Kemerdekaan Manusia\ Bagian 3

Arti Keagamaan Tentang Kemerdekaan

Dalam menyelidiki lebih lanjut tentang arti kemerdekaan manusia dalam tindakan-tindakannya kita dapat merasakan pentingnya kemerdekaan tersebut dalam menyelidiki kebenaran dalam agama.

Kemerdekaan manusia telah merobohkan anggapan tentang adanya system yang tertutup dalam alam fisik.
Dengan menganggap bahwa adanya kemerdekaan, kita dapat atr memahami arti dunia ini jiwa merupakan suatu sebab yang lebih besar artinya daripada sebab fisik oleh karena jiwa dapat memberikan dasar untuk tafsiran. Kita beranggapan bahwa dunia ini ada yang mengatur oleh karena kita dapat merasa dalam diri kita sendiri pengaruh kemauan yang dapat mengatur hal-hal yang kecil yang dibawah kekuasaan kita.

Lebih jauh kita yakin akan adanya kemerdekaan dalam diri sendiri lebih dekat kita akan percaya bahwa Tuhan bersifat personal.

Di samping itu, kemampuan manusia untuk menetapkan sesuatu hal merupakan suatu batasan bagi berlangsungnya kekuasaan Tuhan, seakan-akan Tuhan telah menyediakan suatu makhluk yang mempunyai kemampuan untuk menentangnya. Pertanggungan jawab manusia yang maha dahsyat bahwa manusia hidup dalam dunia dengan rasa kemerdekaan yang riil dan yang tak dapat ditundukkan. Dalam lingkungan batas-batas kemanusiaan, manusia dapat menentang Tuhan; kita tak dapat memetik matahari dari langit atau memadamkan bintang-bintang, akan tetapi kita dapat berpaling dan menganggap seolah-olah Tuhan tidak ada.

Anggapan bahwa kemerdekaan itu adalah sari personality seseorang akan menentukan kita bagaimana kita harus memperlakukan orang lain. Oleh karena hidup Tuhan merupakan kemerdekaan yang sempurna maka Tuhan itu melakukan sesuatu hal dengan cara menyakinkan dan tidak dengan cara pakasaan, yaitu dengan menghormat, kemerdekaan kita yang sangat terbatas ini.

Bahwa Tuhan melakukan sesuatu seruan dengan menyakinkan adalah suatu hal yang menjadi buah pikiran keagamaan dalam dunia Barat yang modern. Ahli keagamaan Barat mengatakan bahwa tak ada paksaan dari Tuhan; hal ini telah berakibat adanya prinsip moralitas yang menggambarkan kita sebagai orang yang merdeka yang memperlakukan orang lain sebagai orang merdeka pula.

Ahli filsafat Immanuel Kant tentang akhlak yang biasa disebut Categorical Imperative adalah “bertindak dan perlakukanlah tiap-tiap orang sebagai manusia dan sesama anggota daripada masyarakat manusia”.

Akhirnya kita tutup pembicaraan tentang kemerdekaan ini dengan menyatakan, bahwa kemerdekaan itu tak akan berarti kecuali kalau kita memandangnya dengan kaca mata yang dipengaruhioleh wujud dan watak Tuhan.

Kita merdeka dan kemerdekaan kita itu merupakan suatu pengambilan dari sifat Tuhan. Walaupun manusia merdeka sebagaimana Tuhan merdeka, tetapi kemerdekaan manusia tak dapat membuat orang lain yang merdeka. Manusia dapat mempunyai mesin, akan tetapi mesin itu alat. Hanya Allah Yang Maha Esa dan Kuasa saja yang membuat manusia yang merdeka, merasa dalam diri kita sendiri pengaruhnya kemauan yang dapat mengatur hal-hal yang kecil di bawah kekuasaan kita.

Diambil dari Buku “Pandangan Para Ahli Pikir Tentang Ikhtiar dan Takdir”

Diterbitkan oleh PT. Bina Ilmu, Surabaya, 197

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: