjawab:jika ia wajib tentu kamu akan menemukannya di dalam kitab Allah

5. Hilang akal karena mabuk,pingsan atau tidur(HR Ahmad dan Ibnu Majah)

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Mata adalah pengawal dubur oleh karena itu barangsiapa tidur maka dia wajib berwudhu”(Ibnu Majah:470)

Posisi tidur ada perbedaan pendapat.

6. Tertawa terbahak-bahak bagi yang sudah baligh ketika sholat

7. Makan daging unta

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَأَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ قَالَ

 إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلَا تَوَضَّأْ قَالَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ قَالَ نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ

قَالَ أُصَلِّي فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ قَالَ نَعَمْ قَالَ أُصَلِّي فِي مَبَارِكِ الْإِبِلِ قَالَ لَا

(MUSLIM – 539) dari Jabir bin Samurah bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, “Apakah kami harus berwudhu karena makan daging kambing?” Beliau menjawab, “Jika kamu berkehendak maka berwudhulah, dan jika kamu tidak berkehendak maka janganlah kamu berwudhu.” Dia bertanya lagi, “Apakah harus berwudhu disebabkan (makan) daging unta?” Beliau menjawab, “Ya. Berwudhulah disebabkan (makan) daging unta.” Dia bertanya, “Apakah aku boleh shalat di kandang kambing?” Beliau menjawab, “Ya boleh.” Dia bertanya, “Apakah aku boleh shalat di kandang unta?” Beliau menjawab, “Tidak.” Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Muawiyah bin Amr dan telah menceritakan kepada kami Zaidah dari Simak –lewat jalur periwayatan lain– dan telah menceritakan kepadaku al-Qasim bin Zakariya’ telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Musa dari Syaiban dari Utsman bin Abdullah bin Mauhab dan Asy’ats bin Abi asy-Sya’tsa’ mereka semuanya meriwayatkan dari Ja’far bin Abi Tsaur dari Jabir bin Samurah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam semisal hadits Abu Kamil dari Abu ‘Awanah.

  1. Memandikan mayat(Maytan bila masih hidup dan tasydid bila telah mati) Qs.Al An‘am 6:125

عن ابي هريرة ره قال:قال رسول الله ص م:مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ حَمَلَه فَلْيَتَوَضّأْـ اخرجه احمد والنسائي والترمذى وحسنه ـ وقال احمد:لَايَصِحُّ فِي هَذَا ْالبَابِ شَيْئٌ

“siapa yang memandikan mayit maka hendaklah mandi dan siapa yang membawanya maka hendaklah wudhu”

Imam Ahmad mengatakan tidak ada satupun hadits shohih yang mengenai ini.

Imam Bukhori mengatakan hadits ini mauquf(tidak sampai Nabi saw).Ad Dzahabi:tak ada satupun hadits yang shohih mengenai ini.Yang menilai shohih yaitu Ibnu Hazm, Ibnu AQaththan dan Al Bani.

Ahli fiqih mengatakan yg memandikan mayat adalah yg menyentuh langsung bukan yang menayamumkan atau menuangkan air.

9. Ragu dengan wudhunya

10.Hal-hal yang menyebabkan mandi junub

Yang tidak membatalkan wudhu       :

  1. Menyentuh perempuan tanpa batas sesuai dengan Qs An Nisa’ 43
  2. Keluar dari jalan tidak biasa,luka tusuk misalnya
  3. Muntah
  4. Makan daging unta(menurut imam Nawawi batal).Hadits Barra’ Bin Azib(Ahmad,Muslim,Abu Daud,Tirmidzi dan Ibnu Majah)
  5. Keraguan berhadats kecil
  6. Berdehem ketika sholat
  7. Memandikan mayat(hadits yang nyatakan batal adalah dhoif)

لَيْسَ عَلَيْكُمْ فِيْ غُسْلِ مَيِّتِكُمْ إِذَاغَسَلْتُمُوْهُ إِنَّ مَيِّتِكُمْ يَمُوْتُ طَاهِرًا وَلَيْسَ بِنَجْسٍ فَحَسْبُكُمْ أنْ تَغْسِلُوْا أَيْدِيْكُمْ

Riwayat Baihaqi dari Ibnu Abbas.Ibnu Hajar menilai hasan.Sedang hadits riwayat Abdullah bin Ahmad dari ibnu Umar:

كُنَّ نَغْسِلُ المَيِّتَ فَمِنَّ مَنْ يَغْتَسِلْ وَمِنَّ مَنْ لاَ يَغْتَسِلْ

Ibnu Hajar menilai hasan.Penggabungannya adalah riwayat dari Abu Hurairah sebagai kesunnahan,menurut Ibnu Hajar.Kaidah fiqih(kitab Al Furu’ Ibnu Muflih) “bila hadits dhoif jika melarang/haramkan atau memerintah/mewajibkan maka menunjukkan  makruh atau sunnah.

***Disampaikan dalam Kajian Fiqh-Sunnah Studi Wawasan Islam, Masjid Al Barokah Panggungrejo

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: