Kemerdekaan Manusia\ Bagian 3

Ternyata daripada hal yang tersebut di atas, bahwa seorang yang memandang tindakan orang lain dengan kaca mata determinisme dan mengatakan bahwa tindakan orang tersebut akibat faktor-faktor yang tertentu, ia sendiri tak mau dikatakan bahwa ia bertindak sebagai faktor-faktor yang tertentu sebab ia merasa bahwa ia mempunyai semacam kemerdekaan dalam dirinya.

Kita dapat melihat kepada masalah kemerdekaan ini dengan kaca mata yang terang, bahwa tindakan moril kita ini mempunyai sebab, akan tetapi sebab itu bukan sebab yang yang bersifat fisik, akan tetapi sebab-sebab yang bersifat kejiwaan.

William Temple dalam bukunya “Nuture, Man and God” mengatakan bahwa kemerdekaan tidak berarti tidak adanya determinisme (hal-hal yang menentukan). Kemerdekaan berarti determinisme yang bersifat spiritual, berlainan dengan determinisme yang bersifat mekanis dan organis.

Kemerdekaan ialah determinisme yang disebabkan oleh apa yang dianggap baik, bukan determinisme yang dipaksakan oleh faktor-faktor yang tak dapat ditolak. Adapun yang menyebabkan tafsiran kemerdekaan ini sulit ialah faktor-faktor itu tidak merupakan satu macam tetapi sering sekali bermacam-macam.

Niebhur berkata dalam bukunya yang berjudul “His Religious Social and Political Thought” bahwa dalam alam kejadian-kejadian kemanusiaan dan sejarah, kejadian-kejadian tersebut terikat dalam rangkaian sebab musabab. Manusia terlibat dalam kejadian-kejadian itu sebagai salah satu dari sebab dan ia mempunyai kemerdekaan yang menjadikan kemerdekaannya/pekerjaannya tidak dapat diramalkan lebih dahulu walau ia mempunyai hubungan yang erat dengan kejadian-kejadian tersebut di atas.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: