Indianisasi: Peradaban Minor di Kepulauan Melayu

Indianisasi: Peradaban Minor di Kepulauan Melayu

Ahda Abid al-Ghiffari*

Indianisasi bukanlah fase peradaban besar yang ada di Kepulauan Melayu-Nusantara. Profesor Tatiana A. Denisova, ahli historiografi dari Rusia, mengungkapkan kekeliruan sebagian orientalis dalam menempatkan peradaban Indianisasi sebagai ‘Greater India’. Dalam karya penelitian historiografi di dunia Melayu, Prof. Denisova menemukan kecanggihan peradaban yang telah ada sejak zaman purbakala, sebelum masa Indianisasi. Penemuannya ini membantah rekonstruksi sejarah para orientalis dalam menempatkan sejarah Hindu-Budha pada tempat yang megah dalam sejarah Melayu.

Melayu dan Peradaban Dunia

Prof. Denisova menegaskan bantahannya dengan merujuk salah satu karya orientalis bernama Quaritch Wales. Wales mengakui bahwa pengaruh peradaban India memang berperan dalam membentuk kebudayaan Melayu. Dalam pengakuannya itu, terdapat pula sanggahan, bahwa pengaruh peradaban India tersebut tetap tidak memajukan budaya tempatan. Zaman Hindu-Budha di Melayu hanya berpengaruh dalam terbentuknya budaya patung-patung, dan binaan seperti Borobudur, Mendut, Pawon, Prambanan, dan lain sebagainya.

Pengaruh seperti itu hanya memperlihatkan peradaban India sebagai peradaban elitis. Gambaran peradaban India sebagai peradaban elitis pernah diungkapkan oleh pakar sejarah dan kebudayaan Melayu, Profesor Syed Muhammad Naquib al-Attas. Dalam karya monumentalnya, ‘Islam and Secularism’, al-Attas menjelaskan:

“Agama Hindu, seperti yang diamalkan oleh penduduk kepulauan ini, adalah super struktur (superstructure) yang dipelihara oleh kelompok yang berkuasa terhadap masyarakat yang tidak peduli. Partisipasi masyarakat dalam agama Hindu selalu dipengaruhi dari atas; agama telah dipaksakan kepada masyarakat dengan otoritas para penguasa. Masyarakat Melayu-Indonesia karena itu bukanlah suatu masyarakat yang di-Hindu-kan dinasti-dinasti Melayu-Indonesia sebenarnya, mengutip pernyataan Van Leur, [akan tetapi] “telah dilegitimasikan secara sakral oleh hirokrasi (hierocracy) India”.”

Bagi Prof. Al-Attas, Hindu-Budha tidak benar-benar dipeluk oleh seluruh penduduk Kepulauan Melayu-Nusantara. Klaim peradaban India sebagai kebudayaan dan peradaban megah Nusantara belum bisa diterima serta-merta. Prof. al-Attas dan Prof. Denisova memiliki keyakinan yang sama. Yakni, pengaruh peradaban India itu hanyalah dibesar-besarkan oleh para orientalis-kolonial Belanda dan Inggris. Karena itu pula, konsep ‘Greater India’ hanyalah bagian dari ambisi penaklukkan dan ‘eksploitasi tekstual’ dari Barat kepada Timur, sebagaimana diungkapkan oleh Edward Said.

Penjelasan Prof. al-Attas di atas memberikan keterangan penting mengenai unsur kebudayaan dan peradaban Kepualauan Melayu. Hal ini ditangkap dengan baik oleh Prof. Denisova. Prof. Denisova lebih jauh menyinggung pengaruh-pengaruh penting yang saling berkelindan dalam mempengaruhi kebudayaan Melayu. Pengaruh-pengaruh tersebut justru lebih kaya daripada unsur Indianisasi. Banyaknya pengaruh tersebut membuktikan bahwa Indiaisasi bukanlah satu-satunya pengaruh yang hadir dan tersebar dalam proses-proses sejarah kebudayaan di Kepulauan Melayu.

Temuan penting Prof. Denisova dalam hal ini ada pada karya Sir Richard Braddel. Karya Braddel yang diungkap Prof. Denisova memberi gambaran luas mengenai asal-usul orang Melayu—yang berasal dari Champa, Kamboja, dan Kohinhina. Melalui karya tersebut, Prof. Denisova juga mengungkap hubungan perdagangan antara penduduk di Kepulauan Melayu dengan Mesopotamia, Mesir, Babilonia, dan Punisia. Hubungan tersebut telah terjalin sejak 14 abad sebelum masehi. Bahkan disebutkan pula mengenai kunjungan-kunjungan dari orang-orang Yunani purba.

Kajian-kajian ini menunjukkan bahwa bangsa-bangsa di Kepulauan melayu telah aktif dan berperan penting dalam sejarah ekonomi, kebudayaan, dan politik di antara peradaban-peradaban besar yang telah dikenal. Oleh karenanya pula, sejarawan dari Universitas Gajah Mada, Bambang Purwanto menolak istilah ‘pra-sejarah’ dan lebih memilih istilah ‘pra-aksara’. Sebab, istilah ‘pra-sejarah’ sering kali mengesankan bahwa penduduk zaman kuno tidak memiliki sejarah sebelum mengenal aksara. Hal ini sekaligus mematahkan klaim bahwa India merupakan satu-satunya peradaban yang bisa mempengaruhi peradaban dan kebudayaan di Kepulauan Melayu.

Pengaruh peradaban India memang tidak tepat untuk dijadikan satu unsur penting dalam kebudayaan Melayu. Sebab, sifat keterbukaan penduduk telah mengakibatkan penerimaan kebudayaan yang dinamis yang terus berkembang sejak masa purba. Di samping itu, gelora perdagangan yang menumbuhkan kota-kota metropolis di pesisir telah membuktikan Kepulauan Melayu telah maju sebelum pengaruh Indianisasi.

Wajah Kelam Peradaban India di Nusantara

Konsep ‘Greater India’ para orientalis pada akhirnya disebut Prof. Denisova memiliki maksud menyingkirkan peran Islam dalam historiografi Melayu. Oleh karena itu, konsep tersebut hanyalah mitos belaka. Bagi Prof. Denisova, peradaban Islam-lah yang sejatinya mewarnai kebudayaan Melayu dan Nusantara. Peradaban Islam telah memberikan corak budaya Melayu.

Sebagai agama dan peradaban, Islam mampu memilah kebudayaan yang sesuai jiwa ajarannya dan mengeliminasi pengaruh destruktif kebudayaan yang ditemuinya. Kedatangan Islam lebih tepat disebut sebagai pengadaban sejati yang menyumbang pengaruh penting dalam dimensi filosofis dan rasionalisme. Pengaruh ini terjadi pada seluruh lapisan kelas dalam masyarakat peradaban yang tersentuh Islam. Islam menjadi agama ilmu. Budaya yang ditemuinya mengalami ‘screening’ dalam aspek sistem kebudayaan, sosial, dan sains.

Peran Islamisasi dapat dibandingkan dengan pengaruh peradaban India Kepulauan Melayu. Sebab, perkembangan peradaban India di Kepulauan Melayu mengalami—apa yang disebut Susiyanto sebagai—‘episode kegelapan Nusantara’. Episode ini diwakili oleh sebuah ajaran sinkretisme antara Syiwaisme dan Budha yang disebut Bhairawa Tantra.

Seorang etnograf dan ahli sejarah kuno Perancis, Paul Michael Munoz, membicarakan Bhairawa Tantra dalam sebuah karyanya (dalam bahasa Indonesia), “Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia: Perkembangan Sejarah dan Budaya Asia Tenggara”. Dalam karya itu, Munoz menunjukkan bahwa ajaran Bhairawa Tantra merupakan sebuah refleksi barbarisme yang pernah hidup di Nusantara. Ajaran ini diamalkan oleh tokoh-tokoh sejarah dari kalangan elite kerajaan-kerajaan Hindu-Budha.

Raja Singasari, Kertanegara, adalah tokoh penting dalam pengamalan ajaran Bhairawa Tantra. Gelar Kertanegara ketika naik tahta begitu kentara dengan pengaruh sinkretis Syiwaisme-Budha. Gelarnya adalah Bhattara Shivabuddha. Munoz menyebutkan, Kertanegara menganut sebuah ajaran esoterik bernama ‘kalachakra’. Ritual ajaran ini diwujudkan terhadap suatu bentuk demonik dan destruktif dari dewa Syiwa. Pemujaannya dilakukan di tempat-tempat tertutup. Yakni, tempat di mana mayat-mayat dikremasi dan mantra-mantra demonik dan magis dirapal. Sehingga dalam Pararaton dan Negarakertagama, Kertanegara disebut sebagai seorang ahli dalam ritual magis Buddha Kalachakra. Obsesi gagasannya adalah penebusan setelah kematian, brutal, pemabuk, namun seorang sarjana yang cakap.

Prof. HM Rasjidi, seorang Cendikiawan Muslim, pernah menjelaskan mengenai ajaran Bhairawa Tantra ini. Dalam “Islam dan Kebatinan”, ia menulis, menurut ajaran Tantriisme ini, “… orang harus mulai dari kondisinya sekarang yang sudah merosot. Oleh karena itu … hati (occur) dan sex dipakai menjadi kendaraan untuk sampai pada kesucian ….” Ritual persetubuhan juga menjadi salah satu ritual Bhairawa Tantra. Hal ini juga seperti jenis ritual lainnya yang menggambarkan sosok Kertanegara sebagai seorang pemabuk yang brutal.

Prof. Rasjidi juga menyebutkan bahwa setidaknya ada lima upacara penting yang menjadi ritus ajaran Bhairawa Tantra. Lima ritus ajaran tersebut sering disebut sebagai ‘mo limo’. Yakni, matsiya (makan ikan gembung beracun), manuya (makan daging manusia), madya (minuman keras), mutra (bersama gadis yang menari tarian erotis sampai ektase dan trance), dan maithuna (upacara persetubuhan masal).

Setelah Kertanegara, bangsawan dari Kerajaan Melayu, Adityawarman, tak ketinggalan menjadi pengikut aliran ini. Ia merupakan fanatis dalam melaksanakan ajaran Bhairawa. Munoz menyebut bahwa Adityawarman merupakan seorang pengamal Kalachakra yang ekstrim. Patung-patung Adityawarman meuwujudkan dirinya sedang menggenggam sebilah pisau pengorbanan dan berdiri di atas tengkorak-tengkorak. Adityawarman dalam manifestasi patung itu digambarkan sedang melaksanakan manuya. Komentar Munoz, “… tak ada yang lebih memuaskan Adityawarman selain menghirup asap yang keluar dari tempat pembakaran mayat dan dia kecanduan segala macam drugs.”

Pengaruh Adityawarman dirasakan begitu destruktif di Sumatera. Bhairawa Tantra telah membentuk suatu gaya hidup kanibalistik di Sumatera. Pengaruh tersebut dapat dilihat di Tanah Toba, Sumatera Utara. Ekspresi adat kuno Tantriisme di Sumatera terus berlangsung selama periode Indianisasi. Warisan kultural kanibalisme ini juga ditemukan di reruntuhan candi-candi Padang Lawas. Reruntuhan candi-candi itu memperlihatkan imaji Heruka, dewa Budhisme Vajrayana yang paling mengerikan. Dewa ini digambarkan tengah menari di atas tumpukkan mayat. Ritual ini juga telah membangkitkan prosesi pengorbanan manusia. Ia melibatkan aktifitas-aktifitas meminum darah dan memakan daging manusia.

Khatimah

Konsep India sebagai peradaban megah di Kepulauan Melayu merupakan rekaan dari sebagian orientalis. Demi kepentingan hegemoninya, orientalis sering menyingkirkan peran penting Islam sebagai saingan peradabannya. Gambaran pengaruh peradaban India di Kepulauan Melayu sebagai rekaan orientalis justru tidak terbukti. Peradaban India justru melahirkan bentuk peradaban kelam dan elitis. ‘Greater India’, dengan demikian, merupakan sebuah bentuk penjajahan tekstual, sebuah wacana kolonial. Ia melakukan campur tangan dalam menentukan inti peradaban asli di negeri jajahan.

Dakwaan Edward Said menjadi relevan di sini. Cendikiawan Eropa telah merancang kembali struktur dunia Timur melalui rekonstruksi sejarah. Gagasan ini diperkuat dengan meminjam suatu kebudayaan tertentu untuk menguasai kebudayaan yang lain. India merupakan sebuah mitos untuk meminggirkan kebudayaan pesaing Eropa. Mitos itu sering dijadikan simbol misi pengadaban yang sekaligus penjajahan.

 

*Ahda Abid al-Ghiffari, Penulis merupakan Alumni Ma’had ‘Aly Imam Al-Ghazaly Karanganyat dan kini menjadi seorang Guru Sejarah dan pengasuh di Pondok Pesantren At-Taqwa, Depok.

[Red : Tori Nuariza]

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: