H.M Subchan ZE Dalam Kenangan

Telah berpulang keharibaaNya tepatnya tanggal 21 Januari 1973 beliau wafat tatkala mobil yang ditumpanginya dalam perjalanan dari Mekkah ke Madinah mengalami kecelakaan.

            Mas Subchan begitu kalangan muda biasa memanggilnya adalah seorang tokoh Islam yang meski tidak memiliki pendidikan tinggi formal, beliau mempunyai kemampuan intelektual yang cukup tinggi. Beliau sanggup berhujjah dalam pelbagai disiplin ilmu social dalam forum-forum seminar, symposium atau panel diskusi. Dengan penuh keyakinan diri beliau menghadapi tokoh-tokoh intelektual lain, seperti halnya Dr.Umar Kayam yang sosiolog, Mas Subchan berhujjah tentang sosiologi, dengan Dr, Sumarlin yang ekonom, Mas Subchan berdebat soal ekonomi, dengan Ali Murtopo berdikusi panel tentang politik. Dalam semua penampilanya senantiasa menimbulkan kebanggaan belaka di hati para pemuda Islam, kebanggaan yang bermakna.

            Kadang-kadang timbul pertanyaan di hati bagaimana Mas Subchan mempersiapkan diri menghadapi forum-forum ilmiah, kapan baca bukunya ?, bukankah beliau senantiasa dilanda kesibukan sebagai seorang politisi

“ inilah perbedaan diantara kita dengan intelektual lain, oleh karena penjiwaan kita kepada ajaran Islam kita mampu menangkap himmah dari ilmu pengetahuan, sedang mereka hanya mampu menguasai sistem dan metodenya saja tapi tak mampu menangkap himmahnya !”

            Sekitar bulan November 1972, selaku ketua 1 PB HMI, saya menghadiri malam silaturahmi Idul Fitri yang diadakan HMI Rayon Menteng bertempat di Gedung stania jalan teuku tjik ditiro Jakarta. Beliau berbaju safari lengan pendek warna begie, sapu tangan coklat tua tersembul dari sela-sela saku bajunya. Lalu Mas Sucbhan maju ke atas panggung untuk berpidato. Selesai berpidato mas Subchan kembali ke tempat duduknya, saya duduk di sebelah beliau, sementara itu music menghibur hadirin. Tiba-tiba Mas Subchan bertanya berapa usiaku , saya jawab 30 tahun.

“ Dengarkan Ridwan, ini pengalaman saya jikalau usia masih dibawah 40 tahun giatlah bekerja, giatlah beramal tekunlah berjuang, sebab apabila usia sudah 40 tahun akan terasa stamina mulai mengendor.”

            Omongan kami terhenti karena pembawa acara mendaulat mas subchan untuk bernyanyi, hadirin riuh bertepuk tangan dan ternyata mas subchan memenuhi permintaan mereka. Sebuah lagu dinyanyikannya, lagu yang tengah top hit waktu itu : “Love Story”, sebuah lagu yang dipetik dari film senamadan berasal dari novel yang ditulis Erich Siegel. Mas Subchan menyanyikan lagu tersebut dengan baik.

            Tak kuduga, itulah pertemuanku yang terakhir dengan mas Subchan.

ditulis oleh Ridwan Saidi di Panji Masyarakat, no.317, 11 Maret tahun 1981

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: