Ilmu dan Peradaban

Dr. Budi Handrianto

[Peneliti INSISTS]

Saat ini, manusia didominasi oleh satu peradaban Barat modern yang berlandaskan pada paham sekularisme, rasionalisme, utilitarianisme, dan materialisme. Peradaban ini mendekatkan manusia ke ambang kehancuran. Memang tidak menutup mata berbagai keberhasilan dan kemajuan dihasilkan oleh peradaban ini. Namun juga tidak dapat di pungkiri peradaban modern ini juga telah menghasilkan penjajahan, perang berkepanjangan, ketimbangan sosial, kerusakan lingkungan, keterasingan (alienasi) dan anomie (berkurangnya adat sosial atau standar etika dalam diri individu atau masyarakat). Tidak terdapat keseimbangan dan ketertiban di masyarakat.

Ilmu yang berkembang di dunia saat ini berdasarkan pada rasio dan panca indera, jauh dari wahyu dan tuntunan Ilahi. Meskipun telah menghasilkan teknologi yang bermanfaat bagi manusia, Ilmu Barat modern telah pula melahirkan bencana baik kepada kemanusiaan, alam dan etika. Akibat paham materialisme maka terjadi penjajahan dan kolonisasi. Ribuan bahkan jutaan nyawa manusia melayang. Perbudakan terjadi dan kekayaan alam dieksploitasi. Harun Yahya dalam bukunya The Disasters Darwinism Brought to Humanity menggambarkan berbagai bencana kemanusiaan yang ditimbulkan akibat Darwinisme, di antaranya berupa rasisme dan kolonialisme. (Harun Yahya, Bencana Kemanusiaan Akibat Darwinisme, Jakarta : Global Cipta Publishing, 2002.)

Peradaban Barat modern sebagaimana ditulis oleh sejarawan Marvin Perry, adalah sebuah peradaban besar, tetapi sekaligus sebuah drama yang tragis (a tragic drama). Peradaban ini penuh kontradiksi. Satu sisi, ia memberi sumbangan besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang membuat berbagai kemudahan fasilitas hidup, tapi pada sisi lain peradaban ini memberi kontribusi yang tidak kecil kepada penghancuran alam semesta. (Marvin Perry, Western Civilization : A Brief History, Boston New York : Hough ton Mifflin Company, 1997, hlm. xxi.)

Dalam dunia kedokteran modern, misalnya, dikenal praktik vivisection (arti harfiah “memotong hidup-hidup”) yaitu cara menyiksa hewan hidup karena dorongan bisnis untuk menguji obat-obatan agar dapat mengurangi daftar panjang segala jenis penyakit manusia. Praktik ini selain tidak beretika keilmuan dan tidak “berperikemanusiaan” juga menyisakan pertanyaan intrinsik tentang asumsi atas tingkat kesamaan uji laboratorium hewan dan manusia yang mengesahkan eksplorasi hasil klinis dari satu ke lainnya. (Pietro Croce, Vivisection or Science : An Investigation into Testing Drugs and Safeguarding Health, London : Zed Books, 1999.).

Dunia pertanian modern yang sangat berlebihan dalam penggunaan bahan-bahan kimia seperti luasnya penggunaan pestisida, herbisida, pupuk nitrogen sintetis dan seterusnya, telah meracuni bumi, membunuh kehidupan margasatwa bahkan meracuni hasil panen dan mengganggu kesehatan para petani. Pertanian yang semula disebut dengan istilah agriculture (kultur, suatu cara hidup saling menghargai, timbal balik komunal, dan kooperatif, bukan kompetitif) berkembang lebih populer dengan istilah agribusiness, sebuah sistem yang memaksakan tirani korporat untuk memaksimalkan keuntungan dan menekan biaya, menjadikan petani/penduduk lokal yang dahulu punya harga diri dan mandiri lalu berubah menjadi buruh upahan di tanah sendiri. Kehidupan sosial yang kooperatif pun berganti menjadi kompetitif tanpa nurani. (Adi Setia, Three Meanings of Islamic Science Toward Operasionalizing Isla mization of Knowledge, Center for Islam and Science : Free online Library, 2007).

Ilmu tidak netral

Daftar kerusakan peradaban modern tersebut tentu saja masih panjang. Itu berakar dari konsep ilmu pengetahuan yang sudah terbaratkan itu (westernized) dan tersekulerkan. Dalam kaitan inilah, gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer (Islamization of Contemporary Knowledge) atau Islamisasi sains (Islamization of Science), masih sangat relevan dan mendesak. Gagasan ini tidak lepas dari konsep dasar ilmu menurut pandangan Islam.

Di antara syarat membahas Islamisasi ilmu pengetahuan yaitu menerima sifat bahwa ilmu itu tidak netral atau tidak bebas nilai (value free). Ilmu terikat dengan nilai-nilai tertentu (value laden) yang berupa paradigma, ideologi atau pemahaman seseorang. Suatu kenyataan yang janggal seseorang membahas Islamisasi ilmu pengetahuan namun ia berpendapat bahwa ilmu itu bebas nilai.

Ibn Taimiyyah mendefinisikan ilmu sebagai sebuah pengetahuan yang berdasar pada dalîl (bukti). Dalil yang di maksud bisa berupa penukilan wahyu dengan metode yang benar (al-naql al-mushaddaq), bisa juga berupa penelitian ilmiah (al-bahts al-muhaqqaq). Sedang yang dimaksud dengan “ilmu yang bermanfaat” adalah yang bersumber dari Rasulullah SAW: Sesungguhnya ilmu itu adalah yang bersandar pada dalil, dan yang bermanfaat darinya adalah apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Maka sesuatu yang bisa kita katakan ilmu itu adalah penukilan yang benar dan penelitian yang akurat. (Taqiy al-Din Ahmad ibn ‘Abd al-Halim ibn Taimiyyah, Majmû’ Fatâwâ Syaikh al-Islâm Ahmad ibn Taimiyyah, editor ‘Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Qasim al-’Ashimi al-Najdi al- Hanbali, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1418 H/1997 M, jilid 6, hlm. 388.)

Ibn Taimiyyah menegaskan, jika sesuatu yang dikatakan ilmu itu pada kenyataannya tidak berdasar pada dalîl seperti disebutkan di atas, maka ia ibarat sebuah tembikar yang terlihat bagus dari luarnya saja (khazaf muzawwaq). Maksudnya, kelihatan sebagai sebuah ilmu yang bagus tapi sebenarnya ia bukan ilmu. Atau kalau tidak, menurut Ibn Taimiyyah, yang disangka ilmu tersebut adalah sesuatu yang jelas-jelas batal (bâtil mutlaq), yakni bukan ilmu sama sekali. Di sini jelas bahwa dalam Islam, wahyu merupakan sumber ilmu. Sedangkan dalam pandangan Barat, wahyu tidak termasuk ilmu karena tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Di sinilah salah satu perbedaan yang menyolok antara definisi ilmu dalam Islam dengan ilmu dalam pandangan Barat. Sebagaimana sudah dikemukakan di depan, ilmu dalam pandangan Islam juga mensyaratkan telah diuji kebenarannya berdasarkan bukti-bukti yang kuat dan tidak hanya berdasarkan praduga atau asumsi. Dengan kata lain, ilmu memiliki kriteria yang dimiliki oleh sains sebagai pengetahuan yang sistematis dan terorganisasi.

Ilmu dalam pandangan Islam berbeda dengan sains dalam pandangan Barat. Sains Barat (atau menurut istilah Herman Suwardi disebut SBS – Sains Barat Sekular) hanya dibatasi pada bidang-bidang empiris-positivis sedangkan ilmu dalam pandangan Islam melampauinya dengan memasukkan tidak hanya bidang-bidang empiris, tetapi juga non-empiris, seperti matematika dan metafisika.

Sejak awal 1970-an, Prof. Syed Muham mad Naquib Al-Attas mengemukakan pandangan bahwa ilmu itu tidak bebas nilai. Pada tahun 1973, dia mengingatkan umat Islam mengenai hal ini di dalam bukunya berbahasa Melayu, Risalah untuk Kaum Muslimin : Kita harus mengetahui dan menyadari bahwa sebenarnya ilmu pengetahuan tidak bersifat netral; bahwa setiap kebudayaan memiliki pemahaman yang berbeda-beda mengenainya –meskipun di antaranya terdapat beberapa persamaan. Antara Islam dan kebudayaan Barat terbentang pemahaman yang berbeda mengenai ilmu, dan perbedaan itu begitu mendalam sehingga tidak bisa dipertemukan.

Ilmu telah diresapi elemen-elemen pandangan hidup, agama, kebudayaan, dan peradaban seseorang. Selain itu, se ring pendapat dan spekulasi yang merefleksikan unsur-unsur kepribadian, agama, dan kebudayaan dianggap sebagai ilmu pengetahuan. Dikatakan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak bebas nilai (neutral) karena ilmu adalah sifat manusia. Segala sesuatu yang berada di luar akal pikiran bukanlah ilmu pengetahuan, melainkan fakta dan informasi yang se muanya adalah objek ilmu pengetahuan.

Ilmuwan muslim yang lebih muda pun, seperti Ziaudin Sardar menyuarakan hal yang sama. Ia menyatakan, “Jika sains itu sendiri netral, maka sikap kita dalam mendekati sains itulah yang menjadikan sains itu sekular atau Islami. Pendekatan Islam mengakui keterbatasan otak dan akal manusia, serta mengakui bahwa semua ilmu pengetahuan itu berasal dari Tuhan.” (Lihat Hamid Fahmi Zarkasy, “Makna Sains Islam”, Majalah Islamia Volume III No. 4, 2008 hlm. 6.).

Akhirnya permasalahan ini dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan Islam, ilmu itu tidak bebas nilai. Se dangkan sains Barat atau sains modern yang saat ini berkembang di dunia Barat maupun di dunia Islam menyatakan bahwa sains itu netral atau bebas nilai. Pada kenyataannya, ilmu itu tidak bebas nilai karena ilmu dari waktu ke waktu mengalami naturalisasi, yaitu diadaptasi berdasarkan budaya, agama, paradigma dan cara pandang tertentu.

Ide islamisasi ilmu pengetahuan muncul dari premis bahwa ilmu pengetahuan kontemporer tidak bebas nilai (value-free), tapi sarat nilai (value laden). Ilmu pengetahuan yang tidak netral ini telah diinfus ke dalam praduga-praduga agama, budaya dan filosofis, yang sebenarnya berasal dari refleksi kesadaran dan pengalaman manusia Barat. Jadi, ilmu pengetahuan modern harus di-islamkan.

Mengislamkan ilmu bukanlah pekerjaan mudah seperti labelisasi. Selain itu, tidak semua dari Barat berarti ditolak, karena terdapat sejumlah persamaan dengan Islam. Oleh sebab itu, seseorang yang mengislamkan ilmu, perlu memenuhi pra-syarat, yaitu ia harus mampu mengidentifikasi pandangan-hidup Islam (the Islamic worldview) sekaligus mampu memahami peradaban Barat

Gagasan Islamisasi tidak bisa lepas dari peran pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas, sebagai penggagas awal ide Islamisasi ilmu pengetahuan. Al-Attas menurut Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud telah menemukan tiga di antara temuan ilmiah terpenting dunia Islam abad ini yaitu problem terpenting yang dihadapi umat Islam saat ini adalah masalah ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan modern tidak bebas nilai (netral), umat Islam perlu mengislamkan ilmu pengetahuan masa kini.

Penjelasan lebih gamblang tentang teori Islamisasi al-Attas telah dikompilasikan dalam karyanya berjudul Islam and Secularism dan dilanjutkan pada buku Prolegomena to The Metaphysics of Islam. Islamisasi menurut al-Attas adalah pembebasan manusia dari unsur magic, mitologi, animisme dan tradisi kebudayaan kebangsaan serta dari penguasaan sekular atas akal dan bahasanya.

Ini berarti pembebasan akal atau pemikiran dari pengaruh pandangan hidup yang diwarnai oleh kecenderungan sekular, primordial dan mitologis. Jadi Islamisasi ilmu pengetahuan adalah program epistemologi dalam rangka membangun peradaban Islam. Bukan masalah “labelisasi” seperti Islamisasi teknologi, yang secara peyoratif dipahami sebagai Islamisasi kapal terbang, pesawat radio, hand phone, internet dan sebagainya. Bukan pula Islamisasi dalam arti konversi yang terdapat dalam pengertian Kristenisasi.

Al-Attas mengemukakan idenya di depan umum dalam Persidangan Se dunia Pertama mengenai Pendidikan Is lam di Mekkah tahun 1977 yang dihadiri oleh 313 sarjana dan pemikir Islam dari seluruh pelosok dunia. Gagasan ini sekarang terus bergulir dan semakin berkembang di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

***Dimuat dalam Koran Republika rubrik ‘ISLAMIA’  Edisi Kamis, 21 Mei 2015

Sumber : http://republika.co.id/berita/koran/islamia/

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: