Menjabarkan dan Mengkritik Westernisasi dalam Buku Misykat

 

Judul Buku Misykat : Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi, dan Islam
Penulis Hamid Fahmy Zarkasyi
Editor M. Anwar Djaelani
Tebal i-xxx+302 halaman
Penerbit Penerbit INSSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) dan MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia)
Cetakan Cetekan Kedua (Oktober 2012)
ISBN 978-602-19985-0-2

 

Oleh : Muh. Reza Santirta   [Penggiat Studi Wawasan Islam]

Buku ini merupakan hasil refleksi pemikiran oleh Hamid Fahmy Zarkasyi tentang ideologi Barat yang kini semakin merajalela. Ideologi Barat telah masuk ke dalam setiap aspek kehidupan masyarakat seperti di dunia akademik, politik, ekonomi, hukum, hingga tidak tertinggal pula dalam bidang keagamaan. Menurut Hamid, buku ini ditulis berdasarkan realita dalam kehidupan masyarakat yang semakin tidak terlepas dari paham Barat. Semua paham yang kini tersebar seperti liberalisme, kapitalisme, individualisme, demokrasi, hingga pluralisme; dikritik dengan tinjauan sudut pandang Islam. Hal tersebut berbeda dari beberapa intelektual muslim yang meninjau hukum Islam dari sudut pandang/paradigma Barat seperti disampaikan di atas.

Bahkan kritik tersebut ditulis dalam bentuk wacana ilmiah. Meskipun begitu, diperlukan juga wacana yang dapat menjangkau masyarakat luas. Hal tersebut bertolak dari persebarannya yang menjangkau masyarakat luas seperti mahasiswa dan tokoh masyarakat melalui opini di media massa dan jejaring media sosial. Menurutnya, persebaran paham Barat yang semakin meluas hingga ke dalam setiap lini masyarakat, menyebabkan terpecahnya umat Islam. Akibatnya, umat Islam terpecah menjadi beberapa sikap, diantaranya: (1) mereka yang ingin kembali pada masa lalu, (2) melahirkan sikap keras dengan menentang secara fisik, dan (3) menolak mentah-mentah segala sesuatu yang datang dari Barat (Zarkasyi, 2012: xxii). Namun, sikap tersebut menyebabkan kurangnya pemahaman terhadap modernitas dan tidak mampu menaklukkan kesalahpahaman dan ketidak mampuan tersebut. Hal tersebut, menurut Daryush, dipicu oleh kurangnya kajian filosofis agar dapat menangkal setiap pengaruh Barat tersebut.

Wacana populis sangat penting untuk merespon paham Barat yang semakin gencar tersebut. Penulisan opini dan wacana yang komunikatif, dapat dibuktikan dari buku karya Zarkasyi ini. Buku ini merupakan kumpulan artikel beberapa respon Zarkasyi yang telah dimuat di beberapa surat kabar. Beberapa diantaranya Republika, Sabili, Suara Hidayatullah, ISLAMIA, Azzikra, dan lain-lain. Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang sederhana dan komunikatif. Hal ini dilakukan agar kritik ini bisa dipahami masyarakat secara meluas. Penulis yang merupakan cucu dari pendiri pesantren Gontor, KH. Abdullah Zarkasyi, mempunyai kedalaman pengetahuan terhadap paham Barat. Hal itu dapat diketahui dari tulisannya yang mampu menjelaskan segala aspek ideologi Barat seperti sejarah, misi, ideologi/paham, gaya hidup, taraf intelektual, hingga keyakinan bangsa Barat. Selain itu, bahasa sederhana dan komunikatif dapat dibuktikan dari setiap tulisan dalam buku ini.

Selain masalah paham Barat, buku ini juga memaparkan tentang kritik peradaban bangsa Barat. Peradaban yang meliputi Amerika Serikat dan Eropa Barat mempunyai pengaruh yang sangat besar karena proyek-proyek mereka yang dapat memengaruhi pemikiran masyarakat dunia. Hegemoni Barat yang semakin gencar dengan proyek ideologi mereka dapat membuktikan kekuasaan mereka atas dunia. Kritik tersebut juga meninjau dari segi eksistensi peradaban Barat yang semakin menguat. Hal tersebut dapat ditinjau dari sejarah istilah Barat dan Timur. Pengaruh kolonialisme dalam berbagai bentuk juga dapat dijelaskan dalam buku ini. Zarkasyi dapat memaparkan pengaruh peradaban Barat dan persebarannya dalam buku ini secara meluas.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi masyarakat dan mahasiswa yang ingin memahami pengaruh Westernisasi terhadap dunia Timur. Segala aspek seperti agama, gaya hidup, politik, sosial, ekonomi, dan lain-lain; tidak luput dari pengaruh Barat. Pola pikir yang cenderung bebas dan tidak mengindahkan aspek agama, penting untuk dipahami melalui buku ini. Sebagaimana dikatakan oleh kelompok cendekiawan muslim yang cenderung tertarik pada dunia Barat, sekulerisme adalah sistem terbaik dunia untuk mengatur segala aspek kehidupan.

Untuk itu, Zarkasyi mengkritik cara pandang tersebut dalam buku yang memiliki judul Misykat ini. Berdasarkan makna, kata Misykat ini merupakan istilah yang berasal dari Al-Quran Surah An-Nur ayat 35 (Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar). Sebagaimana ditafsirkan oleh al-Qurtubi dan as-Syaukani, misykat dapat dimaknai sebagai lubang kecil dalam rumah seperti jendela kecil yang memantulkan cahaya. Sesuai judulnya, penulis berharap agar dapat mengungkapkan apa yang selama ini selalu ditutup-tutupi. Buku ini juga mengkritik konsep yang diapresiasi dan mengapresiasi konsep yang dikritik seseorang.

 

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: