Dari Puncak Baghdad: Sejarah Dunia Versi Islam karya Tamim Anshary

Buku ini berisi tentang ulasan sejarah ditinjau dari perkembangannya di dunia Islam. Buku ini ditulis sebagai wacana tandingan terhadap dunia Barat (Amerika Serikat dan Eropa) yang selalu memandang sejarah dunia dari versi mereka. Barat selalu memulai dari sejarah Mesir Kuno dan Mesopotamia (Kelahiran Peradaban), Kelahiran Yunani dan Romawi (Zaman Klasik), Kebangkitan Kristen (Zaman Kegelapan/Abad Pertengahan), Rennaisans dan Reformasi (Kelahiran Kembali), Penjelajahan dan Ilmu Pengetahuan (Pencerahan/Aufklarung), Revolusi (Demokrasi, Industri, Teknologi), Bangkitnya Negara Bangsa (Perjuangan Demi Kerajaan), Perang Dunia I dan II, Perang Dingin, hingga Kapitalisme Demokratik. Namun, Tamim memandang sejarah dari pandangan Islam yang dimulai dari Zaman Kuno (Mesopotamia dan Persia), Lahirnya Islam (melalui syiar Rasulullah Muhammad SAW), Kekhalifahan, Perpecahan (Zaman Kesultanan), Bencana (Perang Salib dan Mongol), Kelahiran Kembali (Era Kelahiran Kekaisaran), Pembebasan Timur oleh Barat, Gerakan Reformasi, Kemenangan Reformis Sekuler, hingga Reaksi Islamis. Semua ditulis sebagai wacana tandingan terhadap hegemoni Barat.

Tamim Anshary merupakan seorang muslim asal Pakistan yang sejak awal tertarik pada sejarah. Ia juga dikenal sebagai dosen pada sebuah universitas di Amerika Serikat bidang Ilmu Sejarah. Dengan kedekatannya bersama kalangan pendidik di Amerika Serikat, ia ingin membuat buku yang mempunyai pandangan berbeda. Hal ini dikarenakan adanya buku-buku sejarah di Amerika Serikat yang memberi genealogi sejarah yang tidak berimbang. Adanya politik hegemoni Barat yang memungkinkan adanya pemahaman sejarah yang selalu menonjolkan citra dunia Barat. Dunia Tengah selalu berkaitan dengan dunia Peradaban Islam. Sedangkan Mesopotamia selalui berkaitan dengan dunia Barat. Hal itu dipengaruhi oleh hubungan antar keduanya yang dibatasi oleh laut Mediterania.

Dunia Mediterania selalu dikaitkan oleh Laut Mediterania selaku penghubung antar masyarakat yang mengkonstruksi Peradaban Barat. Eropa (Spanyol, Perancis, Jerman, Italia, Yunani), Asia Kecil (Byzantium), Laut Hitam, Antiokia, Mesir, dan Kartago terhubung satu sama lain lewat jalur Laut Mediterania. Jalur tersebut sudah berusia kuno, tetapi terus dipergunakan hingga di abad modern. Lewat interaksi yang intens, di antara masyarakat yang melakukan perhubungan lewat laut tersebut, tumbuhlah Peradaban Barat. Peradaban-peradaban yang tumbuh di masing-masing wilayah jalur Mediterania tersebut kerap diacu sebagai kesalahan perceritaan sejarah versi Barat. Hal itu dibuktikan oleh pencitraan sejarah Barat yang politis.

Dunia Tengah mengandalkan jalur darat sebagai basis perhubungan. Kawasan ini berkisar dari Byzantium yang paling barat hingga Cina yang paling Timur. Dari Laut Hitam dan Kaspia di bagian paling utara hingga India dan Laut Arab di sebelah selatan. Jalur Sutera ada di dalam dunia ini. Jalur Sutra inilah yang menjadi sumbangan penting bagi peradaban dunia melalui jalur darat.

Buku ini menjelaskan tentang permulaan terbangunnya peradaban besar dunia Islam. Mulanya dimulai dari kekhalifahan besar yang dipimpin oleh empat sahabat Nabi. Para sahabat itu antara lain Abu Bakar ra., Umar bin Khathab ra., Utsman bin Affan ra., hingga Ali bin Abi Thalib ra. Mereka semua meneruskan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang membawa dunia Islam pada kemajuan. Kekuasaan mereka digantikan oleh masa kekhalifahan Umayyah (737-1095 M) yang dibagi menjadi tiga wilayah kekuasaan yaitu Cordoba, Dinasti Fathimiyah yang berkuasa dari Jazirah Arab bagian selatan di timur hingga sebagian Maroko di barat, dan Dinasti Abbasiyah yang menguasai sebagian besar jazirah Arabia di timur hingga Bukhara di barat.

Selanjutnya masa Kekhalifahan mereka mengalami kekacauan akibat invasi Pasukan Mongol pada tahun 1081-1381 M. Kekhalifahan mereka juga disertai oleh adanya Perang Salib pada tahun 1263-1600 M. Saat itu Eropa tengah berada dalam Era Kegelapan akibat perseteruan kuasa Raja versus kuasa Gereja. Setelah kaum Mongol menginvasi wilayah Dunia Islam, pada perkembangannya justru para jenderal dan pimpinan Mongol yang berkonversi menjadi Islam. Misalnya Berkhe, Jenderal Mongol yang menguasai Persia berkonversi menjadi Islam sehingga dikatakan ia pun membangun peradaban Islam juga. Bahkan, anak Hulagu (penakluk Baghdad) pun turut berkonversi menjadi Islam. Dinasti yang berkembang di Persia adalah Safawi yang berkisar antara 906 – 1138 . Juga Dinasti Moghul di India dan Afghanistan pada 900 – 1273. Dengan demikian menjelang masa renaisans ini, Dunia Islam kembali ditandai oleh berkuasanya 3 dinasti besar yang hidup satu waktu: Dinasti Utsmani, Dinasti Safawi, dan Dinasti Moghul.

Di masa itu berlanjut dengan adanya penaklukkan Benteng Konstantinopel (1453 M), benteng paling kuat di masa itu. Benteng milik Romawi Timur itu terletak di wilayah Konstantinopel yang setelah ditaklukkan menjadi Istanbul. Wilayah ini berada di pinggir selat Bosporus atau laut Mediterania yang menghubungkan dunia Tengah dan daratan Mediternia sebagai representasi dunia Barat. Benteng itu awalnya sulit ditaklukkan karena dilindungi oleh bukit yang terjal dan adanya perlindungan pasukan yang kuat. Akhirnya benteng itu sulit ditembus. Namun berkat kepintaran dan keimanan Muhammad Al-Fatih, benteng tersebut berhasil ditaklukkan. Muhammad Al-Fatih merupakan seorang panglima perang muda yang naik tahta pad tahun 1452 M. Setelah benteng tersebut dikuasai, wilayah Konstaninopel berubah nama menjadi Istanbul dan masyarakat di wilayah itu dikonversi ke dalam Islam. Wilayah itu dianggap strategis karena berbatasan antara Asia dengan Eropa yang mana mereka dapat menyebarkan Islam di wilayah-wilayah itu.

Setelah Konstantinopel ditaklukkan, hasil-hasil kekayaan alam tidak dapat dikuasai Eropa. Hal itulah yang mendorong terjadinya kolonialisme. Kolonialisme ini dipengaruhi oleh ideologi kapitalisme yang dimotivasi oleh semangat ajaran Calvinis dan tumbuh subur setelah reformasi Protestan Martin Luther. Karena tidak dapat menempuh jalur Mediterania dan jalur darat untuk mendapatkan hasil kekayaan alam di Cina, mereka harus dapat merebut emas yang kaya di wilayah Amerika, budak yang bisa diperoleh di Afrika, hingga melintasi Tanjung Harapan menuju Timur Laut dan memperoleh rempah-rempah di Nusantara. Hubungan antara bangsa Barat dengan bangsa jajahan bukanlah teman melainkan musuh karena mereka menggelorakan misi agama, kekuasaan, dan kekayaan. Bangsa barat dianggap sukses menguasai karena kemampuan diplomasi dan kerjasama ekonomi. Hal itu didukung oleh kekayaan seperti uang, emas, dan perak yang dapat mendorongnya memengaruhi dunia Tengah. Budaya korupsi dan nepotisme yang terjadi di lingkungan Kekhalifahan Utsmani dapat menjadi pintu masuk bagi invasi dunia barat. Cukup dengan diplomasi atau kerjasama dengan bangsa Barat, Kekhalifahan Utsmani dapat dipengaruhi. Hal itu yang menyebabkan jatuhnya Kekhalifahan Utsmani pada tahun 1924 M. Hal itu pula yang menyebabkan kelemahan di dunia Islam.

Jadi, buku ini mencoba menjelaskan tentang sejarah secara umum dalam pandangan seorang intelektual muslim. Buku ini merupakan sebuah garis besar peradaban dunia versi Islam yang merepresentasikan Dunia Tengah dalam peta dunia.

Oleh Muhammad Reza Santirta [Penggiat Studi Wawasan Islam]

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: